Produksi Padi Indramayu Mencapai 1,63 Juta Ton di 2025

Petikhasil.id, INDRAMAYU- Produksi padi di Kabupaten Indramayu menembus 1,63 juta ton sepanjang 2025. Hal ini menempatkan daerah lumbung padi terbesar di Jawa Barat ini kembali dalam posisi strategis untuk menjaga stabilitas stok beras nasional.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Indramayu, Sugeng Heriyanto, menegaskan percepatan musim tanam pada 2025 ini berjalan sesuai rencana.

Bahkan, wilayah irigasi Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum memulai tanam sejak 1 Oktober, sehingga siklus produksi bergerak lebih awal dibanding musim sebelumnya. 

“Sebanyak 1,6 juta ton itu per November 2025. Kami optimis sampai angka 1,7 juta ton hingga akhir Desember,” kata Sugeng, Jumat (5/12/2025).

Berita Lainya: Produksi Padi Tetap Aman di Tengah Banjir Aceh-Sumatra | Pemkab Kuningan targetkan surplus padi 120.000 ton di 2025

Selain itu, Sugeng memaparkan, penambahan luas tanam menjadi langkah krusial untuk mengejar target produksi. Ekspansi 21 ribu hektare di 2025 menjadi salah satu tonggak penting, terutama karena lahan tadah hujan mulai menerima pasokan air dari jaringan irigasi teknis. 

Optimalisasi infrastruktur air membuka peluang produksi baru yang sebelumnya sulit dimaksimalkan. Dampaknya terlihat jelas pada akumulasi panen hingga akhir November yang mencapai 1,63 juta ton.

Optimisme pemerintah daerah menguat seiring kesiapan wilayah sentra pertanian. Kecamatan Gantar, Kroya, dan Terisi merupakan tiga kawasan yang bergerak cepat dalam memulai musim tanam. 

Total luasan 2.624 hektare di tiga kecamatan tersebut memasuki fase tanam lebih awal untuk menyesuaikan pola air dan memperpanjang periode produksi. 

“Langkah ini sekaligus menekan potensi gagal panen akibat anomali cuaca, terutama pada curah hujan yang fluktuatif,” kata Sugeng.

Kesiapan sarana produksi juga disorot menjadi bagian penting dalam strategi mempercepat musim tanam. Pemerintah daerah mengusulkan alokasi pupuk bersubsidi sebesar 70 ribu ton urea dan 69 ribu ton NPK untuk menopang kebutuhan petani selama musim tanam 2025/2026. 

Permintaan besar ini sejalan dengan perluasan lahan dan intensitas tanam yang meningkat. Kesesuaian pasokan pupuk diproyeksikan menjaga produktivitas lahan tetap stabil serta meningkatkan rendemen gabah di tingkat petani.

Di sisi lain, percepatan musim tanam menandai perubahan pola kerja pertanian Indramayu yang kini mengandalkan manajemen irigasi modern. Integrasi antara jadwal tanam, ketersediaan air, dan distribusi pupuk menjadi satu kesatuan sistem produksi. 

Pemerintah daerah menilai, koordinasi antara petani, kelompok tani, penyuluh, dan BBWS menjadi kunci untuk menjaga kelancaran siklus produksi di seluruh wilayah.

Berita Lainya: Produksi Padi Tetap Aman di Tengah Banjir Aceh-Sumatra | Pemkab Kuningan targetkan surplus padi 120.000 ton di 2025

Ketersediaan air dari dua jaringan irigasi besar membantu mengurangi ketergantungan petani pada curah hujan yang sulit diprediksi. 

Sistem irigasi berjadwal memungkinkan petani memulai tanam lebih cepat, melakukan pengendalian gulma lebih efektif, dan mematangkan rencana panen secara lebih presisi. Kemajuan ini membantu mempersempit risiko penurunan produksi akibat perubahan iklim ekstrem.

Sugeng mengatakan, Pemerintah daerah menilai pencapaian tersebut terjangkau karena sebagian besar area tanam baru memasuki fase generatif dan diperkirakan selesai dipanen sebelum pergantian musim. 

“Produksi padi Indramayu sepanjang 2025 mencerminkan soliditas struktur pertanian yang adaptif terhadap perubahan iklim dan dinamika pangan nasional,” tutup Sugeng.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *