Petikhasil.id, SUMEDANG— Di banyak daerah, ubi jalar sering dianggap makanan sederhana. Orang membelinya sebagai camilan, lalu selesai di situ. Namun di Sumedang, ubi Cilembu punya cerita yang jauh lebih besar. Umbi ini bukan hanya terkenal karena rasa manisnya, tetapi juga karena menjadi bagian dari identitas daerah dan sumber penghidupan banyak petani.
Saat dipanggang, ubi Cilembu mengeluarkan cairan manis yang kerap disamakan dengan madu. Rasa inilah yang membuatnya berbeda dari banyak ubi jalar lain. Keunikan itu tidak lahir dari promosi semata. Kementerian Pertanian mencatat ubi Cilembu sebagai kultivar lokal asal Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang. Reputasinya juga diperkuat oleh status Indikasi Geografis yang melekat pada nama Ubi Cilembu.
Berita Lainya: Ubi Cilembu: Manis dari Tanah Sumedang, Legenda Ubi yang Tak Bisa Dipalsukan | UMKM Sumedang Dibekali Keterampilan Gunakan AI untuk Tingkatkan Daya Saing
Tumbuh dari Lahan dan Nama Besar Sumedang
Nama besar ubi Cilembu berdiri di atas lahan yang benar-benar produktif. Dalam Statistik Daerah Kabupaten Sumedang 2012, BPS mencatat luas panen ubi jalar naik dari 1.377 hektare pada 2009 menjadi 1.880 hektare pada 2011. Produksinya juga meningkat dari 18.105 ton menjadi 27.620 ton. Angka itu menunjukkan bahwa Sumedang sudah lama punya basis budidaya ubi jalar yang kuat.
Bagi warga desa, ubi Cilembu bukan sekadar hasil kebun. Komoditas ini ikut menggerakkan ekonomi setempat. Dari petani, ubi masuk ke pengepul, pedagang, pasar oleh-oleh, sampai usaha pangan olahan. Karena itu, ketika panen bagus, dampaknya terasa lebih luas. Bukan hanya petani yang terbantu, tetapi juga pelaku usaha kecil yang hidup dari rantai pasoknya.
Nama Cilembu juga memberi nilai tambah yang tidak kecil. Banyak produk pertanian punya hasil melimpah, tetapi tidak semua punya identitas yang kuat. Ubi Cilembu beruntung karena pasar sudah mengenalnya. Saat orang mendengar namanya, yang muncul bukan sekadar ubi jalar, melainkan produk khas Sumedang dengan rasa manis yang spesifik.
Pasar Ekspor Sudah Terbuka
Peluang itu tidak berhenti di pasar lokal. Pemerintah Kabupaten Sumedang pernah menyebut ubi Cilembu telah menembus pasar Jepang, Hong Kong, dan Malaysia. Pada 2022, Jawa Barat juga melepas ekspor ubi Cilembu asal Sumedang ke Hong Kong dengan nilai 300.000 dolar AS. Dari Desa Cilembu, pengiriman ke Singapura juga sempat dilakukan pada 2021.
Fakta ini penting. Artinya, ubi Cilembu tidak hanya kuat sebagai oleh-oleh, tetapi juga punya jalan masuk ke pasar internasional. Di tengah tren pangan sehat dan minat terhadap produk khas daerah, komoditas seperti ubi Cilembu punya daya tarik sendiri. Rasanya khas, asal-usulnya jelas, dan ceritanya kuat. Itu modal besar di pasar modern.
Namun pasar ekspor tidak hanya melihat nama. Mereka menuntut ukuran yang seragam, kualitas yang stabil, dan pasokan yang konsisten. Karena itu, peluang ekspor yang besar juga menuntut kerja lebih rapi dari hulu sampai hilir. Petani, pengepul, pendamping budidaya, hingga pemerintah daerah harus bergerak dalam ritme yang sama.
Tidak Cukup Dijual Mentah
Potensi ubi Cilembu sebenarnya lebih besar lagi jika Sumedang tidak berhenti pada penjualan ubi segar. Kementerian Pertanian mencatat ubi jalar mengandung karbohidrat, vitamin A, vitamin C, mineral, dan antioksidan. Ubi jalar juga berpeluang menjadi bahan pangan fungsional dan bahan baku berbagai produk olahan.
Di sinilah peluang industri lokal terbuka. Ubi Cilembu bisa masuk ke tepung, puree, camilan sehat, bahan bakery, sampai produk pangan modern dengan nilai tambah lebih tinggi. Jika ini berjalan, uang tidak cepat keluar dari desa. Nilai ekonominya bisa tinggal lebih lama di daerah, dan petani tidak sepenuhnya bergantung pada harga ubi segar.
Arah itu mulai terlihat. Pada 2023, Pemkab Sumedang menjalin kerja sama dengan PT Petrokimia Gresik untuk mendukung ketersediaan pupuk bagi petani ubi Cilembu. Pada 2025, Pemkab juga menjajaki kerja sama dengan PT Elevarm untuk pengembangan benih unggul bebas virus, budidaya yang lebih baik, penguatan pascapanen, dan industri olahan berstandar ekspor. Dukungan ini penting karena petani tidak bisa memikul beban perbaikan sendirian.
Tantangan di Kebun Masih Berat
Meski begitu, tantangan ubi Cilembu belum ringan. Dalam pembahasan pengembangan budidaya pada 2025, Pemkab Sumedang menyebut hasil panen petani masih berkisar 15 sampai 20 ton per hektare. Dari jumlah itu, hanya sekitar 25 sampai 30 persen yang masuk grade ekspor. Sisanya harus dijual dengan harga lebih rendah.
Masalah utamanya ada pada mutu yang belum konsisten. Benih belum selalu ideal. Kesuburan tanah di beberapa lahan menurun. Teknik budidaya juga belum seragam. Saat panen datang, kualitas umbi tidak selalu sama. Padahal pasar ekspor menuntut bentuk, ukuran, dan tampilan yang lebih rapi.
Petani juga menghadapi masalah klasik yang tidak mudah diselesaikan. Alih fungsi lahan terus menekan ruang tanam. Hama dan penyakit tanaman masih mengganggu. Rantai tata niaga juga kerap terlalu panjang. Di sisi lain, perubahan cuaca membuat pola tanam makin sulit diprediksi. Untuk komoditas seperti ubi Cilembu, perubahan kecil di kebun bisa langsung memengaruhi rasa dan kualitas.
Berita Lainya: Ubi Cilembu: Manis dari Tanah Sumedang, Legenda Ubi yang Tak Bisa Dipalsukan | UMKM Sumedang Dibekali Keterampilan Gunakan AI untuk Tingkatkan Daya Saing
Karena itu, masa depan ubi Cilembu tidak bisa hanya dibicarakan saat ekspor dilepas atau saat musim liburan datang. Yang lebih penting adalah menjaga petaninya tetap kuat. Mereka butuh benih sehat, pupuk yang terjangkau, pendampingan budidaya, dan pasar yang memberi harga wajar. Ubi Cilembu sudah punya nama, rasa, dan jejak ekspor. Sekarang tantangannya adalah memastikan petani ikut tumbuh bersama besarnya pasar. Sebab komoditas yang kuat bukan hanya yang laku dijual, tetapi juga yang mampu menjaga hidup orang-orang yang menanamnya. (Vry)






