Petikhasil.id, LEMBANG — Bagi petani hortikultura, panen tidak selalu identik dengan lega. Ada masa ketika hasil kebun justru datang bersamaan dengan cemas. Harga jatuh, pasar lesu, dan modal yang sudah tertanam di lahan tak kunjung kembali. Di tengah situasi seperti itu, yang paling terpukul bukan hanya angka di pembukuan, tetapi juga mental petani yang harus kembali memikirkan musim tanam berikutnya.
Ketika tomat tak laku dan modal tak kembali
Kiki Supriatna dari Kelompok Tani Budi Rahayu di Cibodas, Lembang, bercerita kepada Petik Hasil bahwa ia dan kelompoknya pernah menelan kerugian sangat besar dari komoditas tomat. Waktu itu, harga tomat hanya berada di kisaran Rp200 hingga Rp300. Di tengah modal yang besar, harga serendah itu membuat kerugian mereka mencapai ratusan juta rupiah.
“Nah, itu memang yang akhirnya kadang membuat mental petani itu drop,” ujar Kiki.
Bagi petani, pukulan semacam ini bukan hanya soal rugi satu kali jual. Ketika modal tidak kembali, musim tanam berikutnya ikut terancam. Petani tetap harus membeli pupuk, menyiapkan lahan, membayar tenaga kerja, dan memikirkan kebutuhan rumah tangga. Dalam kondisi itulah, tak sedikit yang akhirnya terpaksa berutang ke bank untuk bisa menanam lagi.
Baca Lainya: Dari Gengsi Jadi Petani Kiki Supriatna Kini Kirim Letus Lembang ke Taiwan | Dari Hotel ke Lahan Sayur Lembang, Petani Muda Ini Menemukan Masa Depan Pertanian Modern
Petani mulai belajar menentukan pasar lebih dulu
Pengalaman pahit itu kemudian mendorong Kiki dan kelompoknya mengubah cara bermain. Mereka mulai melihat bahwa bertahan di hortikultura tidak cukup hanya menanam dan menunggu panen. Petani harus lebih dulu menyiapkan pasar sebelum benih masuk ke tanah.
“Sekarang ya sebelum kita menanam kita sudah harus tentuin dulu ke mana marketnya,” kata Kiki kepada Petik Hasil.
Dari sana, Kelompok Tani Budi Rahayu mulai memutus ketergantungan pada pasar induk dan tengkulak. Mereka mencari pasar sendiri, menawarkan sampel ke supermarket dan perusahaan sayur online, lalu menyesuaikan pola tanam dengan kebutuhan pasar yang sudah dibaca sejak awal. Bagi mereka, jaminan pasar jauh lebih penting daripada sekadar berharap harga bagus saat panen tiba.
Langkah ini juga lahir dari pengalaman pahit ketika hasil panen dibayar tidak sesuai jumlah yang dijual. Kiki mengisahkan bahwa petani kadang mengirim 5.000 pohon, tetapi yang dibayar hanya 4.000. Ada pula yang menjual per ton, tetapi pembayaran tidak sesuai dengan volume yang dikirim. Kerugian seperti ini membuat petani rugi dua kali: rugi waktu dan rugi uang.
Letus dipilih sebagai jalan yang lebih aman
Untuk mengurangi risiko itu, Budi Rahayu membangun pasar di Bandung, Jakarta, hingga jaringan sayur online. Salah satu komoditas yang paling mereka andalkan adalah letus. Menurut Kiki, letus relatif cepat panen, mudah diatur nutrisinya, dan punya pasar yang luas, termasuk untuk kebab, salad, dan kebutuhan ekspor.
Dalam kondisi harga lokal jatuh, mereka juga memanfaatkan ekspor sebagai cara menyelamatkan petani. Kiki menuturkan bahwa pada Agustus lalu mereka mengirim sekitar 200 sampai 300 ton letus ke Taiwan. Menurutnya, ekspor bukan semata urusan kebanggaan, tetapi strategi agar hasil panen tidak dibuang ketika harga domestik terlalu rendah.
Langkah ini penting, karena fluktuasi harga sayuran di Indonesia masih sangat tajam. Kiki menggambarkannya seperti bermain lotre. Kadang petani untung, kadang rugi besar. Harga letus, menurut dia, saat drop bisa hanya Rp500 per pohon atau sekitar Rp3.000 per kilogram. Tetapi ketika sedang tinggi, harganya bisa melonjak hingga Rp40.000 sampai Rp45.000 per kilogram.
Di tengah fluktuasi, petani terus mencari cara bertahan
Fluktuasi seperti ini membuat petani sulit benar-benar tenang. Musim panas memang lebih nyaman untuk budidaya letus, tetapi justru di saat itu harga domestik sering murah. Musim hujan membuat tantangan budidaya lebih berat karena tanaman sulit membentuk crop, ukuran kecil, dan lebih mudah busuk. Di tengah dua tekanan itu, petani harus terus mencari celah agar tetap bertahan.
Bagi Kiki, salah satu jawaban ada pada strategi pasar dan pengelolaan budidaya yang lebih presisi. Mereka menyesuaikan nutrisi tanaman dengan musim, mengurangi nitrogen saat hujan, menambahnya saat panas, serta memastikan tanaman masuk ke pasar yang sudah jelas tujuannya. Dengan begitu, petani tidak lagi sepenuhnya menyerahkan nasib panen pada pasar yang tidak pasti.
Namun di atas semua strategi itu, ada satu hal yang paling terasa dari cerita ini: petani terus bergerak meski pernah jatuh sangat dalam. Tomat yang dulu sampai dibuang ke sungai menjadi pelajaran mahal tentang betapa rentannya hidup di sektor hortikultura. Tetapi dari pelajaran itu pula, Kiki dan kelompoknya justru membangun jalan baru yang lebih hati-hati dan lebih terukur.
Baca Lainya: Dari Gengsi Jadi Petani Kiki Supriatna Kini Kirim Letus Lembang ke Taiwan | Dari Hotel ke Lahan Sayur Lembang, Petani Muda Ini Menemukan Masa Depan Pertanian Modern
Pada akhirnya, cerita petani tidak selalu dimulai dari keberhasilan. Sering kali ia lahir dari luka, dari panen yang tak laku, dari modal yang hilang, lalu dari keberanian untuk menanam lagi. Di Lembang, Kiki Supriatna memperlihatkan bahwa bertani hari ini bukan sekadar soal menumbuhkan sayuran, tetapi juga soal membaca pasar, menyelamatkan nilai panen, dan menjaga agar petani tidak terus-menerus jatuh di lubang yang sama. (Vry)






