Petikhasil.id, JAKARTA — Pengamat pertanian menilai prospek panen padi nasional pada 2026 cukup menjanjikan. Namun, fokus kebijakan pemerintah yang bergeser ke komoditas lain berpotensi menjadi kendala bagi produksi.
Pengamat sekaligus Pengurus Pusat Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) Khudori mengatakan perkembangan penanaman hingga akhir 2025 menunjukkan arah positif bagi produksi padi tahun depan.
Merujuk kerangka sampel area Badan Pusat Statistik (BPS) amatan Oktober 2025, Khudori menilai produksi padi pada Januari 2026 diperkirakan cukup tinggi.
Menurutnya, jika tidak terjadi gangguan bencana besar seperti yang melanda Sumatra pada akhir November lalu, panen Februari 2026 juga diproyeksikan kuat.
Berita Lainya: Produksi Beras Baru Penuhi 22% Kebutuhan, Lahan Sawah Belum Optimal | Gerakan Sunyi Menghidupkan Kembali Sawah Cirebon
“Bahkan, amat mungkin di Februari 2026 sudah ada panen besar, disusul puncak panen di Maret atau April,” kata Khudori, Selasa (9/12/2025).
Namun, Khudori menuturkan perkiraan cuaca BMKG hingga pertengahan 2026 menunjukkan kondisi iklim berada pada kategori normal. Artinya, pola budidaya dan pola tanam kemungkinan tidak banyak bergeser dari tahun ini, sehingga peluang produksi padi tetap besar.
Meski demikian, Khudori mengingatkan adanya potensi hambatan dari perubahan arah kebijakan pemerintah.
“Satu yang perlu diingat, tahun depan sepertinya fokus kerja pemerintah akan ke komoditas lain selain padi dan jagung. Yang sudah disampaikan ke publik adalah kedelai, ubi kayu, dan kacang hijau,” ujarnya.
Dia menilai perubahan fokus tersebut kemungkinan dibarengi dengan penyesuaian alokasi anggaran dan sumber daya, termasuk tenaga pendamping dan dukungan teknis di lapangan. Kondisi ini, sambung dia, dapat membuat produksi padi dan jagung stagnan atau bahkan menurun pada 2026.
Sebaliknya, Khudori menyebut komoditas yang menjadi fokus baru pemerintah berpeluang meningkat karena mendapat tambahan dukungan anggaran dan sumber daya.
Dalam catatan Bisnis, Kementerian Pertanian (Kementan) mengungkap rencana pemerintah memanfaatkan lahan sitaan negara untuk ditanami komoditas kedelai hingga 1 juta hektare.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan lahan sitaan yang belum tertanami sawit akan menjadi salah satu fokus pengembangan kedelai.
“Jadi lahan baru, lahan X, yang disita tetapi belum ada sawitnya kami tanami, rencana tanami kedelai,” kata Amran saat ditemui di kediamannya, Jakarta, dikutip pada Minggu (23/11/2025).
Amran menyampaikan program kedelai menjadi prioritas utama dalam agenda perluasan komoditas strategis. Nantinya, program perluasan 1 juta hektare kedelai ini akan dijalankan secara bertahap.
Langkah optimalisasi lahan ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan impor. Sebab, kebutuhan kedelai nasional terus meningkat setiap tahun, terutama untuk industri pangan dan pakan.***






