Jateng Perkuat Infrastruktur Pertanian Hadapi Puncak Kemarau

Petikhasil.id, SEMARANG — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mulai mempercepat persiapan menghadapi puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September 2026. Pemerintah daerah kini fokus menjaga pasokan air dan mempercepat masa tanam agar produksi pangan tetap terjaga.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah Defransisco Dasilva Tavares mengatakan pihaknya mulai menggenjot percepatan olah lahan untuk memanfaatkan sisa cadangan air tanah.

Salah satu langkah yang kini dijalankan ialah sistem mekanisasi terintegrasi bernama “Sistem Sepur”.

Frans, sapaan akrabnya, menjelaskan sistem tersebut mengatur proses pertanian secara berurutan dan cepat mulai dari panen hingga tanam kembali.

“Setelah panen menggunakan combine harvester, di belakangnya langsung masuk traktor untuk mengolah tanah. Setelah itu kami semprot recomposer menggunakan drone, lalu seminggu kemudian langsung tanam lagi dengan transplanter,” ujar Frans, Kamis (21/5/2026).

Menurut dia, pola kerja berantai itu membantu petani mempercepat masa tanam sehingga lahan tidak terlalu lama menganggur saat musim kemarau mulai datang.

Baca Juga: Tren Herbal Angkat Komoditas Pertanian

Fokus pada Daerah Rawan Kekeringan

Selain percepatan tanam, pemerintah provinsi juga menyiapkan sejumlah langkah lain untuk mengurangi dampak kekeringan.

Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah kini bekerja sama dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) untuk memetakan daerah rawan kekurangan air.

Pemerintah juga mulai mendorong penggunaan varietas padi tahan kekeringan dan berumur pendek seperti Inpago.

Selain itu, petugas lapangan ikut mengawasi dampak perubahan iklim dan potensi serangan organisme pengganggu tanaman (OPT).

Frans mengatakan pemerintah telah menyalurkan berbagai bantuan infrastruktur pengairan melalui APBD dan APBN.

Dari dana APBD, pemerintah membangun 334 unit rehabilitasi jaringan irigasi di 25 kabupaten. Pemerintah juga menambah 75 unit irigasi alternatif di 15 kabupaten.

Sementara melalui APBN, pemerintah menyalurkan 1.823 unit irigasi perpompaan di 30 kabupaten dan 366 unit irigasi perpipaan di 26 kabupaten.

Selain itu, pemerintah membangun 220 unit konservasi air untuk mendukung kebutuhan pertanian saat musim kering.

Pompa Air Mulai Dioptimalkan

Pemerintah kini memberi perhatian khusus pada daerah yang jauh dari sumber air. Wilayah seperti Jepara, Banjarnegara, dan Cilacap masuk dalam prioritas pengawasan.

“Kadang sumber air sudah terbagi di banyak tempat, jadi kami tambah irigasi perpompaan untuk menarik air masuk ke jaringan irigasi,” kata Frans.

Pada wilayah rawan kekeringan, pemerintah mulai menambah sumur dalam dan mengoptimalkan pompa air agar sawah tetap mendapat pasokan air.

Langkah tersebut juga menjadi evaluasi dari kondisi tahun lalu ketika sejumlah daerah hanya mampu menanam satu kali akibat kekeringan panjang.

Pemerintah berharap pembangunan jaringan pengairan sejak akhir 2025 bisa membantu menjaga luas tanam dan produksi pangan Jawa Tengah selama musim kemarau tahun ini.

Bagi petani, musim kemarau bukan hanya soal cuaca panas dan sawah retak. Ketersediaan air menentukan apakah mereka masih bisa menanam atau harus membiarkan lahan kosong selama berbulan-bulan. (PtrA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *