Kenapa Banyak Petani Masih Menjual Hasil Panen ke Tengkulak?

Petikhasil.id, BANDUNG — Kata “tengkulak” sering mendapat kesan negatif dalam pembicaraan soal pertanian. Mereka dianggap membeli hasil petani dengan harga murah lalu menjualnya kembali dengan harga lebih tinggi.

Namun hubungan antara petani dan tengkulak sebenarnya lebih rumit. Bagi banyak petani kecil, tengkulak bukan hanya pembeli. Mereka juga menjadi bagian dari sistem distribusi yang membuat hasil panen cepat keluar dari kebun.

Petani membutuhkan pembeli yang datang cepat

Setelah panen, petani menghadapi satu persoalan besar: produk harus segera dijual. Sayuran, buah, ikan, susu, dan banyak produk pertanian memiliki umur simpan yang pendek.

Mencari pembeli sendiri membutuhkan waktu, kendaraan, tenaga, dan jaringan pasar. Tengkulak datang menawarkan solusi yang sederhana. Mereka membeli langsung dari kebun atau desa dan kemudian membawa produk tersebut ke pasar yang lebih besar.

Bagi petani, kecepatan transaksi seperti ini sangat berarti. Uang hasil panen bisa segera digunakan untuk membayar pekerja, membeli kebutuhan rumah tangga, atau memulai musim berikutnya.

Tengkulak juga menanggung biaya distribusi

Harga di tingkat petani biasanya lebih rendah dibandingkan harga yang dilihat konsumen di pasar. Selisih tersebut tidak seluruhnya menjadi keuntungan pedagang.

Produk masih harus melalui sortasi, pengemasan, transportasi, penyusutan, dan risiko barang tidak terjual. Semakin jauh perjalanan produk, semakin banyak pula biaya yang muncul.

Karena itu, rantai perdagangan tidak selalu bisa dipotong begitu saja. Tantangannya adalah membuat pembagian nilai di sepanjang rantai tersebut menjadi lebih sehat bagi petani.

Masalah muncul ketika petani hanya punya satu pembeli

Hubungan menjadi tidak seimbang ketika petani tidak memiliki pilihan. Jika hanya satu pembeli yang tersedia, petani akan sulit menawar harga.

Di sinilah koperasi, kelompok tani, pasar digital, kontrak dengan restoran, dan penjualan langsung bisa memberikan alternatif. Semakin banyak pilihan pasar, semakin kuat posisi petani ketika menentukan harga.

Artinya, persoalan pertanian bukan sekadar menghilangkan tengkulak. Yang lebih penting adalah memberi petani lebih banyak pilihan untuk menjual hasilnya.

Tengkulak tetap dapat menjadi bagian dari rantai pangan. Namun petani juga perlu memiliki informasi harga, akses transportasi, dan jaringan pasar agar hubungan perdagangan berlangsung lebih seimbang. (Vry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *