Petikhasil.id, Jakarta — Di tengah perubahan struktur ekonomi dan pergeseran lapangan kerja, sektor pertanian masih memegang peran besar sebagai penyangga kerja nasional. Data terbaru menunjukkan bahwa hingga November 2025, pertanian tetap menjadi sektor dengan penyerapan tenaga kerja terbesar di Indonesia, mengungguli perdagangan dan industri pengolahan.
Berdasarkan rilis resmi Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk bekerja di Indonesia tercatat mencapai 147,91 juta orang. Dari angka tersebut, tiga lapangan usaha menyerap porsi terbesar tenaga kerja nasional, yakni pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan kepada publik bahwa ketiga sektor tersebut masih menjadi tulang punggung penyerapan tenaga kerja. Ia menegaskan bahwa hampir seluruh lapangan usaha mengalami peningkatan jumlah pekerja dibandingkan periode sebelumnya.
Baca Lainya: Petani Milenial di Kawasan Ciayumajakuning Tembus 79.000 | Petani Milenial Go Digital: Saatnya Bertani Jadi Gaya Hidup Anak Muda
Secara proporsi, sektor pertanian menyerap 27,99 persen tenaga kerja nasional per November 2025. Angka ini menunjukkan bahwa lebih dari seperempat penduduk bekerja Indonesia masih bergantung pada aktivitas pertanian, baik di hulu maupun hilir. Dibandingkan Agustus 2025, jumlah tenaga kerja pertanian bertambah sekitar 161 ribu orang.
Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa sektor pertanian tetap menjadi ruang bertahan bagi tenaga kerja, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi dan keterbatasan lapangan kerja formal di sektor lain. Bagi banyak rumah tangga, pertanian masih berfungsi sebagai jaring pengaman ekonomi.
Pertanian bertahan sebagai penyerap kerja terbesar
Di posisi kedua, sektor perdagangan menyerap 18,67 persen tenaga kerja nasional. Sepanjang Agustus hingga November 2025, sektor ini mencatatkan penambahan sekitar 168 ribu orang tenaga kerja. Aktivitas perdagangan, baik formal maupun informal, masih menjadi pilihan utama masyarakat perkotaan dan pinggiran kota.
Sementara itu, industri pengolahan berada di urutan ketiga dengan porsi 13,86 persen tenaga kerja. Dalam periode yang sama, sektor ini mencatat penambahan tenaga kerja sekitar 196 ribu orang. Peningkatan ini menunjukkan adanya pemulihan dan ekspansi terbatas di sektor manufaktur, meskipun tantangan efisiensi dan biaya produksi masih membayangi.
Jika dilihat dari dinamika antarperiode, perdagangan dan industri pengolahan menjadi dua sektor dengan penambahan tenaga kerja paling konsisten selama Agustus hingga November 2025. Hal ini mengindikasikan pergeseran sebagian tenaga kerja dari sektor primer ke sektor sekunder dan tersier, meskipun belum menggeser dominasi pertanian secara keseluruhan.
Perubahan lapangan kerja belum menggeser dominasi desa
Selain tiga sektor utama tersebut, lapangan usaha akomodasi serta makanan dan minuman mencatat peningkatan tenaga kerja paling tinggi secara nominal. Pada November 2025, sektor ini menambah sekitar 381 ribu orang tenaga kerja dibandingkan Agustus 2025. Kenaikan ini sejalan dengan pemulihan aktivitas pariwisata, jasa boga, dan konsumsi masyarakat.
Namun, data BPS juga menunjukkan bahwa tidak semua sektor mengalami pertumbuhan. Aktivitas jasa lainnya serta pengadaan listrik dan gas justru mencatat penurunan jumlah tenaga kerja. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pemulihan pasar kerja berjalan tidak merata antar sektor.
Data ini menegaskan satu hal penting. Meski industrialisasi dan perdagangan terus berkembang, pertanian masih menjadi fondasi ketenagakerjaan nasional. Di banyak daerah, terutama perdesaan, sektor ini bukan hanya sumber pangan, tetapi juga ruang kerja utama yang menampung jutaan tenaga kerja dengan latar belakang dan keterampilan beragam.
Kondisi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa transformasi ekonomi tidak bisa dilepaskan dari realitas lapangan. Selama sektor nonpertanian belum mampu menyerap tenaga kerja dalam skala besar dan merata, pertanian akan terus memikul peran sosial yang strategis.
Baca Lainya: Petani Milenial di Kawasan Ciayumajakuning Tembus 79.000 | Petani Milenial Go Digital: Saatnya Bertani Jadi Gaya Hidup Anak Muda
Ke depan, tantangannya bukan hanya menciptakan lapangan kerja baru, tetapi memastikan bahwa sektor dengan penyerapan terbesar seperti pertanian mendapatkan perhatian kebijakan yang sepadan. Tanpa peningkatan produktivitas, pendapatan, dan perlindungan kerja, besarnya penyerapan tenaga kerja justru bisa menjadi beban struktural.
Data BPS memberi gambaran jelas bahwa pertanian belum tergantikan. Ia masih menjadi tempat bergantung bagi jutaan orang, sekaligus cermin bahwa pembangunan ekonomi Indonesia masih bertumpu pada kekuatan desa dan sektor pangan.






