PetikHasil.id, BANDUNG – Di Punclut, Minggu pagi tidak pernah benar-benar sepi. Sejak subuh, udara lembap yang turun dari perbukitan Ciumbuleuit membawa suara khas gesekan terpal, deru motor pengangkut sayur, dan pekik ayam dari dalam kotak bambu. Dalam waktu singkat, jalan Bukit Raya Atas berubah menjadi lautan manusia.
Inilah Pasar Kaget Minggu Punclut, pasar yang hanya hidup beberapa jam, tapi mampu menghidupi ratusan keluarga. Ia muncul, tumbuh, lalu menghilang setiap Minggu, meninggalkan aroma tanah, tawa anak-anak, dan harapan kecil dari pedagang rakyat.
Pasar yang Tak Pernah Diumumkan Tapi Selalu Dikenang
Tak ada spanduk, tak ada jam buka resmi. Tapi ribuan orang tahu: setiap Minggu pagi, jalan menuju Punclut akan berubah menjadi pasar rakyat. Menurut data Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Bandung tahun 2024, lebih dari 1.000 pedagang informal berjualan di wilayah Ciumbuleuit–Punclut setiap pekan, menghasilkan perputaran ekonomi harian mencapai ratusan juta rupiah.
“Kalau Minggu, suasananya kayak lebaran. Semua orang turun ke jalan,” ujar Rian (27), pengunjung asal Setiabudi. “Orang datang buat olahraga, tapi ujung-ujungnya belanja.”
Suasana pasar itu lebih mirip festival rakyat. Aroma sate kelinci bercampur dengan kopi hitam, suara pedagang bersahutan, dan tawa anak-anak jadi musik latar yang tidak pernah selesai.
Berita Lainya: Ayam Sentul Bangkit dari Ciamis Menjaga Warisan, Menata Pasar | Strawberry Mini Ciwidey Makin Diminati Wisatawan dan Pasar Modern
Dari Lereng ke Lapak
Pedagang di Punclut datang dari berbagai penjuru Bandung Raya Cimenyan, Lembang, Cisarua, bahkan Garut. Mereka membawa hasil kebun dan ternak skala rumah tangga sayuran segar, bunga, bibit, hingga ternak kecil. Pak Hendri (42), petani tanaman hias asal Cimenyan, bercerita kepada Petik Hasil
“Saya datang jam empat subuh. Bawa 50-an pot tanaman dari kebun, jam delapan udah habis. Di sini cepat laku, pembelinya dari kota semua.”
Pasar kaget memberi ruang langsung bagi petani mikro untuk menjual hasilnya tanpa tengkulak. Meski hanya buka beberapa jam, omzet sehari bisa setara dengan seminggu berdagang di pasar tradisional.
Anak Ayam Warna-Warni yang Jadi Bintang Minggu Pagi
Di antara ratusan lapak, satu sudut selalu dipadati anak-anak. Mereka berhenti di depan kandang kecil milik Arif Rahman (28), pedagang anak ayam warna-warni dan bebek mini.
“Warnanya merah, biru, kuning, ungu semuanya pakai pewarna makanan biar aman,” ujar Arif kepada Petik Hasil (02/11/2025). “Banyak yang beli buat peliharaan di rumah. Kalau besar, biasanya dipotong sendiri.”
Anak ayam warna-warni itu jadi daya tarik tersendiri. Dalam sehari, Arif bisa menjual 30 hingga 50 ekor anak ayam, dengan harga antara Rp5000 per ekor. Ada juga yang membeli ayam Arab jenis unggas cepat tumbuh dan rajin bertelur, dibanderol lebih tinggi sekitar Rp20.000.

“Lucunya, anak-anak sekarang bukan cuma senang warnanya, tapi benar-benar rawat ayamnya. Jadi selain lucu, bisa jadi awal belajar tanggung jawab,” kata Arif tersenyum.
Bagi Arif, lapak kecil di Punclut bukan sekadar tempat berdagang. Itu tempat di mana ia merasa usahanya hidup. “Kalau nggak ada pasar minggu ini, saya bingung jualnya ke mana,” tambahnya.
Hidup Sehari, Penghidupan Sepekan
Menurut data BPS Kota Bandung (2023), sektor informal seperti pasar mingguan dan pedagang kaki lima menyerap lebih dari 57% tenaga kerja kota. Di Punclut, aktivitas pasar kaget hanya berlangsung dari pukul 05.00 hingga 11.00, namun mampu menggerakkan perputaran uang antara Rp400–700 juta dalam satu pagi dari pedagang sayur, ayam, jajanan, hingga ojek pengangkut barang.
“Kalau cuaca bagus kayak gini, Alhamdulillah laku. Rezekinya cukup buat seminggu,” ujar Ibu Yani (51), pedagang bebek dan telur asin yang sudah berdagang di Punclut sejak 2015.
Pasar Punclut membuktikan bahwa ketika ruang kota memberi tempat bagi rakyat kecil, maka ekonomi akan menemukan jalannya sendiri bahkan di antara tikungan jalan dan kabut pegunungan.
Pasar yang Perlu Dijaga
Namun pasar ini tidak tanpa tantangan. Persoalan klasik di Punclut kemacetan, tumpukan sampah, dan ketidakteraturan lapak. Pemerintah Kota Bandung sedang menyiapkan penataan berbasis zonasi pedagang dan pasar wisata mingguan untuk menjaga keseimbangan antara wisata, ekonomi, dan lingkungan.
Jika berhasil, Punclut bisa menjadi model “pop-up market rakyat” pasar tradisional yang hanya hidup sebentar tapi berdampak panjang.
Refleksi Petik Hasil
Di balik tawa anak-anak yang menenteng anak ayam berwarna merah muda, ada kisah perjuangan orang-orang kecil yang tak pernah disebut di laporan ekonomi. Mereka bangun saat subuh, menempuh jarak jauh, dan pulang sebelum siang membawa sisa dagangan, harapan, dan rasa syukur yang sederhana.
Pasar Minggu Punclut mungkin hanya hidup setengah hari. Tapi dari sana, ratusan dapur tetap berasap, ratusan anak bisa sekolah, dan Bandung punya alasan untuk tersenyum setiap Minggu pagi. (Vry)






