Sejarah Perkembangan Ayam Broiler di Indonesia: Dari Impor DOC hingga Industri Unggas Modern

Petikhasil.id, – Ayam broiler saat ini menjadi salah satu sumber protein utama bagi masyarakat Indonesia. Mulai dari warung makan hingga restoran modern, hampir semua lini kuliner mengandalkan ayam broiler karena harganya terjangkau, mudah diolah, dan ketersediaannya stabil. Namun tak banyak yang tahu bahwa perjalanan broiler di Indonesia sangat panjang—mulai dari masa impor bibit, teknologi kandang sederhana, hingga kini menjadi industri modern bernilai triliunan rupiah.

Berikut sejarah lengkap perkembangannya.

Awal Masuknya Broiler ke Indonesia (1960-an): Era Perintis

Ayam broiler mulai masuk ke Indonesia pada awal 1960-an, ketika pemerintah dan sejumlah perusahaan asing memperkenalkan DOC (Day Old Chick) broiler dari Amerika Serikat dan Eropa. Saat itu, broiler belum sepopuler ayam kampung. Masyarakat masih menganggap ayam putih sebagai produk mahal dan hanya disediakan untuk hotel dan restoran besar.

Kandang yang digunakan pun masih sederhana, berupa kandang postal tradisional dengan ventilasi alami.

1970–1980-an: Kebangkitan Industri Unggas Komersial

Pada era 1970-an, permintaan ayam potong meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan urbanisasi. Perusahaan-perusahaan besar mulai membangun industri pakan dan memproduksi bibit ayam melalui sistem kemitraan.

Di periode ini, beberapa tonggak penting terjadi:

  • Mulai adanya integrator pertama, perusahaan yang menguasai pakan, bibit, dan pemasaran.
  • Kandang intensif mulai diperkenalkan untuk memaksimalkan populasi ayam.
  • Ayam broiler menjadi lebih terjangkau, sehingga masyarakat mulai mengenalnya sebagai pilihan protein sehari-hari.

Era ini disebut masa “booming” pertama unggas modern Indonesia.

Baca lainnya: Bisnis Olahan Durian, Dari Kue Kering Sampai Es Lumer, Ini Ide Usaha yang Laku Sepanjang Tahun

1990-an: Kemajuan Genetik dan Pakan

Masuknya teknologi genetika modern pada awal 1990-an membuat broiler bisa tumbuh lebih cepat dan efisien. Pada periode ini:

  • Broiler sudah bisa mencapai 1,4–1,8 kg dalam 35–40 hari.
  • Industri pakan berkembang pesat dengan formulasi nutrisi lebih presisi.
  • Dokter hewan dan ahli nutrisi unggas mulai berperan besar dalam manajemen farm.

Di fase ini, banyak peternak kecil mulai ikut budi daya melalui sistem kemitraan, yang memperkuat rantai pasok nasional.

2000-an: Revolusi Manajemen Kandang dan Biosekuriti

Memasuki tahun 2000-an, tantangan penyakit seperti flu burung mendorong peternak mengadopsi standar biosekuriti yang lebih ketat. Ini menjadi salah satu titik balik besar.

Beberapa inovasi yang berkembang:

  • Kandang tertutup (closed house) mulai diperkenalkan
  • Sistem ventilasi tunnel, cooling pad, dan sensor suhu otomatis
  • Vaksinasi dan biosekuriti menjadi standar wajib
  • Perusahaan integrator makin menguatkan sistem suplai nasional

Dengan perbaikan manajemen, performa broiler semakin meningkat dan angka mortalitas dapat ditekan.

2010–2020: Ekspansi Teknologi, kemitraan, dan IoT

Dekade ini menjadi era modernisasi industri ayam broiler. Hampir semua aspek terpengaruh teknologi:

  • Feeder otomatis dan drinker sistem nipple
  • Pengaturan cahaya berbasis komputer
  • Analisis performa ayam harian menggunakan aplikasi farm
  • Tracking distribusi dan pemotongan di RPH modern

Broiler modern kini bisa mencapai 1,8–2,2 kg hanya dalam 28–32 hari, jauh lebih cepat dibanding era 1970-an.

Baca lainnya: Mitos dan Fakta Ikan Mas: Antara Keberuntungan, Larangan, dan Kenyataan Ilmiah

Era Modern: Broiler sebagai Industri Protein Berkelanjutan

Kini, ayam broiler menjadi industri yang sangat modern, menggabungkan:

  • Genetik unggul
  • Teknologi sensor & IoT
  • Manajemen nutrisi presisi
  • Sistem supply chain yang terintegrasi

Indonesia bahkan menjadi salah satu produsen daging ayam terbesar di Asia Tenggara, dan industri ini terus berkembang mengikuti kebutuhan pangan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *