Dari Gengsi Jadi Petani Kiki Supriatna Kini Kirim Letus Lembang ke Taiwan

Petikhasil.id, LEMBANG — Tidak semua anak muda langsung bangga ketika diminta pulang ke kebun. Sebagian justru perlu waktu untuk berdamai dengan bayangan tentang pertanian yang selama ini dianggap kotor, panas, dan jauh dari citra pekerjaan bergengsi. Kiki Supriatna pernah berdiri di titik itu. Latar belakangnya justru berasal dari dunia perhotelan. Namun hari ini, ia menjadi salah satu wajah regenerasi petani di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, sekaligus bagian dari kelompok tani yang berhasil membawa letus atau selada kepala ke pasar ekspor.

Baca Lainya: Dari Hotel ke Lahan Sayur Lembang, Petani Muda Ini Menemukan Masa Depan Pertanian Modern | Potensi Wisata Pertanian di Lembang: Menyimak Peran Nabila Farm sebagai Ruang Belajar dan Hiburan

Dari dunia perhotelan kembali ke kebun

Kepada Petik Hasil, Kiki bercerita bahwa ia dulu sempat gengsi menjadi petani. Dunia tani, menurut pengakuannya, kerap dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Tetapi pandangan itu perlahan berubah ketika ia mulai melihat lebih dekat potensi yang dimiliki kampungnya. Di Cibodas, pertanian bukan sekadar pekerjaan orang tua. Ia adalah denyut utama ekonomi setempat.

“Dulu jujur aja saya gengsi jadi petani,” kata Kiki kepada Petik Hasil.

Dari rasa ragu itu, ia justru mulai belajar. Ia lalu mengikuti seleksi magang ke Taiwan yang diadakan Kementerian Pertanian. Kesempatan itu mengubah cara pandangnya. Selama sekitar satu tahun di Taiwan, Kiki tidak hanya belajar budidaya, tetapi juga melihat bagaimana teknologi, disiplin produksi, dan pasar bisa membuat pertanian berjalan lebih terarah.

Pulang membawa ilmu dan cara tanam yang lebih presisi

Sepulang dari Taiwan, ia tidak ingin ilmu itu berhenti sebagai pengalaman pribadi. Ia mulai menerapkan teknologi yang dipelajari di kebun Kelompok Tani Budi Rahayu, kelompok tani yang berdiri sejak 1999 dan kini ia ikuti sebagai generasi kedua pengurus. Salah satu hal yang paling ia tekankan adalah cara memberi nutrisi. Menurut Kiki, petani tidak bisa lagi sekadar memberi pupuk tanpa tahu kebutuhan tanaman.

Ia menjelaskan bahwa pemupukan perlu disesuaikan dengan kebutuhan spesifik tiap komoditas. Untuk brokoli, misalnya, perlu dihitung berapa kebutuhan nitrogennya, fosfatnya, dan kaliumnya. Dengan cara itu, pupuk tidak lagi diberikan secara asal, tetapi diracik berdasarkan kebutuhan tanaman. Menurutnya, petani tradisional kerap memakai pupuk jadi dari toko tanpa benar-benar memahami kandungannya.

Pendekatan itu kini menjadi bagian penting dari strategi budidaya di Budi Rahayu, terutama untuk letus yang menjadi fokus utama kelompok mereka. Kiki mengatakan kepada Petik Hasil bahwa letus dipilih bukan tanpa alasan. Selain cepat panen dan lebih mudah diatur nutrisinya, komoditas ini juga punya peluang pasar yang luas, baik lokal maupun ekspor.

Letus Lembang menembus pasar Taiwan

“Kebetulan di bulan Agustus kemarin kita sudah kirim kurang lebih 200 sampai 300 ton letus untuk kebutuhan market di Taiwan,” ujarnya.

Angka itu menjadi penanda penting. Bagi petani hortikultura di Lembang, pasar ekspor bukan hanya kebanggaan, tetapi juga jalan menyelamatkan harga ketika pasar lokal sedang jatuh. Kiki menjelaskan, Agustus biasanya menjadi masa sulit bagi banyak komoditas hortikultura karena harga di pasar domestik cenderung anjlok. Dalam situasi seperti itu, ekspor menjadi semacam rem penyelamat agar hasil panen tidak sepenuhnya terlempar ke pasar murah.

Kelompok Tani Budi Rahayu sendiri menggarap lahan sekitar 6 hektare yang dikelola kurang lebih oleh 20 anggota. Letus menjadi salah satu komoditas utama karena perputarannya cepat. Dalam usia 40 sampai 50 hari, tanaman ini sudah bisa dipanen. Ketika kualitasnya bagus, kebutuhan nutrisinya tercukupi, dan figur tanamannya baik, produksi dari 10.000 pohon bisa mencapai sekitar 3 sampai 4 ton.

Bertani tetap jadi pilihan yang layak

Namun di balik angka-angka itu, jalan petani tidak pernah benar-benar mulus. Kiki menegaskan bahwa cuaca selalu membawa tantangannya sendiri. Musim hujan membuat letus sulit nge-crop, ukurannya cenderung kecil, dan risiko busuk meningkat. Musim panas justru lebih enak untuk budidaya, tetapi harga lokal sering turun tajam. Inilah yang membuat pertanian hortikultura di Indonesia terasa seperti permainan nasib.

Meski begitu, Kiki memilih melihatnya sebagai profesi yang tetap layak diperjuangkan. Ia menyebut pertanian sebagai bidang yang tidak akan pernah habis karena manusia akan selalu membutuhkan makanan. Di situlah ia melihat alasan kenapa anak muda tidak perlu malu kembali ke kebun.

Baca Lainya: Dari Hotel ke Lahan Sayur Lembang, Petani Muda Ini Menemukan Masa Depan Pertanian Modern | Potensi Wisata Pertanian di Lembang: Menyimak Peran Nabila Farm sebagai Ruang Belajar dan Hiburan

Pada akhirnya, cerita Kiki Supriatna bukan hanya kisah seorang pemuda yang pulang ke pertanian. Ia adalah gambaran tentang bagaimana regenerasi bisa tumbuh ketika anak muda melihat bahwa bertani bukan sekadar mewarisi lahan, tetapi juga memegang peluang yang nyata. Dari Cibodas, Lembang, Kiki memperlihatkan bahwa sayuran lokal bukan hanya bisa memenuhi pasar, tetapi juga bisa menembus negeri lain. Dan lebih dari itu, ia membuktikan bahwa rasa gengsi bisa runtuh ketika seseorang benar-benar melihat nilai dari tanah yang ia pijak sendiri. (Vry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *