Petikhasil.id, BANDUNG — Ketika orang Jepang, yang punya matcha sendiri, rela membayar sekitar Rp4,5 juta untuk satu kilogram teh putih asal Jawa Barat, itu bukan kebetulan. Teh putih itu datang dari kebun Arafa Tea, diproduksi dari pucuk klon GMB7, dan menjadi salah satu bukti bahwa dunia sebenarnya sudah mengakui kualitas teh Jawa Barat. Namun di saat yang sama, nilai ekspor teh Indonesia justru tertinggal jauh dari kopi dan kakao, komoditas perkebunan lain yang tumbuh di tanah yang sama.
Ironi itulah yang menjadi inti persoalan teh Jawa Barat hari ini: dipuji kualitasnya oleh pasar premium dunia, tetapi belum berhasil mengubah pujian itu menjadi nilai ekonomi yang sepadan bagi petani dan pekebun di hulu.
Jawa Barat, Tulang Punggung Teh Nasional
Data Badan Pusat Statistik mencatat produksi teh Jawa Barat pada 2024 mencapai sekitar 80.241 ton, atau 67,5 persen dari total produksi teh nasional yang berada di angka 118.895 ton. Luas kebun tehnya pun jauh melampaui provinsi lain, yakni 77.264 hektare atau hampir 75 persen dari total areal teh Indonesia. Provinsi ini juga menjadi rumah bagi lebih dari 170 ribu petani dan tenaga kerja yang menggantungkan hidup dari daun teh.
Dengan porsi produksi sebesar itu, wajar jika nasib teh Indonesia di mata dunia sebagian besar ditentukan oleh apa yang terjadi di kebun-kebun Jawa Barat, mulai dari Pangalengan, Ciwidey, Garut, hingga Sukabumi.
Diakui Dunia, tetapi Nilainya Tertinggal
Indonesia tercatat sebagai eksportir teh terbesar ke-13 di dunia, dengan kontribusi sekitar 2 persen dari produksi teh global. Posisi ini masih jauh di bawah Tiongkok, Sri Lanka, India, dan Kenya yang menguasai pasar. Volume ekspor teh nasional rata-rata sekitar 30 ribu ton per tahun, dengan nilai sekitar 48,47 juta dolar AS, dan sebagian besar produk yang dijual masih berupa teh curah bernilai tambah rendah.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat, Nining Yuliastiani, membandingkan langsung dengan komoditas lain: dari sisi kuantitas ekspor, teh memang lebih besar dibanding kakao, tetapi nilainya bisa kalah jauh, sebab kakao dan kopi lebih banyak dijual dalam bentuk olahan dengan nilai tambah yang lebih tinggi.
Persoalannya bukan pada rasa atau kualitas daun. Justru sebaliknya, dunia sudah mengakuinya. Teh dari kebun Malabar di Pangalengan disebut sempat bersaing dengan kualitas teh nomor satu dunia dari Tiongkok, India, dan Sri Lanka sejak masa kolonial. Yang belum banyak berubah adalah cara Indonesia menjual hasil kebun itu ke pasar global.
Baca lainnya: Petani Kuningan Beralih ke Kacang Tanah | MBG Jalan Lagi, Petani dan Peternak Haruskah Bahagia atau Justru Waspada?
Warisan Kolonial yang Membentuk Reputasi Teh Priangan
Nama besar teh Jawa Barat di mata dunia sebenarnya punya akar sejarah yang panjang. Perkebunan Malabar di Pangalengan dirintis pada 1896 oleh Karel Albert Rudolf Bosscha, yang kelak dijuluki “Raja Teh Priangan.” Di lahan seluas lebih dari dua ribu hektare pada ketinggian sekitar 1.550 meter di atas permukaan laut, Bosscha membangun kebun sekaligus pabrik pengolahan yang hampir seluruh hasilnya, sekitar 90 persen, dikirim ke luar negeri.
Warisan itu membentuk citra “teh Priangan” sebagai salah satu teh terbaik dari tanah jajahan pada masanya. Namun warisan reputasi saja tidak cukup untuk bertahan di pasar modern. Persaingan global hari ini menuntut sertifikasi, konsistensi mutu, kemasan, hingga cerita asal-usul (story of origin) yang jelas, bukan sekadar nama besar dari masa lalu.
Peluang di Pasar Premium yang Mulai Terbuka
Di tengah tertinggalnya nilai ekspor teh curah, muncul celah dari segmen premium. Selain kisah teh putih Jawa Barat yang diminati Jepang, kebun teh di Malabar juga mulai mengekspor produk specialty tea ke Taiwan, seiring meningkatnya permintaan dunia terhadap teh dengan cerita asal-usul yang kuat, dari Taiwan, Jepang, Uni Emirat Arab, hingga Eropa.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat pun mendorong strategi “premiumisasi,” yakni menaikkan kualitas dan nilai jual daripada terus mengandalkan volume ekspor teh curah yang harganya rendah. Langkah ini penting, sebab pada periode 2024 ke 2025, ekspor teh Indonesia justru turun sekitar 16 persen akibat rendahnya daya saing dan dominasi penjualan teh curah tadi. Sementara itu, potensi pasar sebenarnya terbuka lebar, mulai dari Malaysia, Rusia, Australia, hingga negara-negara peminum teh berat seperti Pakistan, India, dan Turki yang belum digarap maksimal.
Reputasi Baik Belum Otomatis Menyejahterakan Petani
Di balik semua data ekspor dan pengakuan pasar dunia, ada kenyataan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari petani dan pemetik teh di kebun. Produksi besar dan reputasi tinggi tidak serta-merta berubah menjadi pendapatan yang layak bagi mereka yang memetik pucuk daun setiap pagi.
Nilai tambah dari daun teh sebagian besar baru muncul setelah melewati proses pengolahan, pengemasan, dan pemasaran, tahapan yang sering kali berada jauh dari tangan petani maupun pemetik itu sendiri. Selama rantai nilai ini belum berpihak lebih adil ke hulu, teh Jawa Barat akan terus menghadapi paradoks yang sama: dipuji di meja minum negara lain, tetapi belum sepenuhnya menyejahterakan orang-orang yang menanamnya di lereng-lereng Priangan.
Cerita teh Jawa Barat di mata dunia, pada akhirnya, bukan hanya soal seberapa jauh daunnya sudah melintasi batas negara. Ia juga soal seberapa banyak nilai dari perjalanan itu yang akhirnya kembali ke tangan petani yang memulainya. (Vry)






