Petikhasil.id, BANDUNG— Pernyataan bahwa orang desa tidak memakai dolar memang terdengar menenangkan. Namun dalam praktik ekonomi sehari-hari, kenyataannya tidak sesederhana itu. Petani di desa memang tidak membeli dolar di money changer. Mereka juga tidak menyimpan tabungan dalam mata uang asing. Meski begitu, kenaikan nilai dolar tetap bisa menekan biaya hidup, biaya usaha tani, dan daya beli rumah tangga desa.
Masalahnya bukan terletak pada alat pembayaran. Petani tetap memakai rupiah untuk membeli pupuk, pakan, bensin, tahu, tempe, dan kebutuhan rumah tangga lain. Namun banyak barang yang mereka beli memiliki rantai biaya yang terhubung dengan pasar global. Ketika dolar naik dan rupiah melemah, harga-harga di dalam negeri pun ikut terdorong. Jadi, orang desa memang tidak memegang dolar, tetapi mereka tetap membayar dampaknya dengan rupiah.
Baca Lainya: NTP Turun, Tekanan Petani Meningkat | Dari Tomat yang Pernah Jatuh hingga Letus Ekspor Petani Lembang Mencari Jalan Keluar dari Fluktuasi Harga
Desa tidak membeli dolar, tetapi harga di desa ikut bergerak
Banyak orang mengira gejolak nilai tukar hanya terasa di kota besar, pasar modal, atau perdagangan internasional. Padahal, dampaknya bisa sampai ke warung kecil di desa. Begitu nilai dolar naik, biaya impor, biaya logistik, dan ongkos energi ikut tertekan. Tekanan itu lalu merambat ke harga barang yang dipakai petani dan keluarga mereka setiap hari.
Karena itu, yang dirasakan petani bukan angka kurs di layar berita, melainkan harga yang berubah di lapangan. Mereka melihatnya saat membeli pupuk, saat menebus pakan, saat belanja kebutuhan dapur, atau saat membayar ongkos angkut hasil panen.
Pupuk tidak sepenuhnya lepas dari pengaruh dolar
Salah satu contoh paling nyata ada pada pupuk. Indonesia memang memproduksi pupuk di dalam negeri. Namun tidak semua bahan bakunya tersedia penuh dari sumber domestik. Beberapa unsur penting untuk pupuk majemuk masih bergantung pada bahan baku impor. Begitu kurs dolar naik, biaya pengadaan bahan tersebut ikut terdorong.
Selain itu, kenaikan dolar sering berjalan beriringan dengan tekanan harga energi dan logistik. Akibatnya, ongkos distribusi pupuk juga bisa ikut naik. Dalam kondisi seperti ini, petani bukan hanya menghadapi tantangan produksi, tetapi juga tambahan beban biaya dari hulu.
Tekanan kurs juga masuk ke dapur rumah tangga desa
Dampak dolar tidak berhenti di kebun. Ia juga masuk ke meja makan. Salah satu contoh yang paling dekat adalah kedelai. Indonesia masih sangat bergantung pada kedelai impor, terutama untuk bahan baku tahu dan tempe. Ketika dolar naik, harga kedelai impor ikut tertekan. Ujungnya, perajin tahu dan tempe menghadapi biaya bahan baku yang lebih mahal.
Situasi ini penting karena tahu dan tempe merupakan sumber protein murah bagi banyak keluarga desa. Kalau harganya naik, rumah tangga berpenghasilan terbatas akan merasakan tekanan lebih cepat. Jadi, pelemahan rupiah bukan hanya soal petani sebagai produsen, tetapi juga soal petani sebagai konsumen.
Pakan ternak ikut terdampak
Peternak desa pun menghadapi masalah serupa. Sejumlah bahan baku pakan ternak masih terhubung dengan pasar global. Ketika dolar menguat, harga bahan baku tersebut ikut terdorong. Kondisi ini bisa menaikkan ongkos produksi ternak, terutama ayam dan telur.
Bila biaya pakan naik, peternak harus bekerja lebih keras untuk menjaga margin usahanya. Di sisi lain, konsumen desa juga bisa menghadapi harga protein hewani yang lebih mahal. Artinya, dampak kurs bergerak ganda. Ia menekan produsen sekaligus pembeli.
Yang paling terasa adalah daya beli
Bagi petani kecil, persoalan utama bukan sekadar naik atau turunnya kurs dolar. Yang paling terasa justru perubahan daya beli. Ketika biaya hidup naik lebih cepat daripada pendapatan, tekanan langsung terasa di rumah tangga. Penghasilan dari hasil panen belum tentu ikut naik secepat harga kebutuhan pokok.
Dalam situasi seperti itu, petani bisa berada dalam posisi sulit. Mereka harus membeli input usaha tani dengan harga lebih tinggi, tetapi belum tentu menjual hasil panen dengan keuntungan yang ikut membesar. Jika harga pupuk, pakan, transportasi, dan bahan pangan sama-sama naik, maka ruang napas rumah tangga desa akan makin sempit.
Tidak semua petani merugi, tetapi banyak yang tetap rentan
Memang, tidak semua dampak pelemahan rupiah selalu negatif. Beberapa komoditas ekspor bisa mendapat manfaat ketika nilai tukar menguntungkan penjual ke pasar luar negeri. Namun keuntungan ini tidak otomatis dirasakan semua petani.
Sebagian besar petani kecil di desa tidak hanya berperan sebagai penjual hasil panen. Mereka juga pembeli pupuk, pembeli pakan, pembeli bahan bakar, dan pembeli kebutuhan rumah tangga. Karena itu, kenaikan harga hasil panen sering kali belum cukup untuk mengimbangi kenaikan biaya yang mereka tanggung.
Petani butuh perlindungan biaya, bukan sekadar penghiburan
Di titik inilah kritik penting perlu disampaikan. Pernyataan bahwa orang desa tidak memakai dolar memang tidak sepenuhnya salah. Namun pernyataan itu juga tidak cukup untuk menjelaskan realitas ekonomi yang dihadapi petani. Yang dibutuhkan desa bukan hanya kalimat penenang, melainkan perlindungan nyata terhadap biaya produksi dan biaya hidup.
Pemerintah perlu memperkuat pasokan bahan baku pupuk di dalam negeri, menjaga distribusi pupuk tetap lancar, menahan gejolak pangan berbasis impor, dan mengurangi biaya logistik yang membebani desa. Langkah semacam ini lebih penting daripada sekadar mengatakan bahwa orang desa tidak berhubungan langsung dengan dolar.
Baca Lainya: NTP Turun, Tekanan Petani Meningkat | Dari Tomat yang Pernah Jatuh hingga Letus Ekspor Petani Lembang Mencari Jalan Keluar dari Fluktuasi Harga
Dolar tidak terlihat di dompet petani, tetapi dampaknya terasa di sawah dan dapur
Pada akhirnya, petani desa memang tidak bertransaksi memakai dolar. Namun dalam ekonomi modern, pengaruh dolar tidak berhenti di pasar uang. Ia menjalar lewat pupuk, kedelai, pakan, energi, transportasi, dan harga kebutuhan pokok.
Karena itu, kenaikan dolar tetap sangat berpengaruh terhadap petani dan daya beli orang desa. Dampaknya mungkin tidak muncul dalam bentuk lembaran dolar di tangan mereka. Namun dampak itu terasa nyata dalam biaya usaha tani, harga lauk di dapur, dan kemampuan rumah tangga untuk bertahan dari hari ke hari. (Vry)






