Saat Purna Tugas Menjadi Musim Baru bagi Iip Hidayat Lewat Smart Farming Melon

Petikhasil.id, KAB BANDUNG — Menjelang purna tugas, Raden Iip Hidayat tidak memilih hari-hari yang kosong. Ia justru menyiapkan babak baru lewat greenhouse melon di Hetling Farm. Dari kebun inilah ia menjaga ritme hidup tetap bergerak, pikiran tetap aktif, dan semangat belajar tetap menyala.

Bagi Iip, masa purna bakti bukan waktu untuk berhenti. Ia melihatnya sebagai fase yang perlu disambut dengan kegiatan baru yang produktif. Kepada Petik Hasil, Sabtu (23/5/2026) ia mengatakan bahwa orang yang tidak menyiapkan aktivitas setelah purna tugas biasanya rentan terkena 3S, yaitu stres, strok, lalu stop. Kalimat itu terdengar ringan, tetapi pesannya kuat. Setiap orang, apa pun profesinya, perlu menyiapkan pegangan baru agar hidup tidak kehilangan arah.

Greenhouse ini juga tidak ia kelola sendirian. Istri dan anak-anaknya ikut mendampingi, membantu, dan memberi dukungan pada kegiatan yang kini ia tekuni. Karena itu, Hetling Farm terasa bukan hanya sebagai tempat budidaya, tetapi juga ruang tumbuh bersama bagi keluarga.

Baca Lainya: Satu Pohon Bisa Hasilkan 10 Buah, Teknik Machida Buka Peluang Melon di Lahan Sempit | Teknologi Smart Farming di Greenhouse Melon Ciwidey

Pertanian dipilih karena selalu punya masa depan

Iip memilih pertanian karena percaya bidang ini tidak akan habis dimakan zaman. Teknologi boleh berubah cepat, tetapi manusia tetap membutuhkan pangan. Dari keyakinan itulah ia melihat pertanian sebagai sektor yang selalu relevan. Bukan hanya bertahan, pertanian juga bisa terus berkolaborasi dengan teknologi dan memberi nilai ekonomi yang nyata.

Ketertarikannya pada melon tumbuh saat ia menjabat sebagai Penjabat Bupati Kuningan. Pada masa itu, ia bertemu petani milenial yang mengembangkan budidaya melon secara inovatif. Pertemuan tersebut membuka rasa ingin tahunya. Setelah itu, ia mulai mencari informasi, belajar ke berbagai orang, lalu bertemu Iyus, yang lebih dulu dikenal lewat pengembangan teknik Machida dalam budidaya melon.

Dari sanalah minat itu makin kuat. Iip tidak masuk ke pertanian sebagai penonton. Ia memilih belajar, mencoba, lalu membangun greenhouse sendiri sebagai langkah baru menjelang purna tugas.

Smart farming membuat bertani terasa lebih dekat

Di Hetling Farm, Iip menerapkan smart farming berbasis IoT. Pendekatan ini membantunya mengelola budidaya secara lebih terukur. Sirkulasi air, kondisi tanaman, dan kebutuhan teknis dapat dipantau dengan lebih rapi. Dengan sistem seperti ini, pekerjaan di greenhouse menjadi lebih efisien dan lebih mudah dikendalikan.

Pengalaman itu pula yang membuatnya yakin bahwa anak muda tidak perlu ragu masuk ke dunia pertanian. Menurutnya, bertani hari ini tidak harus selalu identik dengan lumpur, kerja kasar, dan cara lama. Pertanian modern justru bisa tampak bersih, cerdas, dan menarik. Selama ada kemauan untuk belajar dan berusaha, jalan akan selalu terbuka.

Pesan itu terasa penting. Selama ini, pertanian sering dipandang sebagai pekerjaan yang berat dan kurang bergengsi. Padahal, ketika teknologi masuk ke greenhouse, cara pandang itu mulai berubah. Bertani bisa menjadi pekerjaan yang modern tanpa kehilangan akar utamanya.

Sistem Machida dipadukan dengan panel surya

Hal lain yang membuat greenhouse ini menarik adalah cara Iip memadukan sistem Machida dengan energi surya. Sistem Machida membutuhkan listrik untuk membantu sirkulasi air. Agar penggunaan energi lebih hemat, ia memasang panel surya di kebunnya.

Langkah ini menunjukkan bahwa pertanian modern tidak harus boros energi. Dengan perencanaan yang tepat, teknologi justru bisa dipakai untuk menekan biaya dan membuat budidaya lebih efisien. Dari situ terlihat bahwa inovasi di pertanian bukan hanya soal alat yang canggih, tetapi juga soal cara berpikir yang lebih hemat dan lebih panjang napas.

Melon dipilih karena manis dan renyah

Untuk budidaya perdananya, Iip menanam dua jenis melon, yakni Korean Homi dan chamoe. Ia memilih keduanya karena rasa buahnya manis dan teksturnya renyah. Pilihan itu menunjukkan bahwa ia tidak sekadar mengejar panen, tetapi juga memperhatikan kualitas rasa yang akan diterima konsumen.

Di titik ini, greenhouse tidak hanya berbicara soal teknologi. Kebun ini juga berbicara soal selera, kualitas, dan pengalaman makan yang ingin dihadirkan. Buah yang baik bukan cuma soal bentuk, tetapi juga soal rasa yang meninggalkan kesan.

Greenhouse ini menjadi cara menjaga pikiran tetap positif

Di balik seluruh unsur teknologi dan budidaya, ada alasan yang sangat manusiawi dari langkah Iip. Ia ingin tetap punya kegiatan setelah masa tugas formal berakhir. Dengan merawat tanaman, mengawasi greenhouse, dan menunggu hasil panen, ia merasa pikirannya tetap hidup. Ada jadwal yang harus dijaga, Target yang harus dicapai, dan proses yang harus dinikmati.

Bagi Iip, kegiatan seperti ini penting untuk menjaga pikiran tetap positif. Saat seseorang berhenti dari pekerjaan panjang yang selama bertahun-tahun menjadi bagian hidupnya, ruang kosong sering muncul tanpa terasa. Greenhouse ini menjadi jawabannya. Dari sini, ia menemukan ritme baru yang tetap produktif dan tetap memberi makna.

Panen perdana dibuka untuk umum

Saat ini Hetling Farm sedang memasuki panen perdana. Kepada Petik Hasil, Iip menyebut greenhouse tersebut akan dibuka untuk umum pada 23 sampai 24 Mei, mulai pukul 08.00 hingga 17.00. Melon yang dipanen dijual di kisaran Rp50 ribu per buah.

Baca Lainya: Satu Pohon Bisa Hasilkan 10 Buah, Teknik Machida Buka Peluang Melon di Lahan Sempit | Teknologi Smart Farming di Greenhouse Melon Ciwidey

Panen perdana ini bukan hanya soal hasil kebun. Momen ini juga menjadi penanda bahwa greenhouse yang dibangun sebagai penyambung kegiatan purna tugas mulai masuk ke tahap yang lebih nyata. Ada hasil yang bisa dinikmati. Ada nilai ekonomi yang mulai terlihat. Dan ada bukti bahwa pertanian modern memang bisa menjadi jalan hidup yang menjanjikan.

Pada akhirnya, pilihan Iip Hidayat terasa sederhana, tetapi dalam maknanya. Ia menyambut purna tugas bukan dengan diam, melainkan dengan menanam. Dari greenhouse itu, ia menunjukkan bahwa pertanian tetap punya masa depan, teknologi bisa masuk tanpa menghilangkan ruh bertani, dan hidup tetap bisa produktif ketika orang mau mencari jalan baru. (Vry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *