Petikhasil.id, SUKABUMI – Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat adat Ciptagelar di Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, masih teguh memegang nilai-nilai leluhur yang diwariskan ratusan tahun. Desa yang berada di ketinggian 800 hingga 1.200 meter di atas permukaan laut ini menjadi contoh nyata bahwa kemajuan dan tradisi bisa berjalan beriringan.
Penelitian dari Jurnal Administrasi dan Bisnis Indonesia (Undiksha, 2021) menyebutkan, masyarakat Ciptagelar menjadikan padi bukan sekadar bahan pangan, melainkan simbol spiritual dan kesejahteraan. Setiap proses dari menanam hingga panen dilakukan dengan tangan sendiri tanpa mesin modern. Bagi mereka, menanam padi bukan hanya soal hasil, tetapi juga penghormatan terhadap alam dan leluhur.
Berita Lainya: Macan Tutul Masuk Area Hotel Bandung, Pengingat tentang Keseimbangan Alam dan Lahan Pertanian | Dedi Mulyadi di Garut: Dorong Pertanian Terintegrasi, Bansos Berbasis Kerja, dan Mental “Pemberi”
Ritual adat seperti Seren Taun tetap menjadi pusat kehidupan sosial. Tradisi tahunan ini menjadi ungkapan rasa syukur atas hasil bumi dan momentum mempererat hubungan antarwarga. Di saat desa lain berlomba mengadopsi mekanisasi pertanian, Ciptagelar justru menunjukkan bahwa kesetiaan pada tradisi bisa menjadi bentuk keberlanjutan.
Ketika Teknologi Menyatu dengan Adat
Ciptagelar bukan komunitas yang menolak kemajuan, melainkan menyeleksi teknologi agar selaras dengan nilai budaya mereka. Salah satu contohnya adalah CIGA TV, televisi komunitas yang sepenuhnya dikelola warga. Programnya menayangkan berita lokal, kegiatan adat, hingga dokumentasi pertanian.
Dalam Jurnal Administrasi Bisnis dan Inovasi (Undiksha, 2023), media ini disebut berperan penting dalam menjaga komunikasi sosial dan memperkuat pendidikan budaya generasi muda di pedesaan.
Selain itu, warga Ciptagelar juga memanfaatkan teknologi listrik mikrohidro, yang dibangun secara mandiri dengan memanfaatkan aliran sungai di sekitar desa. Sumber energi ini menyediakan listrik tanpa merusak alam, menjadi contoh bagaimana teknologi sederhana bisa mendukung kemandirian energi di wilayah adat.
Pendekatan ini membuktikan bahwa teknologi tidak harus memutus tradisi. Di Ciptagelar, kemajuan hadir dalam bentuk yang sesuai dengan kebutuhan dan nilai hidup masyarakatnya.
Arsitektur dan Filosofi Hidup Ramah Alam
Bangunan rumah adat Ciptagelar menjadi cermin pengetahuan ekologis leluhur yang sangat maju. Berdasarkan riset Jurnal Mahasiswa Arsitektur Universitas Brawijaya (2022), desain rumah menggunakan prinsip bioklimatik: memanfaatkan sirkulasi udara alami, bahan bangunan dari kayu dan bambu, serta atap ijuk yang mampu menahan panas sekaligus menjaga kelembapan.
Pendekatan ini menciptakan rumah yang sejuk tanpa alat pendingin dan minim penggunaan energi, jauh sebelum konsep “green architecture” populer di dunia modern. Filosofi dasarnya sederhana: hidup harus seimbang dengan alam, tidak lebih dan tidak kurang.
Di sinilah kekuatan Ciptagelar menjaga akar tradisi tanpa menutup diri dari perubahan. Masyarakatnya hidup di dua dunia: menghormati masa lalu, namun tetap menatap masa depan dengan cara mereka sendiri. (Vry)






