Kita Terlalu Lama Mendidik Anak Menjadi Pencari Kerja, Bukan Pencipta Kerja

Petikhasil.id, BANDUNG — Ada ironi yang makin terasa di Indonesia. Banyak orang rela bekerja 30 sampai 40 tahun sebagai pegawai. Namun saat merintis usaha sendiri, 40 hari saja kadang sudah terasa terlalu berat. Kita sabar meniti karier yang dibangun orang lain, tetapi sering cepat lelah ketika harus membangun jalan sendiri.

Gejala itu makin terlihat saat gelombang PHK datang. Banyak orang kehilangan pekerjaan, lalu bingung harus melangkah ke mana. Kondisi ini bukan semata soal hilangnya gaji bulanan. Masalahnya lebih dalam. Sejak awal, banyak orang dibiasakan menjadi pelaksana, bukan inisiator.

Data resmi menunjukkan tekanannya memang nyata. Badan Pusat Statistik mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka pada Februari 2026 berada di angka 4,68 persen, dengan jumlah penganggur sekitar 7,24 juta orang. Pada saat yang sama, data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan puluhan ribu pekerja terkena PHK hanya dalam beberapa bulan pertama 2026. Angka-angka ini memperlihatkan satu hal sederhana: pasar kerja tidak selalu aman, dan orang yang hanya bergantung pada satu jenis pekerjaan akan lebih mudah terpukul.

Baca Lainya: Saat PHK Meningkat, Indonesia Butuh Pintu Kerja Cepat di Sektor Pertanian | Mentan Sebut Ada 1,6 Juta Lapangan Pekerjaan Lewat Hilirisasi Sektor Pertanian

Sejak kecil, banyak anak didorong untuk mencari kerja

Di banyak rumah Indonesia, kalimat ini sangat akrab “belajar yang rajin supaya dapat kerja yang bagus.” Kalimat itu terdengar baik. Niatnya pun mulia. Namun arah yang dibentuk sangat jelas. Anak diajari untuk mengejar pekerjaan, bukan menciptakan pekerjaan.

Dari sana, ukuran sukses menjadi sempit. Banyak keluarga lebih bangga ketika anak mendapat kursi di kantor, dibanding ketika anak mencoba membangun usaha sendiri. Akibatnya, keberanian mengambil risiko sering kalah oleh keinginan mencari rasa aman.

Pola pikir seperti itu ikut tercermin dalam data. Rasio kewirausahaan Indonesia masih rendah. Pemerintah menyebut angkanya baru sekitar 3,29 persen. Jumlah ini masih jauh jika dibandingkan dengan negara yang ekonomi usahanya lebih kuat. Artinya, Indonesia memang belum cukup berhasil membangun budaya pencipta kerja.

PHK membongkar kelemahan cara kita menyiapkan hidup

Saat pekerjaan formal masih tersedia, kelemahan itu sering tidak terasa. Orang datang ke kantor, mengikuti sistem, menerima gaji, lalu hidup berjalan seperti biasa. Masalah baru terlihat ketika hubungan kerja putus. Banyak orang mendadak kehilangan arah karena selama ini mereka lebih terbiasa menerima instruksi daripada menyusun langkah sendiri.

Di sinilah PHK menjadi cermin. Ia tidak hanya menunjukkan rapuhnya sebagian sektor kerja, tetapi juga membongkar cara kita mendidik generasi bekerja. Banyak orang mampu menjadi pekerja yang disiplin. Namun belum banyak yang cukup siap menjadi pencipta nilai dari nol.

Padahal, dunia kerja sekarang makin sulit ditebak. Perusahaan bisa efisien. Industri bisa melambat. Teknologi bisa mengubah banyak jenis pekerjaan. Kalau mental inisiatif tidak dibangun sejak awal, guncangan seperti PHK akan selalu terasa lebih berat.

Pertanian justru tetap menjadi penyerap kerja terbesar

Di tengah semua itu, ada satu sektor yang sering diremehkan, tetapi justru paling besar menyerap tenaga kerja pertanian. Data BPS menunjukkan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia. Jumlahnya mencapai lebih dari 42 juta orang, atau sekitar 28,78 persen dari total penduduk bekerja pada Februari 2026.

Angka itu penting. Ia menunjukkan bahwa pertanian bukan sektor pinggiran. Dunia pertanian tetap menjadi ruang kerja paling besar di negeri ini. Dari sawah, kebun, kandang, hingga perikanan, sektor ini terus menopang hidup jutaan keluarga.

Sensus Pertanian 2023 juga memperlihatkan hal yang sama. Indonesia memiliki jutaan rumah tangga usaha pertanian. Artinya, ekosistem kerjanya luas dan nyata. Namun ironinya, sektor sebesar ini justru sering dianggap pilihan terakhir oleh anak muda.

Anak muda enggan masuk pertanian, padahal sektor ini paling nyata

Inilah kontradiksi kita. Anak muda banyak yang berlomba menjadi pekerja di kota. Sementara itu, sektor yang sejak lama menopang ekonomi bangsa justru makin sulit mendapatkan generasi penerus. Data Sensus Pertanian 2023 menunjukkan jumlah petani milenial masih berada di kisaran 21,93 persen dari total petani Indonesia.

Angka itu memberi sinyal jelas. Regenerasi di pertanian belum cukup kuat. Banyak anak muda melihat pertanian sebagai pekerjaan berat, kotor, dan kurang bergengsi. Padahal, sektor ini justru menyimpan peluang besar, baik sebagai ruang kerja maupun sebagai ruang usaha.

Masalahnya bukan karena pertanian tidak penting. Masalahnya, sejak awal kita lebih sering menanamkan kebanggaan menjadi pegawai daripada membangun kebanggaan menjadi pengusaha tani, peternak, atau pelaku agribisnis.

AI bisa mengubah banyak pekerjaan, tetapi pertanian tetap dibutuhkan

Kekhawatiran tentang kecerdasan buatan juga makin besar. Banyak profesi mulai cemas karena teknologi bisa menggantikan tugas-tugas rutin. Namun pertanian punya karakter yang berbeda. Dunia ini memang bisa dibantu teknologi, tetapi tidak mudah digantikan sepenuhnya.

Tanah tetap harus diolah. Tanaman tetap harus dirawat. Ternak tetap harus dipelihara. Panen tetap harus ditangani. Logistik pangan tetap harus berjalan. Teknologi bisa membantu prosesnya menjadi lebih efisien, tetapi manusia tetap memegang peran inti.

Karena itu, pertanian bukan sektor yang tertinggal dari masa depan. Justru sebaliknya, pertanian adalah sektor yang akan terus hidup sambil beradaptasi dengan teknologi. Inilah yang sering luput dari cara pandang banyak orang muda.

Yang kurang bukan sektor kerja, melainkan mental inisiator

Indonesia sebenarnya tidak kekurangan sektor yang kuat. Kita punya lahan, pasar, kebutuhan pangan, dan jutaan rumah tangga usaha pertanian. Yang sering kurang justru keberanian untuk masuk, memulai, dan bertahan.

Banyak orang dibesarkan untuk patuh pada sistem, bukan untuk membangun sistem. Kita diajari mengikuti jalur yang sudah ada, bukan membuka jalur baru. Maka ketika pekerjaan hilang, banyak yang panik. Mereka tidak terbiasa menciptakan peluang dari keterbatasan.

Di titik ini, pertanian memberi pelajaran penting. Sektor ini melatih orang membaca musim, mengelola risiko, menanggung ketidakpastian, dan menciptakan nilai dari proses yang tidak instan. Dengan kata lain, pertanian bukan hanya sektor ekonomi. Ia juga sekolah mental untuk menjadi penggerak.

Anak muda tidak cukup diajak kembali ke desa

Tentu, solusinya tidak cukup berhenti pada ajakan romantis seperti “anak muda harus kembali ke desa.” Anak muda tidak butuh slogan kosong. Mereka butuh jalan masuk yang masuk akal.

Akses lahan, pembiayaan yang realistis, pelatihan, teknologi, inkubasi usaha, pasar yang jelas, dan pendampingan jauh lebih penting daripada sekadar kampanye. Kalau sistem pendukung ini dibangun dengan serius, pertanian akan terlihat lebih rasional sebagai pilihan hidup.

Selama keluarga dan sekolah terus memuliakan status karyawan sebagai bentuk keberhasilan utama, sektor pertanian akan tetap sulit menarik generasi baru. Akibatnya, kita terus melahirkan pencari kerja dalam jumlah besar, tetapi terlalu sedikit pencipta kerja.

Baca Lainya: Saat PHK Meningkat, Indonesia Butuh Pintu Kerja Cepat di Sektor Pertanian | Mentan Sebut Ada 1,6 Juta Lapangan Pekerjaan Lewat Hilirisasi Sektor Pertanian

Sudah waktunya mengubah cara pandang

Pada akhirnya, kritik yang paling jujur mungkin begini, kita terlalu lama mendidik anak untuk aman, bukan untuk tangguh. Kita terlalu sering berkata carilah kerja yang bagus, tetapi terlalu jarang berkata ciptakan kerja yang berguna.

Gelombang PHK hanya membuat kenyataan itu semakin terlihat. Banyak orang baru sadar bahwa pekerjaan formal tidak selalu abadi. Di sisi lain, pertanian tetap berdiri sebagai pengingat keras bahwa ada sektor yang sejak lama memberi makan bangsa, menyerap tenaga kerja, dan menopang ekonomi, tetapi justru terus dijauhi.

Kalau Indonesia ingin lebih kuat, kita tidak cukup hanya menyiapkan generasi untuk menjadi pekerja. Kita juga harus menyiapkan generasi untuk menjadi penggerak. Dan di antara banyak sektor yang bisa menjadi ruang belajar itu, pertanian adalah salah satu yang paling nyata. (Vry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *