Semua Orang Bilang Anak Muda Harus Bertani, Tapi Siapa yang Menyiapkan Jalannya

Petikhasil.id, BANDUNG — Hampir semua orang sepakat soal ini: pertanian butuh anak muda. Pemerintah mengatakannya, organisasi internasional mengulanginya, dan banyak forum pembangunan menjadikannya tema besar. Masalahnya, anak muda tidak bisa masuk ke pertanian hanya dengan ajakan. Mereka butuh jalan masuk yang nyata, masuk akal, dan cukup menarik untuk dijalani. Di sinilah masalah regenerasi petani di Indonesia masih terasa belum selesai. BPS mencatat jumlah petani milenial usia 19–39 tahun hanya 6.183.009 orang, atau sekitar 21,93 persen dari total petani Indonesia.

Angka itu penting dibaca pelan-pelan. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia. Pada Februari 2026, BPS mencatat sektor ini menampung 42,49 juta orang, atau 28,78 persen dari total penduduk bekerja. Jadi persoalannya bukan karena pertanian kecil atau tidak relevan. Justru sebaliknya, sektor ini sangat besar, tetapi makin sulit menarik generasi baru untuk masuk dan bertahan.

Baca Lainya: Saat PHK Ramai, Pertanian Masih Diam-diam Menjadi Penyangga Kerja Terbesar | NTP Naik, Kenapa Petani Belum Tentu Lebih Tenang

Pertanian masih besar, tetapi anak muda tetap ragu masuk

Kalau dilihat dari daya serap kerja, pertanian seharusnya masih menjadi ruang yang sangat penting bagi anak muda Indonesia. Namun di lapangan, banyak anak muda tetap memandang pertanian sebagai pilihan terakhir. Bukan sedikit yang merasa sektor ini terlalu berat, terlalu kotor, terlalu lambat, atau terlalu jauh dari bayangan hidup modern. Pandangan seperti itu terus tumbuh karena banyak anak muda lebih sering melihat pertanian sebagai kerja fisik di lahan, bukan sebagai ekosistem usaha yang juga mencakup teknologi, logistik, pascapanen, pemasaran, dan pengolahan hasil.

Masalah ini bahkan sudah diakui pemerintah. Pada Oktober 2025, pemerintah menyebut krisis regenerasi petani sebagai ancaman serius bagi keberlanjutan sektor pertanian dan ketahanan pangan nasional. Pernyataan itu menegaskan bahwa rendahnya keterlibatan generasi muda bukan lagi isu pinggiran, melainkan persoalan strategis.

Ajakan bertani tidak cukup kalau aksesnya tetap sempit

Di sinilah letak kritik yang perlu disampaikan. Kita terlalu sering mendorong anak muda masuk ke pertanian, tetapi terlalu jarang menyiapkan tangga yang jelas untuk mereka. Ajakan selalu ada, tetapi akses lahannya belum tentu ada. Pelatihan sering digelar, tetapi pasar belum tentu terbuka. Teknologi sering dipamerkan, tetapi pembiayaan awal masih terasa jauh. Akibatnya, pertanian terdengar penting di atas panggung, tetapi tetap terasa berat saat dijalani dari nol.

FAO Indonesia sendiri secara terbuka menyebut ada kesenjangan generasi di sektor pertanian dan mendorong peningkatan minat pemuda untuk berkarier di bidang ini. Dalam program pelatihan sistem pertanian inovatif yang mereka jalankan bersama pemerintah Indonesia, FAO menekankan perlunya mengatasi jurang regenerasi dan mendorong anak muda menjadi katalis perubahan dalam sistem pangan. Artinya, bahkan dari sudut pandang lembaga internasional, masalah utamanya bukan sekadar kurang semangat, tetapi belum cukup kuatnya jembatan antara pemuda dan peluang nyata di pertanian.

Program ada, tetapi skalanya masih terlalu kecil dibanding masalahnya

Upaya mendorong regenerasi memang sudah berjalan. Kemenpora dan FAO, misalnya, menggelar Farmers’ Regeneration Summit pada Desember 2025 sebagai bagian dari program Petani Keren. Program itu mendorong keterlibatan anak muda dalam pertanian inovatif dan kewirausahaan. FAO juga menyebut modul program tersebut telah melatih 100 anak muda usia 17–35 tahun dari berbagai daerah di Indonesia, dan sebagian dari mereka kemudian tumbuh menjadi agripreneur.

Namun kalau dibandingkan dengan skala persoalannya, angka itu masih sangat kecil. Di satu sisi, pertanian menyerap puluhan juta tenaga kerja dan menghadapi tantangan regenerasi yang serius. Di sisi lain, program-program yang benar-benar mendampingi anak muda secara intensif masih terbatas jumlahnya. Ini bukan untuk meremehkan program yang ada, melainkan untuk menegaskan bahwa Indonesia belum bergerak secepat kebutuhan di lapangan.

Anak muda butuh melihat pertanian sebagai masa depan, bukan cadangan

Salah satu masalah terbesar ada pada cara kita membingkai pertanian. Selama ini, pertanian sering diposisikan sebagai cadangan ketika pekerjaan lain tidak ada. Narasi seperti itu membuat sektor ini kalah wibawa sejak awal. Padahal, dalam banyak konteks, pertanian justru lebih tahan terhadap guncangan dibanding sektor lain karena berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar manusia: pangan.

FAO pada 2025 juga menyoroti bahwa lebih dari 20 persen pemuda berada dalam kondisi tidak bekerja, tidak sekolah, dan tidak mengikuti pelatihan, dan bahwa mempersempit kesenjangan kerja pemuda di sektor agrifood dapat memberi dampak ekonomi besar secara global. Pesan ini penting untuk Indonesia. Pertanian tidak seharusnya dipandang sebagai dunia lama yang ditinggalkan, tetapi sebagai salah satu ruang paling masuk akal untuk membangun kerja yang produktif, terutama ketika ekonomi formal makin tidak selalu stabil.

Yang dibutuhkan adalah jalan masuk yang realistis

Kalau ingin jujur, anak muda tidak akan masuk ke pertanian hanya karena diminta cinta tanah atau diminta kembali ke desa. Mereka akan masuk jika melihat ada model hidup yang mungkin dibangun di sana. Itu berarti negara, kampus, swasta, koperasi, dan komunitas harus bersama-sama menyiapkan pintu masuk yang realistis.

Pintu masuk itu bisa berupa magang berbayar di kebun dan greenhouse, akses ke lahan garapan skala kecil, inkubasi usaha tani yang benar-benar berjalan, skema pembiayaan awal yang ringan, kontrak pasar yang lebih jelas, sampai pendampingan pascapanen dan pemasaran digital. Tanpa itu, pertanian akan terus terdengar penting di forum, tetapi tetap sulit dipilih dalam kehidupan nyata.

Baca Lainya: Saat PHK Ramai, Pertanian Masih Diam-diam Menjadi Penyangga Kerja Terbesar | NTP Naik, Kenapa Petani Belum Tentu Lebih Tenang

Misi pertanian modern tidak bisa berhenti di slogan

Petik Hasil selama ini melihat pertanian bukan hanya sebagai urusan tanam dan panen, tetapi juga soal martabat, keberlanjutan, dan masa depan hidup yang produktif. Karena itu, isu regenerasi petani seharusnya dibaca dengan lebih dalam. Masalahnya bukan pada anak muda yang dianggap malas turun ke lahan. Masalahnya ada pada sistem yang terlalu lambat membuktikan bahwa pertanian hari ini bisa modern, bernilai ekonomi, dan layak dijadikan jalan hidup.

Pada akhirnya, semua orang memang boleh bilang anak muda harus bertani. Tetapi pertanyaan yang lebih penting tetap sama: siapa yang menyiapkan jalannya. Kalau jalannya tetap sempit, mahal, dan penuh kabut, maka pertanian akan terus kehilangan generasi baru, meski semua orang mengaku sepakat bahwa sektor ini adalah penyangga masa depan pangan Indonesia. (Vry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *