PM-AAS Janjikan Panen Padi 12,4 Ton per Hektare, tetapi Sawah Petani Bukan Ruang Uji yang Seragam

Petikhasil.id, BANDUNG — Kementerian Pertanian sedang memperkenalkan Pertanian Modern–Advanced Agriculture System atau PM-AAS sebagai cara baru untuk meningkatkan produksi padi di lahan yang sudah ada.

Kementan menyebut metode tersebut menargetkan hasil minimal 10 ton per hektare. Dalam pengujian lapangan, produktivitasnya diklaim pernah mencapai 12,4 ton per hektare. Angka itu jauh lebih tinggi daripada hasil konvensional sekitar 5–6 ton per hektare yang menjadi pembanding pemerintah.

PM-AAS memadukan pengalaman budidaya dari beberapa negara dengan sistem jajar legowo yang berkembang di Indonesia. Pemerintah juga memasukkan mekanisasi, penanaman benih langsung, pengaturan populasi, serta pengelolaan input secara presisi.

Baca Lainya: Panen Padi Kuningan Lebih Cepat 2026 | Luas Panen Padi dan Jagung di Jawa Barat 2025 Naik Menjadi 916.798 Hektare

PM-AAS bukan hanya soal menanam lebih rapat

Salah satu prinsip PM-AAS ialah menambah populasi tanaman. Sistem ini memakai pola jajar legowo, terutama formasi 6:1, agar jumlah tanaman meningkat tanpa menutup akses cahaya matahari.

Metode tersebut juga memakai sistem tanam benih langsung atau direct seeding. Petani tidak perlu membuat persemaian dan memindahkan bibit satu per satu. Pemerintah menilai cara ini dapat mengurangi kebutuhan tenaga kerja dan mempercepat proses tanam.

Menurut perhitungan Kementan, biaya tanam pindah dapat mencapai sekitar Rp3 juta per hektare. PM-AAS dengan tanam benih langsung diklaim dapat menekan biaya tersebut menjadi sekitar Rp600 ribu per hektare. Petani juga dapat memulai mekanisasi dengan alat sederhana seperti drum seeder.

Namun populasi yang lebih besar membawa kebutuhan baru. Tanaman membutuhkan pasokan air, nutrisi, cahaya, dan perlindungan dari hama secara lebih disiplin. Jika salah satu unsur tidak terpenuhi, kepadatan tanaman justru dapat menambah persaingan di dalam lahan.

Hasil tinggi membutuhkan pengawalan yang ketat

Kementan menyebut keberhasilan PM-AAS bergantung pada benih bersertifikat, varietas tahan rebah, pemupukan yang sesuai, pengelolaan air, serta pendampingan penyuluh dan petugas pengendali organisme pengganggu tanaman.

Artinya, petani tidak cukup hanya mengubah jarak tanam. Mereka juga harus menyesuaikan hampir seluruh pengelolaan budidaya.

PM-AAS telah diterapkan di 15 provinsi dengan luas sekitar 2.000 hektare. Di Kabupaten Sidenreng Rappang dan Soppeng, Sulawesi Selatan, Kementan mencatat hasil sekitar 11 ton per hektare.

Capaian tersebut menarik. Namun angka 12,4 ton tetap perlu dibaca sebagai hasil pengujian, bukan jaminan untuk setiap sawah. Kondisi tanah, varietas, cuaca, air, hama, keterampilan petani, serta kualitas pendampingan berbeda di setiap daerah.

Karena itu, perluasan program perlu membawa data yang lebih terbuka. Petani perlu mengetahui lokasi pengujian, varietas yang digunakan, jumlah pupuk, biaya penuh, kadar air gabah, serta hasil bersih setelah seluruh pengeluaran dihitung.

Keberhasilan tidak cukup diukur dari tonase

Produksi tinggi memang penting. Namun usaha tani baru bisa disebut berhasil ketika pendapatan petani ikut meningkat.

Hasil 10 ton per hektare belum tentu memberi keuntungan terbaik jika petani harus menambah pupuk, pestisida, alat, dan biaya pengairan secara berlebihan. Sebaliknya, hasil yang sedikit lebih rendah bisa lebih menguntungkan jika biaya produksinya jauh lebih hemat.

Karena itu, pemerintah perlu menilai PM-AAS melalui dua ukuran. Ukuran pertama ialah produktivitas per hektare. Ukuran kedua ialah keuntungan bersih yang benar-benar masuk ke tangan petani.

Pemerintah juga perlu memastikan metode ini cocok untuk petani kecil. Teknologi tidak boleh hanya bekerja pada lahan demonstrasi dengan pengawasan penuh, lalu sulit diterapkan ketika pendampingan selesai.

Baca Lainya: Panen Padi Kuningan Lebih Cepat 2026 | Luas Panen Padi dan Jagung di Jawa Barat 2025 Naik Menjadi 916.798 Hektare

PM-AAS membuka harapan bahwa produksi padi dapat meningkat tanpa terus memperluas sawah. Namun keberhasilan sesungguhnya baru terlihat saat petani mampu mengulang hasilnya secara mandiri, dengan biaya yang masuk akal dan risiko yang tetap terkendali.

Sawah petani bukan ruang uji yang seragam. Karena itu, teknologi terbaik bukan hanya teknologi yang menghasilkan angka besar. Teknologi terbaik ialah teknologi yang tetap bekerja ketika sampai di tangan petani biasa. (Vry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *