Produksi Mangga Cirebon Turun 15 Persen Sentra Utama Alami Kontraksi Tajam

Petikhasil.id, CIREBON – Produksi mangga di Kabupaten Cirebon mengalami penurunan signifikan sepanjang 2025. Data dalam publikasi Kabupaten Cirebon Dalam Angka 2026 mencatat total produksi mangga tahun 2025 sebesar 379.220,13 kuintal. Angka ini turun dari capaian 2024 yang mencapai 447.769,58 kuintal.

Artinya, terjadi penurunan sekitar 68.549,45 kuintal atau sekitar 15 persen secara tahunan.

Kepala Badan Pusat Statistik Kabupaten Cirebon, Januarto Wibowo, menyampaikan bahwa data tersebut merupakan hasil kompilasi laporan pertanian dari seluruh kecamatan di wilayah Cirebon.

“Jika dibandingkan 2024, produksi mangga memang mengalami penurunan sekitar 15 persen. Ini terlihat dari total akumulasi produksi yang lebih rendah pada 2025,” ujarnya.

Baca Lainya: Perkebunan Sawit di Cirebon Ganti jadi Mangga Gincu | Distanhorti Perkuat Pendampingan Bagi Petani Mangga di Wilayah Cirebon

Sejumlah Sentra Produksi Mengalami Penurunan Tajam

Penurunan produksi terjadi di beberapa kecamatan yang selama ini dikenal sebagai sentra mangga. Di Palimanan, produksi turun dari 28.487,50 kuintal pada 2024 menjadi 13.768,00 kuintal pada 2025.

Kecamatan Gempol juga mengalami kontraksi dari 32.221,60 kuintal menjadi 21.523,00 kuintal. Susukan Lebak turun dari 20.500,00 kuintal menjadi 10.300,00 kuintal.

Beberapa wilayah bahkan mencatat penurunan lebih tajam. Kecamatan Beber merosot dari 10.680,00 kuintal menjadi 3.510,00 kuintal. Greged turun dari 21.050,00 kuintal menjadi 9.162,20 kuintal.

Ketika beberapa sentra utama mengalami penurunan bersamaan, dampaknya langsung terasa pada total produksi kabupaten.

Baca Lainya: Perkebunan Sawit di Cirebon Ganti jadi Mangga Gincu | Distanhorti Perkuat Pendampingan Bagi Petani Mangga di Wilayah Cirebon

Sedong Justru Mengalami Kenaikan

Di tengah tren penurunan, Kecamatan Sedong mencatat peningkatan produksi. Pada 2024 Sedong menghasilkan 73.737,00 kuintal, lalu naik menjadi 90.055,00 kuintal pada 2025.

Sementara Lemahabang tetap menjadi salah satu kontributor terbesar meski turun dari 70.875,00 kuintal menjadi 60.750,00 kuintal.

Dukupuntang juga mengalami penurunan dari 49.398,60 kuintal menjadi 32.572,00 kuintal. Susukan tercatat menghasilkan 14.100,00 kuintal pada 2025, turun dari 21.175,00 kuintal tahun sebelumnya.

Secara struktur, produksi mangga Cirebon masih bertumpu pada kecamatan seperti Sedong, Lemahabang, Dukupuntang, Gempol, dan Palimanan. Ketika sebagian besar wilayah tersebut melemah, total produksi kabupaten ikut terkoreksi.

Faktor Iklim dan Siklus Panen Berpengaruh

Menurut BPS, fluktuasi produksi hortikultura seperti mangga umumnya dipengaruhi kondisi cuaca, siklus panen, serta perubahan luas panen.

Perubahan curah hujan, pergeseran musim, hingga serangan hama dapat berdampak langsung pada pembungaan dan pembentukan buah. Mangga termasuk tanaman yang sensitif terhadap pola musim, terutama pada fase pembentukan bunga dan buah.

Penurunan produksi sebesar 15 persen ini berpotensi memengaruhi pasokan di pasar, terutama saat permintaan meningkat pada musim tertentu. Jika produksi berkurang sementara permintaan tetap tinggi, harga di tingkat konsumen bisa terdorong naik.

Tekanan bagi Hortikultura Daerah

Kabupaten Cirebon selama ini dikenal sebagai salah satu sentra mangga di Jawa Barat. Komoditas ini menjadi bagian penting dari subsektor buah-buahan dalam perekonomian pertanian daerah.

Secara agregat, kontraksi produksi menunjukkan adanya tekanan pada sektor hortikultura lokal. Jika tren ini berlanjut, kontribusi mangga terhadap pendapatan petani dan perputaran ekonomi daerah dapat terdampak.

Data produksi menjadi pengingat bahwa sektor buah-buahan sangat bergantung pada stabilitas iklim dan manajemen budidaya. Di balik angka statistik, ada petani yang menghadapi risiko musim, biaya produksi, dan ketidakpastian hasil panen. (PtrA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *