Ditjenbun Kembangkan Kawasan Tebu 2026

Petikhasil.id, JAKARTA — Kementerian Pertanian mempercepat pengembangan kawasan tebu nasional pada 2026 untuk mengejar target swasembada gula. Melalui Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), pemerintah menargetkan pengembangan tebu seluas 97.970 hektare dengan dukungan anggaran APBN sekitar Rp1,3 triliun.

Pemerintah memusatkan pengembangan di sejumlah sentra tebu nasional. Jawa Timur menjadi wilayah utama, disusul Lampung, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Pemerintah juga mulai membuka kawasan baru di Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, Gorontalo, dan Banten.

Ditjenbun membahas percepatan program tersebut dalam Rapat Koordinasi Percepatan Kegiatan Kawasan Tebu.

Baca Juga: Kebijakan Kebun Tebu Industri Gula Jadi Beban

Pemerintah Kejar Penyelesaian Lahan dan Benih

Ditjenbun kini mengejar penyelesaian Calon Petani dan Calon Lahan (CPCL). Pemerintah menargetkan seluruh proses selesai sebelum pertengahan Mei 2026, menjelang musim giling yang dimulai pada 17 Mei 2026.

Pemerintah ingin memastikan petani sudah siap menanam ketika musim giling dimulai. Karena itu, Ditjenbun juga mempercepat penyediaan benih melalui kontrak berjalan dan sumber benih yang sudah tersedia di daerah.

Pemerintah lalu menyesuaikan jadwal tanam dengan masa tebang dan giling yang berlangsung dari Mei hingga November 2026. Sejumlah daerah bahkan mulai membuka areal tanam sejak April agar petani tidak kehilangan waktu tanam.

Pemerintah juga memindahkan sebagian lokasi program ke daerah yang memiliki kesiapan lebih baik. Langkah itu bertujuan mempercepat realisasi program di lapangan.

Risiko Cuaca Jadi Perhatian

Kementerian Pertanian mulai mengantisipasi dampak cuaca terhadap produksi tebu. Risiko El Nino menjadi perhatian karena dapat memicu kekeringan di lahan perkebunan.

Karena itu, pemerintah menyiapkan sumber air dan pompanisasi untuk menjaga kebutuhan air tanaman selama musim kering.

Selain memperluas areal, pemerintah juga terus memantau perkembangan program 2025 dan 2026. Pemerintah ingin menjaga produktivitas tebu dan rendemen gula tetap stabil.

Di lapangan, banyak petani masih menghadapi biaya produksi yang terus naik. Sebagian petani juga masih kesulitan memperoleh benih dan pasokan air yang memadai.

Pemerintah Libatkan BUMN dan Swasta

Pemerintah turut memperkuat kerja sama dengan berbagai pihak untuk mendukung pengembangan tebu nasional. PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), pelaku usaha, dan pabrik gula swasta mulai memperkuat koordinasi di lapangan.

Mereka mengonsolidasikan penyediaan benih, pengolahan lahan, hingga penyerapan hasil panen petani.

Plt Direktur Jenderal Perkebunan Ali Jamil mengatakan program tersebut tidak hanya mengejar peningkatan produksi gula nasional, tetapi juga memperkuat kesejahteraan petani.

“Ke depan, percepatan pengembangan kawasan tebu diharapkan mampu meningkatkan produksi dan rendemen gula nasional sekaligus memperkuat kemandirian industri gula dari hulu hingga hilir,” ujarnya.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman juga menegaskan pemerintah ingin mengurangi ketergantungan impor gula untuk kebutuhan dalam negeri.

Menurutnya, seluruh pihak perlu bergerak cepat mulai dari penyiapan lahan, benih, hingga penguatan industri gula nasional.

Bagi daerah penghasil tebu, target swasembada tidak hanya soal angka produksi. Petani juga berharap industri gula kembali memberi keuntungan yang layak sehingga lahan tebu tidak terus kalah bersaing dengan komoditas lain yang dianggap lebih menguntungkan. (PtrA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *