Yang Tidak Terlihat dari Sepotong Tahu

Di Sumedang, sebuah usaha tahu menghubungkan petani, peternak, pekerja, pasar modern, dan pengelolaan limbah. Kisahnya menunjukkan mengapa usaha kecil tidak boleh hilang ketika negara memotret perekonomiannya.

Petikhasil.id, SUMEDANG — Dua puluh bungkus tahu itu berangkat membawa harapan. Beberapa hari kemudian, 18 bungkus pulang sebagai barang retur.

Pada pengiriman berikutnya, Nurholis menitipkan 10 bungkus. Hanya lima yang terjual. Saat itu, hampir semua pekerjaan berada di tangannya. Ia membeli bahan baku, memproduksi tahu, mengemasnya, lalu mengantarkannya sendiri ke toko. Belum ada tim produksi. Belum pula ada petugas pengiriman.

“Jangankan untung, modal saja belum balik,” kata Nurholis mengenang masa tersebut.

Namun ia terus datang membawa produk yang sama. Ia percaya penolakan itu bukan akhir. Konsumen hanya belum mengenal apa yang dibuatnya.

Lima bulan pertama berlalu dengan satu gerai. Setelah itu, kesempatan bertambah menjadi tiga cabang. Penjualan belum serta-merta membaik. Dari 20 bungkus yang dikirim, terkadang hanya lima yang terjual.

Nurholis bertahan cukup lama untuk melihat keadaan berbalik. Pada awal 2026, menurut keterangannya, Tahu Omega buatannya memperoleh kesempatan mengisi puluhan gerai pasar modern di Sumedang dan Bandung.

Perjalanan itu bukan sekadar cerita tentang produk yang akhirnya menemukan pembeli. Di belakangnya terdapat usaha kecil yang perlahan menciptakan pekerjaan, menyerap bahan baku, mempertemukan petani dengan peternak, dan belajar memasuki jalur distribusi modern.

Semuanya bermula dari satu persoalan apa yang harus dilakukan ketika tanaman berhasil dipanen, tetapi pasarnya belum tersedia?

Mencari jalan bagi hasil panen

Nurholis tidak tumbuh dari keluarga pengusaha tahu. Sebelum menekuni usaha pangan, ia bergerak dalam bidang pengadaan.

Sekitar 2012, ia memilih lebih dekat dengan pertanian. Ia mulai menanam melon dan cabai, kemudian terlibat dalam pendampingan petani di sejumlah desa.

Dari kegiatan itulah ia mengenal sacha inchi, tanaman yang bijinya dapat diolah menjadi minyak dan dikenal mengandung asam lemak tak jenuh.

Benihnya dibagikan kepada petani binaan. Tanaman itu dinilai cukup adaptif terhadap kondisi setempat. Namun ketika panen tiba, muncul persoalan yang akrab bagi banyak petani hasilnya akan diserap oleh siapa?

Nurholis tidak ingin sacha inchi hanya berakhir sebagai minyak. Menurutnya, bentuk olahan lain diperlukan agar hasil panen dapat menjangkau pasar yang lebih luas. Sumedang, tempat ia tinggal, memberinya jawaban yang paling dekat dengan keseharian tahu.

“Di situlah awalnya tertantang bagaimana sacha inchi itu bisa jadi turunan selain minyak, biar daya serapnya lebih banyak. Kebetulan dari Sumedang, kepikirannya tahu,” ujarnya.

Gagasan itu terdengar sederhana. Pelaksanaannya tidak. Tekstur sacha inchi meninggalkan rasa kesat di tenggorokan. Nurholis harus mencari formulasi agar bahan tersebut dapat menyatu dengan kedelai dan susu kambing tanpa mengganggu rasa serta tekstur tahu.

Percobaan berlangsung hampir tujuh bulan. Bahan baku dalam jumlah besar habis untuk pengujian. Formulanya beberapa kali dibawa ke laboratorium. Pada satu titik, Nurholis dan timnya hampir menyerah.

“Ya Allah, bagaimana? Sudah, tidak bisa ini. Tidak bisa dibuat tahu,” katanya, mengingat kegagalan yang berulang.

Mereka akhirnya memperoleh komposisi yang dinilai sesuai. Produk itu kemudian diberi nama Tahu Omega.

Nurholis menyebut hasil pengujian laboratorium yang dimilikinya menunjukkan kandungan omega-3 sebesar 936 miligram dalam setiap 100 gram produk. Keterangan tersebut merupakan klaim produsen berdasarkan hasil uji produknya, bukan kesimpulan mengenai manfaat medis.

Namun yang lahir dari tujuh bulan percobaan itu bukan hanya produk baru. Biji yang sebelumnya belum memiliki pasar luas kini diterjemahkan menjadi pangan yang telah lama akrab bagi masyarakat.

Bertahan dari produk yang kembali

Kesempatan memasuki pasar modern datang setelah Tahu Omega diperkenalkan dalam sebuah pameran UMKM. Pengelola salah satu jaringan ritel mencicipinya, mendengarkan penjelasan mengenai bahan bakunya, lalu memberikan ruang di satu gerai.

Masalah berikutnya adalah masa simpan. Pada awal produksi, Nurholis belum memiliki mesin vakum. Ia juga memilih tidak menggunakan bahan pengawet. Produk hanya dapat disimpan sekitar tiga hari sehingga banyak tahu harus ditarik sebelum sempat dibeli konsumen.

Nurholis kemudian mengumpulkan modal bersama rekan-rekannya untuk membeli mesin vakum dan mempelajari penanganan produk. Masa simpan di suhu dingin dapat diperpanjang hingga sekitar 10 hari.

Perubahan itu mungkin terlihat teknis. Bagi usaha kecil, tambahan beberapa hari dapat menentukan apakah sebuah produk bertahan di rak atau pulang sebagai barang retur.

Saat wawancara dilakukan, usaha Tahu Omega telah memiliki lima pekerja langsung. Empat orang menangani produksi dan seorang lainnya bertugas mengirimkan produk.

Lima pekerja bukan jumlah besar. Namun pekerjaan tersebut lahir dari usaha yang sebelumnya dijalankan seorang diri.

Di belakang mereka terdapat mata rantai lain. Kedelai menjadi bahan baku utama. Susu diperoleh dari peternak kambing. Sacha inchi ditanam petani. Tahu diolah pekerja, dibawa menuju toko, lalu dibeli konsumen.

“Kalau konsumen konsumsi ini, mereka sama saja menghidupi peternak, sama saja menghidupi petani,” ujar Nurholis.

Sebuah produk rupanya tidak pernah berdiri sendiri. Ia membawa pekerjaan dan penghidupan orang-orang yang mungkin tidak pernah bertemu satu sama lain.

Ketika limbah kembali ke lahan

Hubungan ekonomi itu tidak berhenti setelah tahu selesai dicetak. Produksi tahu menyisakan limbah cair dan ampas kedelai. Apabila dibuang tanpa penanganan, keduanya dapat menjadi beban bagi lingkungan.

Di tempat produksinya, ampas dipisahkan sebelum perebusan sehingga kondisinya relatif lebih kering. Ampas tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai pakan ternak kambing.

Limbah cairnya dikembangkan menjadi pupuk organik cair yang dapat digunakan kembali oleh petani. Nurholis berharap petani sacha inchi tidak perlu membeli seluruh kebutuhan pupuk dari luar.

“Pabrik menghasilkan tahu. Bahan bakunya ada susu kambing, ada kedelai lokal dari petani. Limbahnya ada dua, cair sama ampas. Yang cairnya diolah jadi pupuk kembali ke petani, yang padatnya untuk pakan ternak,” katanya.

Lingkaran tersebut belum sempurna. Pengolahan pupuk masih terbatas dan beberapa rencana pemanfaatan ampas belum berjalan.

Namun dari satu tempat produksi berskala kecil terlihat kegiatan ekonomi yang berlapis pembelian bahan baku, pengolahan pangan, penyerapan tenaga kerja, kemitraan peternakan, distribusi, perdagangan ritel, dan pengelolaan limbah.

Semua itu tidak terlihat ketika produk hanya dipandang sebagai sebungkus tahu di lemari pendingin.

Agar usaha kecil tidak hilang dari peta

Mata rantai seperti itulah yang membuat Sensus Ekonomi 2026 menjadi penting. Sensus tersebut diperlukan untuk memberikan gambaran aktual mengenai kegiatan ekonomi di luar sektor pertanian. Melalui pendataan usaha, tenaga kerja, teknologi, dan pemasaran, negara dapat memahami struktur serta perkembangan dunia usaha sebagai dasar penyusunan kebijakan.

Usaha pengolahan pangan seperti milik Nurholis relevan untuk dicatat, meskipun sebagian bahan bakunya berasal dari kegiatan pertanian dan peternakan.

Bagi pelaku usaha, sensus mungkin hanya terlihat sebagai rangkaian pertanyaan. Namun setiap jawaban membantu negara melihat keadaan yang sesungguhnya.

Produsen yang kesulitan memperpanjang masa simpan membutuhkan dukungan berbeda dari usaha yang kekurangan bahan baku. Pelaku UMKM yang hendak memasuki pasar modern menghadapi persoalan berbeda dari pedagang yang menjual langsung kepada konsumen. Industri yang mulai mengolah limbah juga memiliki kebutuhan berbeda dari usaha yang belum mampu melakukannya.

Kebijakan yang tepat tidak dapat dibangun dari dugaan. Tanpa data yang utuh, usaha Nurholis mudah dibaca hanya sebagai pabrik tahu kecil. Padahal di dalamnya terdapat riset produk, lima pekerjaan langsung, hasil panen petani, susu peternak, penggunaan teknologi produksi, distribusi menuju pasar modern, serta upaya membangun ekonomi sirkular.

Sensus memang tidak dapat merekam tujuh bulan kegagalan, tahu-tahu yang kembali dari toko, atau kecemasan seorang pengusaha ketika modalnya terus berkurang.

Namun sensus dapat memastikan bahwa keberadaan usaha, pekerja, teknologi, dan jejaring ekonominya tidak hilang dari peta pembangunan.

Nurholis sendiri percaya bisnis tidak seharusnya hanya bertumpu pada sesuatu yang sedang viral. Usaha yang ingin bertahan harus memiliki nilai dan tujuan yang diperjuangkan.

“Kalau hanya mengejar keuntungan, ketika rugi kita akan menyerah,” ujarnya.

Beberapa tahun lalu, Nurholis membawa pulang tahu-tahu yang tidak terjual. Hari ini, di belakang produk yang sama, telah berdiri pekerjaan bagi lima orang, pasar bagi hasil panen petani, permintaan atas susu peternak, dan limbah yang mulai dikembalikan menjadi pupuk.

Sepotong tahu tentu tidak cukup untuk menggambarkan seluruh perekonomian Indonesia. Namun ia dapat menunjukkan betapa banyak kehidupan yang bergerak di balik sebuah usaha kecil.

Angka tidak akan mampu menceritakan seluruh perjuangan Nurholis. Tetapi tanpa angka yang akurat, perjuangan seperti itu mungkin tidak pernah terlihat ketika negara menentukan arah pembangunan. (Vry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *