Petikhasil.id, SUMEDANG — Di balik aroma lembut dan eksotis vanili, tersimpan kerja panjang yang tak banyak orang tahu. Tak hanya Madagaskar atau Bali, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, kini dikenal sebagai salah satu sentra vanili terbaik di Indonesia. Tepatnya di Kecamatan Surian dan Cimalaka, para petani di sana berhasil menjaga aroma khas vanili melalui metode curing alami yang masih dilakukan secara tradisional, namun dengan standar ketelitian tinggi.
Petani binaan Dinas Perkebunan Jawa Barat dan Balai Perbenihan Tanaman Perkebunan (BPSBP) Jabar rutin menanam vanili di lahan pekarangan, kebun campuran, dan hutan rakyat. Dengan suhu rata-rata 22–25°C dan kelembapan tinggi, wilayah ini menjadi tempat ideal bagi tanaman vanili untuk tumbuh subur dan beraroma kuat.
Curing: Rahasia di Balik Aroma Vanili
Setelah polong vanili matang berwarna hijau tua, para petani biasanya merebusnya sebentar pada suhu 65–70°C untuk menghentikan proses enzimatik. Selanjutnya, polong dibungkus kain dan dikeringkan menggunakan sinar matahari pagi selama 1–2 jam per hari, lalu disimpan semalaman untuk fermentasi alami.
Proses curing ini bisa berlangsung hingga enam bulan. Menurut penelitian IPB University (2023), fermentasi yang tepat membentuk senyawa vanillin, sumber utama aroma khas vanili.
Jika terlalu cepat, aromanya bisa hilang jika terlalu lama, risiko jamur meningkat. Karena itu, banyak petani kini menggunakan anti-jamur alami dari ekstrak daun sirih dan kayu manis, yang menjaga kelembapan tanpa mengubah karakter aroma.
Berita Lainya: Seri Liputan: Kebangkitan MPS Agro Bersama dari Cimanggu | Aquaponik Balkon: Panen Sawi & Lele dari Apartemen
Data BPSBP Jawa Barat mencatat kadar vanillin vanili dari Surian dan Cimalaka mencapai 2,2–2,4%, sedikit lebih tinggi dibanding rata-rata nasional. Angka ini menjadikan vanili Sumedang termasuk kategori premium dan diminati oleh buyer roastery, patisserie, hingga industri es krim di Bandung dan Jakarta.
Kini harga vanili kering dari Sumedang berkisar Rp4,5–5 juta per kilogram, tergantung panjang polong, kadar vanillin, dan tingkat kematangan curing. Untuk menjaga stabilitas kualitas, para petani membentuk koperasi kecil di Desa Pamekarsari, Surian, yang fokus pada grading dan pengemasan.
“Vanili bukan sekadar tanaman bernilai ekonomi, tapi juga cermin kesabaran. Dari proses fermentasi hingga pengeringan, semua dilakukan dengan penuh disiplin,” ujar salah satu penggerak kelompok tani vanili di Surian.
Program sertifikasi benih unggul dan pelatihan pascapanen dari Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat turut memperkuat posisi vanili Sumedang di pasar ekspor. Selain menjadi komoditas bernilai tinggi, vanili juga berpotensi besar menjadi ikon agroedukasi baru bagi wilayah Priangan Timur.***






