Saat Koperasi Susu Bubar, Peternak Arjasari Bangun Penampungan dari Nol

Petikhasil.id, ARJASARI — Bagi peternak sapi perah, masalah tidak selalu datang dari kandang. Kadang, persoalan paling berat justru muncul setelah susu diperah. Itulah yang pernah dialami peternak sapi perah di Arjasari. Pada 2015, koperasi tempat mereka menyetor susu berhenti beroperasi. Keadaan itu memutus jalur penjualan dan membuat banyak peternak kehilangan pegangan.

Di tengah situasi itu, para peternak tidak memilih berhenti. Mereka mencari jalan baru agar susu tetap tersalurkan. Dari situlah Kelompok Ternak Sukasari mulai dibangun. Langkah ini lahir dari kebutuhan yang mendesak, bukan dari kondisi yang serba siap. Saat itu, para peternak hanya terbiasa memerah susu lalu menyetorkannya ke koperasi. Mereka belum punya pengalaman mengelola penampungan sendiri.

Krisis pascapanen memaksa peternak belajar cepat

Jefri Tir Purmadi, Ketua Kelompok Ternak Sukasari, bercerita bahwa masa awal itu tidak mudah. Para peternak masih minim pengetahuan soal pengolahan susu. Mereka belum benar-benar memahami cara menjaga mutu, mengenali kualitas susu yang baik, atau mempertahankan suhu agar susu tidak cepat rusak. Namun mereka sadar, tanpa penampungan, hasil perah harian akan kehilangan nilai jual.

Kesadaran itu mendorong mereka bergerak. Alih-alih menunggu pihak lain datang membantu, mereka mulai membangun penampungan sendiri. Keputusan itu menjadi titik penting. Dari sana, peternak Arjasari tidak lagi hanya berperan sebagai penghasil susu, tetapi juga mulai belajar mengurus pascapanen.

Baca Lainya: Majalengka Bangun Sentra Sapi Perah Baru untuk Dorong Produksi Susu Jawa Barat | Usaha Sapi Perah di Arjasari Masih Menjanjikan untuk Anak Muda

Sukasari tumbuh dari langkah kecil

Kelompok Ternak Sukasari berdiri pada pertengahan 2015. Pada masa awal, volume susu yang mereka himpun masih kecil. Jefri menyebut kelompok ini mula-mula hanya mengumpulkan sekitar 300 liter susu per hari dari 15 anggota. Jumlah itu memang jauh dari besar, tetapi cukup penting sebagai tanda bahwa peternak masih bisa bertahan.

Waktu membawa perubahan. Setelah melalui proses panjang, penampungan itu berkembang. Kini, dari kandang sendiri dan peternak sekitar, Sukasari bisa menghimpun sekitar 4 ton susu per hari. Hasil itu kemudian disalurkan ke pabrik dan jalur penjualan lain yang membutuhkan susu segar. Perubahan dari 300 liter menjadi 4 ton menunjukkan bahwa daya tahan peternak tidak berhenti di kandang, tetapi juga bergerak di pascapanen.

Modal besar jadi ujian awal

Membangun penampungan susu tentu tidak cukup dengan niat. Peternak juga harus menyiapkan fasilitas yang memadai. Menurut Jefri, salah satu beban paling berat di awal terletak pada biaya pembangunan cooling system dan tangki pendingin. Susu harus disimpan dalam suhu yang tepat. Karena itu, tangki penampungan tidak bisa dibuat sembarangan.

Bagi peternak kampung, kebutuhan seperti ini jelas tidak kecil. Mereka harus mengejar pengetahuan sekaligus modal dalam waktu yang hampir bersamaan. Meski begitu, proses itu tetap dijalani sedikit demi sedikit. Mereka memahami bahwa susu bukan produk yang bisa menunggu lama. Kalau penanganannya salah, kualitas turun dan harga ikut terdampak.

Kampung ikut bergantung pada penampungan susu

Cerita Sukasari tidak berdiri sendiri. Di baliknya ada kampung yang cukup bergantung pada pertanian dan peternakan. Dalam transcript liputan, Jefri menuturkan bahwa banyak warga menggantungkan hidupnya pada sektor ini. Karena itu, saat penampungan lama bubar, ia merasa iba pada masyarakat yang masih bertahan di sapi perah. Perasaan itulah yang ikut menguatkan tekadnya membangun penampungan baru.

Agus Sofian, penyuluh pertanian yang mendampingi wilayah tersebut, juga menggambarkan situasi serupa. Menurutnya, pada masa itu koperasi yang menampung susu peternak memang gulung tikar. Setelah itu, Kelompok Sukasari mulai merekrut anggota dan mencari jaringan baru agar susu tetap terserap. Upaya itu kemudian berlanjut melalui kerja sama dengan pihak lain sampai akhirnya susu bisa tersalurkan kembali ke industri.

Dari limbah ke pupuk, dari kandang ke manfaat baru

Perkembangan Sukasari tidak berhenti pada penjualan susu. Pendampingan juga masuk ke pengelolaan limbah. Agus menjelaskan bahwa dulu limbah ternak kerap dibuang ke sungai. Kini, peternak mulai mengolahnya menjadi pupuk organik. Pupuk itu kemudian dipakai kembali untuk kebun rumput odot. Setelah rumput tumbuh, peternak memanfaatkannya lagi sebagai pakan ternak.

Selain itu, sebagian limbah ternak juga mulai diarahkan menjadi gas untuk kebutuhan rumah tangga. Perubahan ini membuat peternakan terasa lebih utuh. Kandang tidak hanya menghasilkan susu, tetapi juga memberi manfaat lain bagi lingkungan sekitar.

Penampungan susu ikut menggerakkan ekonomi desa

Di Arjasari, dampak penampungan susu juga terasa di tingkat kampung. Jefri menyebut delapan pekerja membantu kegiatan di kandangnya, dan sebagian besar berasal dari lingkungan sekitar. Kehadiran penampungan membuat usaha peternakan tidak hanya menopang pemilik kandang, tetapi juga ikut membuka ruang kerja bagi warga setempat.

Dari sini terlihat bahwa pascapanen bukan urusan kecil. Saat jalur penjualan putus, yang terpukul bukan hanya peternak, tetapi juga ekonomi desa. Sebaliknya, ketika penampungan tumbuh, manfaatnya ikut menyebar ke lebih banyak orang.

Dari masa sulit lahir daya tahan peternak

Kisah Sukasari menunjukkan bahwa peternak bisa bertahan saat jalur lama runtuh. Mereka tidak langsung punya semua jawaban. Mereka juga tidak memulai dari kondisi ideal. Namun mereka mau belajar, berani menanggung proses, dan pelan-pelan membangun sistem sendiri.

Baca Lainya: Majalengka Bangun Sentra Sapi Perah Baru untuk Dorong Produksi Susu Jawa Barat | Usaha Sapi Perah di Arjasari Masih Menjanjikan untuk Anak Muda

Pada akhirnya, penampungan susu di Arjasari bukan sekadar bangunan dengan tangki dingin. Tempat itu menjadi simbol daya tahan peternak desa. Dari sana, susu tetap mengalir, pekerjaan tetap berjalan, dan kampung tetap punya alasan untuk bertahan. Dalam dunia peternakan, kadang harapan memang tidak datang dari sesuatu yang besar. Ia justru tumbuh dari keputusan sederhana untuk tidak menyerah saat saluran lama tiba-tiba hilang. (Vry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *