Petani Kuningan Beralih ke Kacang Tanah

Petikhasil.id, KUNINGAN — Musim kemarau mulai mengubah wajah persawahan di Desa Galaherang, Kecamatan Maleber, Kabupaten Kuningan. Lahan yang biasanya ditanami padi kini dipenuhi guludan tempat petani menanam kacang tanah.

Berkurangnya pasokan air irigasi membuat petani memilih komoditas yang lebih tahan terhadap kondisi kering. Kacang tanah menjadi pilihan utama karena tanaman ini membutuhkan air lebih sedikit dibandingkan padi.

Pantauan di areal persawahan Desa Galaherang pada Kamis (16/7/2026) menunjukkan banyak petani bekerja sejak pagi. Mereka mencangkul tanah, membuat guludan, lalu menanam benih kacang tanah secara manual.

Sisa jerami hasil panen padi masih terlihat di beberapa petak sawah. Sementara itu, debit air di saluran irigasi terus menurun. Air hanya mengalir tipis di sejumlah titik, terutama di bagian hilir.

Baca Juga: Edamame di Tanah Priangan: Kacang Jepang yang Laku di Pasar Lokal

Petani memilih tanaman yang lebih aman

Wawan (48), salah seorang petani setempat, mengatakan peralihan dari padi ke kacang tanah sudah menjadi pola tahunan saat musim kemarau tiba. Menurutnya, menanam padi saat air berkurang akan meningkatkan risiko gagal panen.

“Kalau dipaksa tanam padi sekarang, kebutuhan airnya banyak. Air dari sungai mulai berkurang. Kacang tanah lebih aman karena kebutuhan airnya tidak sebanyak padi,” kata Wawan, Jumat (17/7/2026).

Selain lebih hemat air, kacang tanah juga membantu petani menekan biaya produksi. Pengeluaran untuk pengairan dan pemeliharaan tanaman menjadi lebih ringan dibandingkan saat mereka menanam padi.

Petani lain, Bais (38), mengatakan sebagian besar petani di Desa Galaherang memilih pola tanam yang sama. Mereka berharap cuaca tetap mendukung hingga masa panen tiba sekitar tiga bulan mendatang.

“Kalau cuaca mendukung, sekitar tiga bulan sudah bisa dipanen. Yang penting harga jangan sampai turun waktu panen,” ujarnya.

BMKG mengingatkan puncak kemarau

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau berlangsung pada Juli hingga September 2026. Pada Agustus, puncak kemarau akan meluas ke 369 Zona Musim atau sekitar 48,84 persen wilayah Indonesia.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap dampak kekeringan. Menurutnya, masyarakat perlu menjaga ketersediaan air, kesehatan, pertanian, dan sektor ekonomi lain selama musim kemarau.

Baca Juga: 300 Petani Karawang Belajar Teknologi Hortikultura Modern, dari pH Tanah hingga Varietas Unggul

Data Jawa Barat

Jawa Barat menjadi salah satu provinsi yang memasuki puncak musim kemarau pada Agustus 2026. Kabupaten Kuningan, yang memiliki banyak lahan pertanian tadah hujan dan irigasi, perlu mengelola air secara cermat agar produktivitas pertanian tetap terjaga.

Bagi petani Galaherang, beralih ke kacang tanah bukan sekadar mengganti tanaman. Keputusan itu menjadi cara mereka menjaga lahan tetap produktif, mengurangi risiko kerugian, dan mempertahankan penghasilan keluarga di tengah musim kemarau yang semakin panjang. (PtrA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *