Petikhasil.id, BANDUNG — Tak perlu hamparan tanah luas untuk bertani. Cukup sebuah gang kecil, pipa plastik, pompa kecil, dan tekad yang tidak gampang layu. Itulah yang kini menjadi wajah baru pertanian modern di Jawa Barat, terutama di wilayah Bandung, Lembang, Bogor, dan Sukabumi.
Fenomena hidroponik tumbuh cepat karena satu alasan sederhana masyarakat kota ingin lebih dekat dengan pangan mereka. Lahan makin sempit, tetapi keinginan makan sayur yang lebih segar justru semakin besar.
Bandung menjadi episentrum gerakan ini. Data Dinas Ketahanan Pangan Kota Bandung 2024 menunjukkan semakin banyak warga memulai kebun kecil hidroponik, baik sebagai hobi maupun usaha mikro. Lembang menyusul dengan kebun profesional berteknologi greenhouse yang memasok hotel dan ritel premium. Bogor dan Sukabumi menambah warna dengan komunitas-komunitas belajar hidroponik yang aktif.
Baca Lainya: Petani Digital: Hidroponik Jadi Bisnis Menguntungkan di Era Media Sosial | Belajar dari Nabila Farm: Inovasi Pertanian Hidroponik di Tengah Iklim yang Tidak Menentu
Rudi, 33 tahun, adalah salah satu wajah pertanian modern di kota. Dulu ia bekerja sebagai barista di sebuah kafe di Dago, tetapi pandemi membuat kafe tempatnya bekerja tutup permanen. Dari rasa bosan di rumah, ia membeli tiga pipa paralon sisa renovasi dan mulai merakit sistem hidroponik sederhana.
“Selada pertama saya rasanya kayak dapat gaji pertama. Padahal cuma 300 gram,” ujarnya sambil tertawa.
Kini Rudi memasok 25–30 kilogram sayuran ke restoran sehat di kawasan Riau setiap minggu. “Orang kota sekarang maunya sayur segar, bersih, dan traceable. Mereka senang kalau lihat foto kebun saya,” tambahnya.
Di sisi lain, petani hidroponik di Lembang bekerja dalam skala yang lebih besar. Suhu dingin mendukung produktivitas, sementara greenhouse modern membuat kualitas tetap stabil. Banyak dari mereka memasok supermarket besar. Menurut laporan Kementerian Pertanian, produksi selada hidroponik Lembang pada 2024 mencapai lebih dari 9.000 ton, menjadikannya salah satu sentra selada hidroponik terbesar di Jawa Barat.
Ketika Sayuran Menjadi Cerita
Pertanian hidroponik menarik bukan saja karena teknologinya, tetapi karena kisah manusia di baliknya. Salah satunya adalah Yani, ibu rumah tangga di Bogor yang awalnya hanya menanam untuk konsumsi keluarga. Kini ia membuka kelas hidroponik untuk ibu-ibu PKK.
“Saya kasih tahu mereka, kalau bisa masak sayur sop, pasti bisa nanam hidroponik. Bedanya cuma lebih bersih,” ujar Yani sambil tersenyum.
Anak-anak yang ikut kelasnya selalu terpesona saat melihat akar putih menggantung tanpa tanah. Banyak dari mereka yang pulang membawa gelas plastik berisi bibit kangkung yang kemudian tumbuh, meski sering kebanyakan disiram sampai mengapung seperti kapal kertas.
Kisah lain datang dari Sukabumi. Di sana, seorang petani hidroponik bernama Rangga pernah ditelepon pelanggan karena seladanya “terlalu renyah.” Rangga hanya tertawa. “Saya bilang, itu bukan masalah, itu kelebihan,” katanya.
Menjawab Tantangan Kota
Meski terlihat sederhana, bertani hidroponik tetap penuh tantangan. Kualitas air harus stabil. pH harus dijaga. Nutrisi harus tepat. Cuaca ekstrem bisa mengganggu pertumbuhan. Dan tentu saja, biaya listrik untuk pompa perlu diperhitungkan.
Namun tantangan itu justru membuat banyak anak muda tertarik. Hidroponik memberi ruang eksperimen layaknya bermain gim strategi ada sistem, ada variabel, ada hasil yang bisa dilihat setiap hari.
Dan di tengah harga pangan yang sering naik-turun, hidroponik menghadirkan sedikit ketenangan. Setidaknya, ada sayur hasil tangan sendiri yang bisa masuk dapur.
Pertanian Masa Depan yang Turun ke Gang-Gang Kota
Pertanian hidroponik bukan hanya gaya hidup baru. Ia adalah bentuk adaptasi masyarakat terhadap perubahan ruang, iklim, dan kebutuhan pangan. Dari Lembang yang sejuk hingga gang-gang kota Bandung yang padat, hidroponik membuktikan bahwa pertanian bisa tumbuh di ruang mana saja bahkan di tempat yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.
Dan mungkin, suatu hari nanti, kota-kota besar tak lagi hanya dipenuhi gedung dan kendaraan, tetapi juga barisan selada, pakcoy, dan bayam yang tumbuh dari pipa-pipa putih buatan warga. (Vry)






