Petikhasil.id, BANDUNG — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi melihat ada ironi yang terus berulang dalam dunia kerja. Mereka yang menganggur, kata dia, justru banyak datang dari kelompok berpendidikan relatif tinggi. Sementara mereka yang tetap bekerja, dalam banyak kasus, berasal dari latar pendidikan yang lebih rendah.
Bagi Dedi, persoalannya bukan semata karena lapangan kerja tidak ada. Masalah yang lebih dalam, menurut dia, justru terletak pada cara sekolah membentuk bayangan tentang pekerjaan. Dunia pendidikan, katanya, terlalu lama mendorong anak-anak muda untuk memburu sektor formal, sementara ruang kerja lain yang sesungguhnya terbuka lebar justru kerap dipandang sebelah mata.
“Mereka yang nganggur itu rata-rata memiliki pendidikan relatif tinggi. Nah, mereka yang tidak nganggur itu rata-rata pendidikannya rendah,” ujar Dedi Mulyadi dalam wawancara yang ditayangkan di kanal YouTube pribadinya.
Baca Lainya: MBG Jawa Barat Diminta Jadi Mesin Ekonomi Daerah Dedi Mulyadi Dorong Petani Kecil Masuk Rantai Pasok Sekolah | Dedi Mulyadi di Garut: Dorong Pertanian Terintegrasi, Bansos Berbasis Kerja, dan Mental “Pemberi”
Ia melanjutkan, ruang kerja sebenarnya sangat terbuka. Namun sekolah, menurutnya, selalu membangun pikiran orang untuk bekerja pada sektor formal. Akibatnya, banyak lulusan kemudian menumpuk di antrean yang sama, mulai dari pabrik hingga ASN.
Pendidikan membentuk antrean yang seragam
Pernyataan Dedi itu terasa dekat dengan kenyataan di banyak daerah, termasuk di Jawa Barat. Sejak lama, banyak anak dibesarkan dengan gambaran bahwa pekerjaan yang baik selalu berada di kantor, pabrik, atau instansi pemerintah. Sementara kerja-kerja yang tumbuh dari desa, kebun, dapur, kandang, atau keterampilan tangan sering dianggap kurang menjanjikan.
Padahal bagi Dedi, justru di luar jalur formal itulah banyak ruang kerja yang mulai sepi penerus. Ia mencontohkan pekerjaan seperti anyaman bilik, industri makanan tradisional, memetik teh, hingga komoditas kopi yang masih menyimpan nilai ekonomi tinggi, tetapi semakin jarang ditekuni.
Di titik ini, pesan Dedi terasa penting bagi dunia pertanian. Sebab apa yang ia sebut sebagai ruang kerja nonformal sesungguhnya sangat dekat dengan kehidupan desa. Pertanian, perkebunan, pengolahan pangan, hingga peternakan adalah bagian dari pekerjaan yang selama ini menopang hidup masyarakat, tetapi tidak selalu dianggap sebagai cita-cita oleh generasi muda.
Pertanian dan peternakan sering kalah gengsi
Apa yang disampaikan Dedi seolah menyentuh persoalan lama di sektor pangan. Banyak anak muda tumbuh di keluarga petani atau peternak, tetapi tidak dibesarkan dengan keyakinan bahwa kebun dan kandang juga bisa menjadi masa depan. Yang dibangun justru keinginan untuk keluar dari desa dan masuk ke pekerjaan formal yang dianggap lebih bergengsi.
Akibatnya, sawah tetap membutuhkan tangan, kebun tetap membutuhkan tenaga, teh tetap harus dipetik, sapi tetap harus dirawat, pangan tetap harus diolah, tetapi semakin sedikit generasi muda yang merasa pekerjaan itu layak dipilih.
Padahal, bila dibaca lebih dalam, ucapan Dedi membuka satu pesan yang kuat. Dunia kerja tidak hanya berada di kawasan industri. Ia juga ada di lahan pertanian, di peternakan rakyat, di usaha pangan lokal, dan di berbagai ruang hidup yang selama ini dianggap biasa. Justru dari sanalah kebutuhan nyata masyarakat terus berjalan setiap hari.
Bagi Petik Hasil, pembacaan seperti ini penting. Sebab krisis tenaga muda di pertanian dan peternakan bukan hanya soal minat yang menurun, tetapi juga soal cara kita mendidik anak-anak melihat kerja. Ketika sekolah hanya mengarahkan pada sektor formal, maka kebun dan kandang pelan-pelan ditinggalkan, meski keduanya tetap menjadi penyangga hidup banyak orang.
Pekerjaan desa bukan sisa, tapi masa depan
Dalam wawancara itu, Dedi juga menekankan pentingnya inovasi dan kreativitas. Ia melihat pasar kerja bisa dibangun dalam ruang inovasi, termasuk lewat vokasi yang tepat. Pesan ini bisa dibaca lebih luas sebagai dorongan agar pendidikan tidak berdiri jauh dari kebutuhan nyata di lapangan.
Untuk pertanian dan peternakan, artinya cukup jelas. Anak muda tidak cukup hanya diberi tahu cara mencari kerja. Mereka juga perlu dikenalkan bahwa pekerjaan di desa bisa berkembang jika dibarengi inovasi. Bertani hari ini tidak harus berhenti pada cangkul dan panen mentah. Beternak juga tidak selalu sekadar memelihara ternak. Di dalamnya ada ruang pengolahan, pemasaran digital, manajemen usaha, agrowisata, logistik pangan, hingga pengembangan produk turunan.
Dengan kata lain, pertanian dan peternakan bukan sektor sisa. Keduanya justru bisa menjadi ruang tumbuh ekonomi baru bila dibaca dengan cara pandang yang lebih segar.
Pernyataan Dedi tentang teh, kopi, dan makanan tradisional memberi petunjuk ke sana. Ia sedang menunjukkan bahwa pekerjaan yang tampak sederhana justru menyimpan pasar yang tetap hidup. Persoalannya hanya satu, apakah ada cukup orang yang mau menekuninya dengan serius.
Link and match juga harus menyentuh desa
Dedi mengatakan pemerintah ingin mendorong agar link and match pendidikan berjalan. Selama ini istilah itu sering dipahami sebatas hubungan antara sekolah dan industri. Namun jika dibawa ke konteks Jawa Barat yang lebih luas, link and match seharusnya juga berarti hubungan antara sekolah dan kehidupan desa.
Anak-anak di daerah pertanian, misalnya, perlu dikenalkan bahwa ilmu sekolah bisa dipakai untuk mengembangkan usaha tani keluarga. Anak-anak di kawasan peternakan juga perlu melihat bahwa kandang bukan lambang ketertinggalan, melainkan ruang produksi yang bisa naik kelas jika dikelola dengan ilmu, teknologi, dan pasar yang tepat.
Jika hubungan itu tidak dibangun, maka pendidikan hanya akan terus mengirim anak-anak muda ke antrean yang sama. Sementara sektor-sektor yang sebenarnya hidup di sekitar mereka kehilangan penerus sedikit demi sedikit.
Mengembalikan martabat kerja pangan
Di ujungnya, pernyataan Dedi Mulyadi bukan hanya soal pengangguran terdidik. Ia juga menyentuh satu hal yang lebih mendasar, yakni cara kita memandang pekerjaan. Jawa Barat tidak akan cukup dibangun hanya dengan mengandalkan pabrik dan kantor. Daerah ini juga ditopang oleh kebun teh, kopi, sawah, peternakan rakyat, dapur pangan tradisional, dan kerja-kerja desa yang sering luput dari sorotan.
Baca Lainya: MBG Jawa Barat Diminta Jadi Mesin Ekonomi Daerah Dedi Mulyadi Dorong Petani Kecil Masuk Rantai Pasok Sekolah | Dedi Mulyadi di Garut: Dorong Pertanian Terintegrasi, Bansos Berbasis Kerja, dan Mental “Pemberi”
Karena itu, jika sekolah ingin benar-benar menyiapkan masa depan, maka pertanian dan peternakan tidak boleh terus diletakkan di pinggir. Keduanya harus masuk kembali ke percakapan tentang cita-cita, keterampilan, dan pekerjaan yang layak.
Sebab dari sanalah pangan lahir. Dan tanpa orang-orang yang mau kembali menekuni kebun serta kandang, kita mungkin akan terus punya lulusan, tetapi kekurangan orang yang benar-benar menjaga kehidupan. (Vry)






