Petikhasil.id, BALI — Musim panen selalu menjadi momen penting bagi petani kopi di Kintamani, Bali. Di balik aroma khas kopi Arabika yang terkenal hingga mancanegara, para petani terus berupaya menjaga produktivitas sekaligus mempertahankan cita rasa yang menjadi identitas daerahnya.
Upaya tersebut mendapat dukungan melalui kolaborasi PT Pusri Palembang, anggota holding PT Pupuk Indonesia (Persero), bersama Kementerian Pertanian. Sinergi itu mereka wujudkan dalam Panen Raya Kopi Arabika di Desa Awan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bali.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari Program Makmur Agrosolution. Program ini mendampingi petani mulai dari penyediaan sarana produksi, edukasi pemupukan berimbang, pendampingan teknis, hingga penguatan kapasitas petani dalam mengelola kebun secara berkelanjutan.
Kopi Arabika Kintamani telah mengantongi Sertifikat Indikasi Geografis sejak 2008. Status tersebut menjaga keaslian kopi yang memiliki karakter rasa citrus dan menjadi salah satu kopi unggulan Indonesia di pasar internasional.
Perwakilan Kementerian Pertanian, Jekvi Hendra, mengingatkan pentingnya menjaga kemurnian varietas kopi yang sesuai dengan ketentuan Indikasi Geografis.
“Varietas seperti Lini S 795, B1 atau Kopyol, USDA 762, Kartika, dan Kobra telah terbukti menghasilkan karakter rasa khas Kopi Arabika Kintamani. Karena itu, petani perlu terus mempertahankan varietas tersebut agar kualitas dan identitas kopi tetap terjaga,” ujarnya.
Ia juga mengajak kelompok tani dan subak abian mengembangkan sumber benih lokal dari tanaman induk yang unggul. Menurutnya, langkah tersebut membantu menjaga mutu kopi sekaligus memperkuat rantai pasok di kawasan Kintamani.
Produktivitas Petani Meningkat
PT Pusri menerapkan pendampingan melalui lahan percontohan atau demplot. Pendekatan tersebut membantu petani menerapkan pemupukan yang lebih tepat sesuai kebutuhan tanaman.
VP Pengelolaan Pelanggan PT Pusri, Arman Zainuddin, mengatakan Program Makmur Agrosolution bertujuan meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kualitas kopi Arabika Kintamani.
“Kami melihat Kopi Arabika Kintamani memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Karena itu, kami terus mendampingi petani agar mampu meningkatkan hasil panen tanpa menghilangkan karakter khas kopi yang sudah dikenal luas,” katanya.
Pendampingan tersebut memberi hasil nyata bagi petani. Ketua Kelompok Tani Dapdap Putih, I Wayan Arsa, mengaku produksi kopinya meningkat setelah mengikuti kegiatan demplot dan menerapkan rekomendasi budidaya.
“Sebelumnya produksi kopi di kebun saya sekitar 1,5 ton. Setelah mengikuti kegiatan demplot dan menerapkan rekomendasi yang diberikan, produksi meningkat menjadi sekitar 3 ton. Hasil ini tentu sangat membantu petani dalam meningkatkan pendapatan,” ujarnya.
Menjaga Daya Saing Kopi Nusantara
Kopi Arabika Kintamani menjadi salah satu komoditas perkebunan yang membawa nama Indonesia ke pasar dunia. Keberhasilan menjaga kualitas kopi tidak hanya bergantung pada kondisi alam, tetapi juga pada kemampuan petani menerapkan budidaya yang tepat serta mempertahankan standar mutu.
Baca Juga: Jabar Perkuat Resi Gudang untuk Petani Kopi, Teh, dan Kakao
Data Jawa Barat
Jawa Barat juga memiliki sejumlah sentra kopi Arabika yang terus berkembang, antara lain di Kabupaten Bandung, Garut, Cianjur, Kuningan, Sumedang, dan Tasikmalaya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik dan Dinas Perkebunan Jawa Barat, kopi menjadi salah satu komoditas perkebunan yang terus mengalami peningkatan nilai ekonomi. Pengalaman pendampingan petani di Kintamani dapat menjadi pembelajaran bagi pengembangan kopi berkualitas di berbagai daerah, termasuk Jawa Barat.
Bagi petani, kualitas kopi tidak hanya ditentukan saat panen. Perawatan kebun, pemilihan benih, pemupukan, hingga pengolahan pascapanen menentukan nilai jual setiap biji kopi. Ketika petani menguasai seluruh proses tersebut, peluang memperoleh harga yang lebih baik pun semakin terbuka. (PtrA)






