Petikhasil.id, MEDAN — Teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai masuk ke industri kelapa sawit nasional. Teknologi ini tidak lagi sekadar menjadi alat digital, tetapi mulai membantu perusahaan menentukan kualitas tandan buah segar (TBS), memantau operasional pabrik, hingga membaca potensi kerugian produksi secara real-time.
Praktisi Perkumpulan Praktisi Profesional Perkebunan Indonesia (P3PI), Tony Liwang, mengatakan perkembangan AI akan mengubah cara industri sawit bekerja dalam beberapa tahun ke depan.
Ia menyampaikan hal tersebut dalam Socfindo Conference on Practical Application & Exhibition (Scopex) 2026.
Menurut Tony, perkembangan AI bergerak sangat cepat, mulai dari era pencarian informasi hingga generative AI dan agentic AI yang kini mulai berkembang.
“Dulu era memorizing, kemudian era Google, lalu algoritma media sosial. Sekarang masuk era generative AI dan agentic AI,” ujarnya.
Tony menjelaskan generative AI kini sudah banyak digunakan sebagai “konsultan digital” yang mampu menjawab berbagai pertanyaan secara instan. Sementara agentic AI mulai berkembang menjadi asisten virtual yang dapat membantu pekerjaan administratif hingga penyusunan perjalanan.
Baca Juga: Limbah Sawit Jadi Biogas Pembangkit Listrik
AI Mulai Bantu Sortasi Buah Sawit
Di industri sawit, salah satu penerapan AI yang mulai berkembang ialah teknologi grading TBS berbasis AI atau AI FFB Grading Technology.
Teknologi tersebut membantu perusahaan mendeteksi tingkat kematangan tandan sawit secara otomatis dengan tingkat akurasi tinggi.
Menurut Tony, teknologi itu sudah digunakan di beberapa perusahaan sawit untuk memindai kualitas tandan sebelum masuk ke pabrik.
“Teknologi grading ini bisa membaca apakah tandan matang atau tidak dan bagaimana kondisinya,” katanya.
Selama ini, banyak pabrik masih menerima tandan yang sebenarnya belum layak olah. Kondisi itu sering memicu kehilangan minyak atau oil losses karena kandungan minyak pada buah masih rendah.
Tony menyebut di lapangan masih banyak tandan sulit dipanen sehingga pekerja harus mendorong atau menginjak buah saat panen berlangsung.
“Masih banyak tandan susah dipanen sampai didorong dan diinjak sehingga terjadi oil losses,” ujarnya.
Melalui sistem AI grading, perusahaan dapat memindai tandan sawit lalu mengelompokkannya berdasarkan tingkat kematangan dan kualitas buah. Tony menyebut tingkat akurasi teknologi tersebut bahkan bisa mencapai 98 persen.
Pabrik Mulai Gunakan Monitoring Real-Time
Selain untuk grading buah, perusahaan sawit juga mulai memakai AI dalam operasional pabrik kelapa sawit.
Sistem ini memungkinkan manajemen memantau kinerja pabrik secara langsung, mulai dari oil extraction rate (OER), efisiensi mesin, konsumsi energi, hingga potensi gangguan operasional.
AI juga membantu tim engineering memprediksi jadwal perawatan mesin sehingga perusahaan dapat mengurangi risiko kerusakan mendadak.
Menurut Tony, teknologi tersebut membantu perusahaan mengambil keputusan lebih cepat dan lebih objektif karena sistem membaca data secara real-time.
Ia menilai banyak perusahaan selama ini membuang energi dan biaya untuk mengolah tandan yang sebenarnya tidak menghasilkan minyak optimal.
“Hampir 10 persen sebenarnya rejected. Banyak energi dan uang habis padahal buahnya tidak menghasilkan minyak,” katanya.
Industri Sawit Dinilai Harus Bersiap
Tony mengingatkan bahwa AI bukan sekadar tren teknologi, tetapi bagian dari perubahan besar ekonomi global.
Menurutnya, Indonesia masih memiliki waktu untuk mengejar kesiapan transformasi AI, termasuk di sektor perkebunan dan industri sawit.
Ia juga menegaskan AI tidak akan bekerja sendiri. Industri tetap membutuhkan dukungan agronomi, engineering, dan sumber daya manusia yang memahami kondisi lapangan.
Dalam penutup presentasinya, Tony menyebut dunia sedang memasuki era Invisible Interface, yaitu kondisi ketika sistem AI bekerja otomatis di belakang operasional tanpa banyak campur tangan manual.
Meski teknologi semakin canggih, ia menilai manusia tetap memegang peran penting dalam menentukan arah strategi dan pengambilan keputusan.
Bagi industri sawit, kehadiran AI bisa membuka peluang efisiensi yang lebih besar. Namun di sisi lain, teknologi itu juga menuntut kesiapan sumber daya manusia agar modernisasi tidak hanya berhenti pada mesin, tetapi benar-benar membantu memperbaiki produktivitas dan tata kelola perkebunan di lapangan. (PtrA)






