Distanhorti Perkuat Pendampingan Bagi Petani Mangga di Wilayah Cirebon

Petikhasil.id, CIREBON – Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) melalui Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (Distanhorti) memperkuat pendampingan bagi petani mangga di wilayah Cirebon dan sekitarnya. 

Daerah sentra produksi seperti Cirebon, Majalengka, Sumedang, hingga Indramayu menjadi fokus pendampingan agar mampu menghasilkan mangga dengan mutu ekspor

Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas produksi mangga gedong gincu agar memenuhi standar ekspor, terutama ke pasar Jepang yang dikenal memiliki regulasi ketat terhadap produk hortikultura.

Kepala Distanhorti Jabar Dadan Hidayat menjelaskan program pendampingan ini merupakan bagian dari strategi pemerintah provinsi dalam memperluas akses pasar luar negeri bagi komoditas unggulan daerah. 

Saat ini, kata dia, tengah dilakukan penjajakan kerja sama dengan komunitas bisnis di Jepang untuk membuka peluang ekspor mangga gedong gincu.

“Potensi pasar di Jepang cukup besar dan sangat prospektif bagi petani di Jawa Barat. Daerah sentra produksi seperti Cirebon, Majalengka, Sumedang, hingga Indramayu menjadi fokus pendampingan agar mampu menghasilkan mangga dengan mutu ekspor,” ujar Dadan, Senin (6/10/2025).

Ia menyebutkan, sebelumnya ekspor mangga gedong gincu dari Jawa Barat sudah pernah dilakukan, namun belum berkelanjutan karena keterbatasan dalam pemenuhan standar mutu internasional.

Kali ini, pemerintah provinsi mengambil langkah serius dengan memperkuat sistem produksi, pengendalian hama, serta penerapan praktik budi daya yang ramah lingkungan.

Berita Lainya: Durian Montong: Raja Buah yang Mengguncang Pasar Lokal dan Ekspor | Buah Naga: Dari “Tanaman Mistis” Jadi Primadona Ekspor

Menurut Dadan, persyaratan utama untuk bisa menembus pasar Jepang adalah zero fruit fly atau bebas dari lalat buah. Untuk itu, Distanhorti menurunkan tenaga Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) guna memastikan kebun mangga terjaga dari hama serta penggunaan pestisida sesuai aturan.

“Lalat buah tidak boleh ditemukan sama sekali. Kami membantu petani melalui tenaga POPT untuk melakukan pengendalian hama, menjaga sanitasi kebun, hingga memastikan pemupukan dan penyemprotan dilakukan sesuai standar ekspor,” jelasnya.

Selain aspek teknis, pemerintah juga menekankan pentingnya keberlanjutan lingkungan. Penggunaan pestisida, misalnya, harus berbasis prinsip Good Agricultural Practices (GAP) dan tidak merusak ekosistem kebun. 

Pendampingan ini diharapkan tidak hanya menghasilkan buah berkualitas ekspor, tetapi juga menjaga keseimbangan alam dan kesehatan tanah.

“Pendekatannya harus ramah lingkungan. Kalau pun memakai pestisida, harus yang sesuai dosis dan ketentuan. Kami ingin petani terbiasa dengan praktik budidaya yang modern dan berkelanjutan,” kata Dadan menambahkan.

Pemerintah provinsi menilai upaya penguatan kualitas ini sebagai bentuk kontribusi konkret untuk meningkatkan daya saing komoditas hortikultura Jawa Barat di pasar global. Selain Jepang, permintaan terhadap mangga gedong gincu juga datang dari Timur Tengah, seperti Uni Emirat Arab.

Bupati Cirebon Imron Rosyadi menyatakan bahwa wilayahnya menjadi salah satu sentra utama penghasil mangga di Jawa Barat. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, total produksi mangga di Kabupaten Cirebon mencapai 447.769,58 kuintal. Dari jumlah tersebut, sebagian besar merupakan varietas gedong gincu yang memiliki cita rasa khas dan nilai jual tinggi.

Ia menambahkan, buah mangga asal Cirebon telah menembus pasar internasional, dengan ekspor tertinggi ke Uni Emirat Arab yang pada April 2023 mencapai nilai transaksi US$13.567,91. Menurutnya, potensi ekspor masih bisa ditingkatkan jika petani mampu menjaga mutu pascapanen dan memenuhi spesifikasi negara tujuan.

“Cirebon sudah cukup dikenal sebagai daerah penghasil mangga unggulan. Kami terus mendorong produktivitas petani melalui berbagai program agar hasilnya bisa bersaing di pasar ekspor,” ujar Imron.

Ia menegaskan, pemerintah daerah berkomitmen memperkuat sinergi dengan Pemprov Jabar dan pihak swasta dalam membangun rantai nilai pertanian yang efisien. 

Dukungan infrastruktur, teknologi budi daya, hingga pelatihan pascapanen menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk memperluas pasar ekspor buah tropis dari Cirebon.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *