Regenerasi Petani Dinilai Belum Menjamin Hidup Layak

Petikhasil.id, JAKARTA — Regenerasi petani masih menjadi tantangan besar bagi sektor pertanian Indonesia. Banyak anak muda belum tertarik menekuni pertanian karena profesi petani belum mampu memberikan kepastian ekonomi dan masa depan yang menjanjikan.

Ketua Umum Serikat Petani Indonesia, Henry Saragih, menilai rendahnya minat generasi muda berakar pada kondisi yang mereka lihat sehari-hari.

Anak-anak muda menyaksikan banyak petani bekerja keras, tetapi tetap menghadapi pendapatan yang terbatas. Gambaran tersebut membuat mereka lebih memilih pekerjaan di sektor lain.

“Kenapa orang tidak mau bertani? Karena memang kebudayaannya tidak didorong menjadi kebudayaan petani. Bertani itu belum dianggap sebagai pekerjaan yang mulia,” kata Henry, Kamis (4/6/2026).

Baca Juga: Rokok Makin Mahal, Petani Tembakau Belum Tentu Makin Sejahtera

Menurut dia, persoalan regenerasi petani tidak bisa dipisahkan dari tingkat kesejahteraan petani yang masih rendah.

“Kalau jadi petani ya pasti hidupnya susah. Itu yang dilihat sekarang. Padahal kalau bertani bisa hidup layak, punya tanah, dan dianggap sebagai kehidupan yang bermartabat, pasti orang mau,” ujarnya.

Lahan Menjadi Penentu

Henry menyebut akses lahan sebagai faktor utama yang menentukan minat generasi muda untuk bertani.

Tanpa lahan, anak muda sulit membangun usaha pertanian yang berkelanjutan. Mereka juga sulit memperoleh pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Karena itu, kepemilikan tanah menjadi modal paling penting dalam usaha pertanian.

Menurut Henry, lahan yang memadai dapat memberikan peluang usaha yang lebih jelas sekaligus meningkatkan pendapatan petani.

“Kalau punya tanah 4 hektare atau 5 hektare, punya kebun sawit misalnya, tentu orang mau jadi petani,” katanya.

SPI terus mengajak pemuda desa mempelajari persoalan agraria dan memahami pentingnya akses terhadap lahan produktif.

Selain itu, organisasi tersebut juga menjalankan pendidikan dan pendampingan bagi calon petani muda di berbagai daerah.

Anak Muda Butuh Peluang Nyata

Henry mengakui jumlah petani muda yang masuk ke sektor pertanian masih jauh dari kebutuhan nasional.

Menurut dia, pemerintah perlu menghadirkan program yang memberi peluang nyata bagi generasi muda untuk memulai usaha tani.

Ia mencontohkan program pendidikan pertanian yang terhubung langsung dengan penyediaan lahan produktif.

“Coba dibuat program pendidikan bagi pemuda, setelah dididik kemudian diberikan tanah yang produktif. Saya kira pasti banyak yang mau menjadi petani,” ujarnya.

Henry menilai pelatihan saja tidak cukup. Anak muda juga membutuhkan akses lahan, modal usaha, sarana produksi, dan pasar yang jelas.

Tanpa dukungan tersebut, sektor pertanian akan terus kehilangan tenaga kerja muda.

Saat ini, banyak pemuda desa memilih merantau ke kota karena melihat peluang ekonomi yang lebih besar. Sementara itu, jumlah petani terus menua dan semakin sedikit anak muda yang menggantikannya.

Bagi generasi muda, keputusan menjadi petani bukan hanya soal kecintaan terhadap pertanian. Mereka juga mempertimbangkan penghasilan, kepastian usaha, dan peluang hidup yang lebih baik. Karena itu, regenerasi petani akan berjalan lebih cepat ketika pertanian mampu memberikan masa depan yang layak dan membanggakan. (PtrA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *