Petikhasil.id, BANDUNG — Kenaikan harga kedelai kembali menekan pelaku usaha tahu di Jawa Barat. Di Sentra Industri Tahu Cibuntu, Kota Bandung, ratusan perajin mulai menghitung ulang biaya produksi setelah harga kedelai impor terus merangkak naik dalam beberapa pekan terakhir.
Kondisi tersebut membuat sebagian perajin khawatir. Jika harga bahan baku terus meningkat, mereka tidak menutup kemungkinan mengambil langkah yang pernah dilakukan pada 2023, yakni menghentikan produksi secara bersama-sama.
Baca Juga: Tahu Omega dan Kesadaran Baru tentang Pangan Sehat Menuju Indonesia Emas 2045
Harga Kedelai Tembus Rp11.000 per Kilogram
Ketua Paguyuban Perajin Tahu dan Tempe Jawa Barat, M. Zamaludin, mengatakan sebagian besar perajin masih bergantung pada kedelai impor yang berasal dari Amerika Serikat, Kanada, dan Brasil.
Ketergantungan tersebut membuat industri tahu sangat sensitif terhadap pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
“Ya dampaknya harga kedelai sekarang mahal. Dulu sebelum puasa sekitar Rp8.000 sampai Rp9.000 per kilogram, sekarang sudah ada yang mencapai Rp11.000 per kilogram,” ujar Zamaludin, Sabtu (6/6/2026).
Menurut dia, kenaikan harga kedelai langsung menggerus keuntungan perajin. Sementara itu, para pelaku usaha belum berani menaikkan harga jual karena khawatir kehilangan pelanggan.
Perajin Mulai Khawatir
Zamaludin menilai tekanan terhadap industri tahu bisa semakin besar apabila rupiah terus melemah. Kenaikan harga kedelai biasanya diikuti kenaikan biaya produksi lainnya, mulai dari transportasi hingga bahan pendukung usaha.
“Kami khawatir harga kedelai terus naik, lalu diikuti bahan-bahan lainnya. Kalau dolar naik tentu berpengaruh karena bahan baku yang kami gunakan sebagian besar impor, bukan lokal,” katanya.
Kondisi ini membuat ruang gerak perajin semakin sempit. Mereka harus memilih antara menanggung kerugian atau menaikkan harga produk yang berisiko menurunkan penjualan.
Ancaman Mogok Produksi Kembali Muncul
Menurut Zamaludin, pengalaman pada 2023 masih membekas di kalangan perajin tahu dan tempe. Saat itu, lonjakan harga kedelai memicu aksi mogok produksi di berbagai daerah.
Aksi tersebut membuat pasokan tahu dan tempe di pasar menurun dalam waktu singkat.
“Kalau harga kedelai naik terus, bukan tidak mungkin kejadian tahun 2023 terulang lagi. Menaikkan harga tahu dan tempe juga tidak mudah, sehingga salah satu langkah yang bisa ditempuh adalah aksi mogok produksi,” ujarnya.
Ia menegaskan kemungkinan mogok produksi masih terbuka jika harga kedelai terus bergerak naik tanpa adanya langkah pengendalian.
“Mogok massal produksi seperti yang pernah terjadi pada 2023 bisa saja kembali dilakukan,” tegasnya.
Produksi Masih Berjalan Normal
Meski menghadapi tekanan biaya, sebagian perajin masih mampu mempertahankan produksi karena memiliki stok kedelai yang dibeli sebelum harga melonjak.
Saat ini ukuran tahu dan harga jual di tingkat konsumen masih relatif stabil. Namun keuntungan yang diterima perajin terus menyusut.
“Ukuran masih tetap dan harga juga belum berubah. Hanya saja keuntungan kami semakin berkurang, bahkan ada yang sudah merugi,” kata Zamaludin.
Kedelai Lokal Masih Jadi Tantangan
Bagi perajin tahu, persoalan utama bukan hanya kenaikan harga kedelai. Ketergantungan yang tinggi terhadap impor membuat industri tahu rentan terhadap gejolak global dan perubahan nilai tukar.
Di sisi lain, produksi kedelai lokal belum mampu memenuhi kebutuhan industri pengolahan pangan. Akibatnya, perajin tetap bergantung pada pasokan luar negeri untuk menjaga keberlangsungan usaha.
Jika kondisi ini terus berlanjut, dampaknya tidak hanya dirasakan perajin. Konsumen juga berpotensi menghadapi kenaikan harga tahu dan tempe yang selama ini menjadi sumber protein terjangkau bagi masyarakat. (PtrA)






