Metode Tipak Jadi Terobosan Baru BP Taskin untuk Tekan Kemiskinan Petani di Cirebon

Petikhasil.id, CIREBON — Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) melakukan uji coba penanaman padi perdana menggunakan metode T1P4K (Tipak) atau tanam sekali panen empat kali di Kabupaten Cirebon, belum lama ini. Program ini digagas sebagai langkah awal menurunkan angka kemiskinan yang paling banyak berasal dari sektor pangan.

Kepala BP Taskin Budiman Sudjatmiko mengatakan, sektor pertanian masih menjadi penyumbang terbesar terhadap jumlah penduduk miskin di Indonesia. Berdasarkan data BP Taskin, lebih dari 40 juta angkatan kerja nasional masih bergantung pada pertanian, namun tingkat kesejahteraan mereka masih rendah.

“Sektor pangan adalah sektor yang paling banyak memproduksi kemiskinan. Padahal sebagian besar rakyat kita hidup dari situ,” ujar Budiman, Senin (13/10/2025).

Tingkatkan Produktivitas Tanpa Perluas Lahan

Budiman menjelaskan, akar kemiskinan petani tidak hanya disebabkan produktivitas yang rendah, tetapi juga lemahnya koordinasi rantai pasok dan ketidakteraturan distribusi hasil panen.

Selama ini, banyak petani panen bersamaan di berbagai daerah, menyebabkan kelebihan pasokan dan anjloknya harga gabah di pasar. Akibatnya, meski bekerja keras, pendapatan petani tidak meningkat secara signifikan.

Melalui metode T1P4K, BP Taskin menawarkan solusi produktivitas berkelanjutan tanpa perlu memperluas lahan. Dalam sistem ini, lahan yang sama dapat digunakan hingga empat kali panen dalam satu siklus tanam.

“Produktivitas harus ditingkatkan tanpa harus ekstensifikasi. Tanam cukup sekali, tapi bisa panen empat kali. Dengan begitu, petani bisa memperoleh hasil lebih besar dengan lahan yang sama,” jelas Budiman.

Koperasi Multi Pihak dan Digitalisasi Pertanian

Untuk memperkuat sistem distribusi dan memperbaiki tata niaga hasil pertanian, BP Taskin membentuk Koperasi Multi Pihak (KMP Taskin). Koperasi ini menghubungkan seluruh pelaku ekosistem pangan, mulai dari petani, penggilingan padi, pengelola gudang, hingga konsumen seperti restoran dan rumah tangga.

Berita Lainya: Kurma Tumbuh di Sukabumi, Petani Muda Buktikan Mitos Itu Salah | Dari Ibadah ke Inovasi, Petani Muda Indonesia Tanam Kurma Demi Masa Depan

Budiman menggambarkan sistem ini sebagai upaya menjaga agar nilai ekonomi tetap berputar di antara anggota koperasi.

“Kami ingin uang petani tetap berputar di antara mereka sendiri, seperti memindahkan uang dari dompet kanan ke dompet kiri,” ujarnya.

Untuk mendukung transparansi dan koordinasi, KMP Taskin menggunakan dua platform digital, yaitu Tandur.id dan Asupan.

  • Tandur.id digunakan untuk mengatur jadwal tanam, jenis bibit, serta waktu panen agar tidak terjadi surplus produksi.
  • Asupan berfungsi menghitung pembagian keuntungan koperasi berdasarkan data produktivitas digital dari setiap petani.

“Digitalisasi menjadi kunci agar semua pihak terhubung. Data produktivitas petani kami catat secara transparan lewat aplikasi, sehingga pembagian hasil usaha lebih adil dan terukur,” terang Budiman.

Dari Cirebon untuk Model Nasional Pengentasan Kemiskinan

Uji coba metode Tipak dilakukan di lahan seluas 26 hektare di Desa Pasalakan, Kabupaten Cirebon, dengan melibatkan lebih dari 500 petani miskin. BP Taskin menargetkan perluasan program ini hingga 7.000 hektare di Jawa Barat pada akhir tahun 2025.

Dari total sekitar 700.000 hektare lahan pertanian di provinsi tersebut, Budiman berharap sebagian besar dapat terintegrasi dalam ekosistem KMP Taskin.

“Kami ingin menunjukkan bahwa pengentasan kemiskinan paling cepat dilakukan lewat sektor pangan. Jika pertanian efisien dan saling terhubung, petani bisa kaya tanpa harus meninggalkan sawahnya,” tutupnya.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *