Cirebon Siapkan Benih Tebu Unggul

Petikhasil.id, CIREBON — Tebu bukan hanya soal batang panjang yang tumbuh di lahan panas. Di banyak desa Cirebon, tebu menjadi sumber penghidupan, harapan panen, dan penyangga ekonomi keluarga petani. Namun selama bertahun-tahun, petani menghadapi persoalan yang sama: kualitas benih menurun, hasil panen stagnan, dan biaya produksi semakin berat.

Kini, Kabupaten Cirebon menyiapkan langkah baru melalui pembangunan Kebun Benih Datar (KBD). Pemerintah memproyeksikan kawasan ini menjadi pusat benih tebu unggul nasional. Program ini menjadi bagian dari upaya hilirisasi pertanian untuk memperkuat produktivitas tebu sekaligus mendukung target swasembada gula nasional.

Pemerintah menempatkan perbenihan sebagai titik awal pembenahan rantai produksi. Tujuannya jelas, agar petani tidak lagi bergantung pada benih turun-temurun yang selama ini menurunkan rendemen dan hasil panen.

Tenaga Ahli Menteri Pertanian, Hermansyah, mengatakan KBD akan menjadi pusat penyediaan benih tebu bermutu yang terstandar, sehat, dan sesuai dengan kondisi lahan setempat.

Baca Juga: Kebijakan Kebun Tebu Industri Gula Jadi Beban

Benih Unggul Menjadi Kunci

Menurut Hermansyah, petani tidak selalu harus memperluas lahan tanam untuk meningkatkan produktivitas. Perbaikan kualitas benih justru menjadi langkah paling mendasar untuk menaikkan hasil kebun rakyat.

Ia menilai Cirebon memiliki agroklimat yang kuat untuk menjadi pusat perbenihan tebu di Jawa Barat.

Tebu menjadi komoditas utama di wilayah ini. Jika petani memperbaiki benih dari sumbernya melalui KBD, dampaknya akan menjalar ke produksi, kualitas gula, hingga pendapatan petani.

Selama ini, banyak petani menghadapi persoalan yang sama dari musim ke musim. Kualitas benih terus menurun, biaya perawatan naik, tetapi hasil panen tidak banyak berubah.

KBD hadir untuk memutus siklus itu. Petani akan mendapat benih unggul yang seragam, sehat, dan siap tanam sehingga hasil panen bisa meningkat lebih stabil.

Petani Membutuhkan Alat Modern

Di lapangan, petani melihat benih unggul harus berjalan bersama modernisasi alat pertanian. Rahmat, petani tebu asal Karangsembung yang juga Ketua Koperasi Semangat Masyarakat (SEMAR), menilai benih bagus tidak akan maksimal tanpa dukungan alat dan mesin pertanian.

Menurutnya, petani membutuhkan traktor, sugar cane harvester, dan drone pertanian untuk mempercepat proses budidaya.

Rahmat menyebut tantangan terbesar bukan hanya soal teknis tanam, tetapi juga keterbatasan tenaga kerja dan menurunnya minat generasi muda untuk masuk ke sektor pertanian.

Modernisasi menjadi jalan agar proses tanam, pemeliharaan, hingga panen berjalan lebih cepat dan efisien.

Jika hasil lebih cepat terlihat, pertanian bisa menjadi sektor yang lebih menarik bagi anak muda.

Harapan Baru bagi Petani Tebu

KBD di Cirebon juga diharapkan menjadi model pengembangan perbenihan berbasis wilayah. Petani dan pemerintah akan memproduksi serta menyeleksi benih langsung sesuai karakter lahan setempat sehingga risiko ketidaksesuaian varietas bisa ditekan.

Dampaknya bukan hanya pada peningkatan tonase tebu, tetapi juga pada rendemen gula yang selama ini menjadi keluhan petani dan pabrik gula.

Hermansyah menegaskan bahwa pembangunan KBD bukan proyek jangka pendek. Perbenihan merupakan investasi jangka panjang yang mungkin tidak langsung terlihat hasilnya dalam satu musim, tetapi memberi dampak berkelanjutan.

Ia juga menekankan pentingnya pendampingan teknis, distribusi benih yang tepat sasaran, dan dukungan alat modern agar program tidak berhenti sebagai proyek percontohan semata.

Bagi petani, keberadaan KBD menjadi harapan baru untuk keluar dari pola produksi yang stagnan. Ketika benih membaik dan alat tersedia, panen bukan lagi sekadar menunggu keberuntungan, tetapi hasil dari sistem yang benar-benar dibangun dari akarnya. (PtrA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *