Petikhasil.id, LEMBANG — Di banyak kebun sayur, pupuk sering diperlakukan seperti jawaban paling cepat. Tanaman kurang subur, tambah pupuk. Daun kurang hijau, tambah pupuk lagi. Padahal bagi Kiki Supriatna dan Kelompok Tani Budi Rahayu di Cibodas, Lembang, persoalannya tidak sesederhana itu. Tanaman, seperti manusia, bisa sakit kalau diberi “makan” berlebihan. Dan tanah, jika terus ditekan pupuk kimia tanpa kendali, lambat laun ikut kehilangan kesehatannya.
Kesehatan tanah jadi titik awal
Kepada Petik Hasil, Kiki menuturkan bahwa yang paling penting dalam budidaya bukan sekadar banyak atau sedikitnya pupuk, melainkan kesehatan tanah. Menurutnya, penggunaan pupuk kimia yang terlalu jor-joran bisa menurunkan pH tanah dan membuat tanaman justru lebih mudah sakit.
Baca Lainya: Dari Hotel ke Lahan Sayur Lembang, Petani Muda Ini Menemukan Masa Depan Pertanian Modern | Dari Gengsi Jadi Petani Kiki Supriatna Kini Kirim Letus Lembang ke Taiwan
“Ketika kita kelebihan makanan kan mungkin untuk manusia itu bukannya enak malah kita pengin muntah. Ya begitu pun tanaman,” ujarnya.
Karena itu, Kelompok Tani Budi Rahayu memilih pendekatan yang lebih terukur. Mereka memberi nutrisi sesuai kebutuhan tanaman. Untuk komoditas seperti brokoli dan letus, kebutuhan unsur hara dihitung lebih rinci. Mereka meracik sendiri formula pupuk berdasarkan kadar nitrogen, fosfat, dan kalium yang dibutuhkan. Cara ini mereka pelajari dari pengalaman Kiki saat magang di Taiwan, lalu diterapkan di kebun sendiri setibanya ia di Lembang.
Kebun dan kandang saling menopang
Pendekatan ini membuat budidaya tidak lagi bergantung pada pupuk jadi dari toko pertanian yang sering dipakai tanpa benar-benar dipahami kandungannya. Menurut Kiki, petani tradisional biasa langsung memberi pupuk yang tersedia, tanpa tahu apakah tanaman memang membutuhkannya atau tidak. Kini mereka berusaha membalik pola itu tanaman dibaca dulu, baru nutrisi disiapkan.
Yang menarik, Budi Rahayu tidak berjalan hanya dengan pertanian. Mereka juga punya peternakan, salah satunya kambing. Di sinilah hubungan antara kebun dan kandang menjadi penting. Kiki menjelaskan kepada Petik Hasil bahwa sayuran yang berlebih atau tidak terpakai bisa diberikan ke kambing. Jika pakan terlalu banyak, sisanya dipadukan dengan kotoran kambing untuk diolah menjadi pupuk organik.

Praktik ini membuat kebun dan peternakan saling menopang. Limbah dari satu sisi tidak langsung terbuang, tetapi kembali dipakai untuk mendukung sisi yang lain. Dalam bahasa sederhana, yang tumbuh bukan hanya tanaman, tetapi juga siklus yang lebih hemat dan lebih masuk akal untuk petani.
Organik dan nonorganik dipakai dengan perhitungan
Meski begitu, Kiki juga tidak menutup mata pada keterbatasan. Ia mengakui bahwa Budi Rahayu belum sepenuhnya organik. Menurutnya, mereka saat ini masih berjalan dengan komposisi sekitar 50 persen organik dan 50 persen nonorganik. Pilihan itu lahir dari pertimbangan praktis. Jika seluruhnya organik, hasil tanaman dan penanganan hama menurut mereka belum selalu maksimal.
“Jadi 50% organik, 50% nonorganik,” kata Kiki.
Pendekatan campuran ini terasa lebih realistis bagi banyak kebun hortikultura yang harus menjaga kualitas pasar, ukuran tanaman, dan kecepatan panen. Dengan kata lain, mereka tidak memaksakan idealisme yang sulit dijalankan di lapangan, tetapi mencoba menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kesehatan lahan.
Menjaga tanah agar tetap hidup untuk musim berikutnya
Keseimbangan ini juga terlihat dalam cara mereka menyiasati cuaca. Saat musim hujan, kandungan nitrogen biasanya mereka kurangi karena unsur itu sudah banyak didapat tanaman dari kondisi iklim dan curah hujan. Sebaliknya, saat musim panas, nitrogen dinaikkan agar tanaman tetap tumbuh baik. Bagi Kiki, pemupukan harus bergerak mengikuti musim, bukan diperlakukan sama sepanjang waktu.
Cara pandang seperti ini penting, terutama di tengah pertanian hortikultura yang sangat sensitif terhadap perubahan cuaca. Letus, misalnya, menurut Kiki akan lebih sulit membentuk crop saat hujan, ukurannya lebih kecil, dan lebih mudah busuk. Karena itu, nutrisi dan perlakuan tanam harus benar-benar diatur.
Di sinilah pertanian modern yang dibayangkan petani muda seperti Kiki menjadi menarik. Modern bukan berarti seluruhnya serba mesin, tetapi lebih pada kemampuan membaca tanaman, memahami tanah, dan menghubungkan kebun dengan kandang secara lebih cerdas. Dari pupuk racikan hingga limbah sayur untuk kambing, semuanya berangkat dari satu kesadaran: tanah yang sehat tidak bisa dipaksa terus-menerus tanpa dirawat.
Bagi pertanian Indonesia, cara seperti ini bisa menjadi pelajaran kecil yang penting. Banyak petani memang masih bergantung pada pupuk kimia, dan banyak kebun perlu tetap produktif untuk menjaga penghidupan. Tetapi di tengah tekanan itu, upaya untuk memperhatikan kesehatan tanah tetap perlu dijaga. Tanah yang rusak tidak akan bisa terus dipaksa menghasilkan sayur berkualitas.
Baca Lainya: Dari Hotel ke Lahan Sayur Lembang, Petani Muda Ini Menemukan Masa Depan Pertanian Modern | Dari Gengsi Jadi Petani Kiki Supriatna Kini Kirim Letus Lembang ke Taiwan
Pada akhirnya, cerita Budi Rahayu menunjukkan bahwa kebun dan kandang sebenarnya tidak harus berjalan sendiri-sendiri. Keduanya bisa saling menguatkan. Dari kambing, lahir pupuk untuk kebun. Dari kebun, lahir pakan untuk ternak. Dan dari pola kerja yang lebih seimbang itu, petani punya peluang lebih besar untuk menjaga hasil panen tanpa harus mengorbankan tanah yang menjadi tumpuan hidup mereka sendiri. (Vry)






