Ubi Cilembu: Manis dari Tanah Sumedang, Legenda Ubi yang Tak Bisa Dipalsukan

Petikhasil.id, SUMEDANG – Di Desa Cilembu, Sumedang, Jawa Barat, tanah bukan sekadar pijakan, tapi rahasia rasa. Dari sinilah ubi manis yang terkenal hingga ke Jepang itu lahir ubi Cilembu. Rasanya tak seperti ubi biasa: manisnya legit, lembut, dan harum seperti madu saat dipanggang. Anehnya, jika ditanam di luar Cilembu, rasa itu hilang.

Penduduk lokal percaya, keunikan itu bukan sekadar faktor genetik, melainkan juga berkah dari karakter tanah vulkanik dan iklim lembap di dataran tinggi Sumedang. Menurut penelitian Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat, kadar maltosa pada ubi Cilembu bisa mencapai 4–6 kali lebih tinggi dibanding varietas ubi lain. Kadar gula alami inilah yang keluar saat dipanggang dan memberi rasa manis alami tanpa tambahan apa pun.

Ubi Cilembu termasuk varietas unggul Ipomoea batatas yang dikenal adaptif, namun rasanya hanya maksimal jika ditanam di tanah lempung berpasir dengan suhu 22–26°C karakter yang khas di kawasan perbukitan Cilembu. Karena itu, ketika banyak daerah mencoba menanam bibitnya di luar Sumedang, hasilnya sering tak sama: manisnya berkurang, aromanya hilang.

Dari Desa ke Dunia

Sejak awal 2000-an, ubi Cilembu menjadi salah satu komoditas ekspor ke Jepang. Menurut data Kementerian Pertanian (2022), ekspor ubi manis dari Indonesia mencapai 12 ribu ton per tahun, dan sebagian besar berasal dari Jawa Barat. Di Jepang, ubi Cilembu dikenal dengan sebutan sweet honey potato, dijual di toko-toko premium karena rasanya unik dan cocok untuk menu musim dingin.

Berita Lainya: “Kopi Bunar: Regenerasi Petani Muda Lewat Kelas Kebun” | Petani Milenial Go Digital: Saatnya Bertani Jadi Gaya Hidup Anak Muda

Kisah petani Cilembu bukan hanya tentang komoditas, tapi juga ketekunan menjaga tradisi. Mereka tetap mempertahankan metode tanam manual: tanpa pupuk kimia berlebih, tanpa penyimpanan panjang, dan selalu memanen pada umur 4–5 bulan agar tekstur tetap lembut. Bagi warga setempat, ubi ini bukan sekadar sumber penghasilan, tapi juga identitas.

Kini, pemerintah daerah bersama Balai Benih Sumedang mendorong sertifikasi Indikasi Geografis (IG) agar nama “Cilembu” terlindungi dari pemalsuan. Upaya ini diharapkan menjaga kualitas dan nilai ekonomi petani, sekaligus menegaskan bahwa keaslian cita rasa memang lahir dari tanah, bukan dari bibit semata.

Ubi Cilembu adalah bukti bahwa di balik kesederhanaan pangan lokal, tersimpan keajaiban sains, alam, dan kearifan petani.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *