Petikhasil.id, KABUPATEN BANDUNG — Bagi sebagian orang, bertani hanyalah pekerjaan untuk mencari nafkah. Namun bagi Yusef, petani muda asal Ciwidey yang sukses membudidayakan melon premium Intanon RZ, bertani adalah filosofi hidup. Ia menyebut bahwa merawat tanaman sama seperti membesarkan anak penuh kesabaran, konsistensi, dan cinta.
“Setiap hari saya perhatikan tanaman seperti anak sendiri. Kalau ada yang layu, saya cari tahu kenapa. Kalau ada yang kurang nutrisi, saya segera perbaiki. Harus sabar, disiplin, dan telaten,” ujar Yusef saat ditemui tim Petik Hasil di greenhouse miliknya, Sabtu (20/07/2025).
Dari Gagal Panen Jadi Guru Kehidupan
Perjalanan Yusef tidak selalu manis seperti rasa melon hasil panennya. Ia sempat mengalami tiga kali kegagalan saat pertama kali menanam di ketinggian 1.200 mdpl salah memilih benih, terserang jamur embun tepung, dan gagal panen karena pemangkasan yang keliru.
Namun bukannya menyerah, Yusef justru menjadikan kegagalan itu sebagai guru. Ia belajar dari setiap kesalahan mulai dari mengenali karakter benih hingga memahami keseimbangan air dan nutrisi. “Kalau gagal, bukan berarti salah jalur. Kadang alam cuma lagi ngajarin kita lebih peka,” katanya sambil tersenyum.
Kini, di bawah naungan Al Mahasil Farm, Yusef berhasil menciptakan kualitas melon dengan kadar kemanisan stabil di 12–13 brix. Jaring netting di kulitnya terbentuk sempurna tanda buah tumbuh sehat dan matang sempurna. Bagi Yusef, kepuasan terbesar bukan hanya ketika panen berhasil, tapi ketika melihat kerja kerasnya berubah jadi kebanggaan bagi orang lain.
“Dari kegagalan bisa lahir karya. Bertani itu seni. Harus sabar, konsisten, disiplin, dan penuh ketekunan,” ujarnya.
Berita Lainya: Pelajaran Hidup dari Bertani Melon: Konsistensi dan Sabar | Melon Premium, Pasar Premium: Siapkah Indonesia Bersaing?
Filosofi Bertani yang Jadi Cermin Hidup
Yusef percaya bahwa bertani bukan hanya soal hasil, tapi tentang proses dan nilai hidup yang bisa dipetik darinya. Ia merangkum pengalamannya dalam empat prinsip sederhana:
1. Kesabaran adalah kunci.
Tidak ada hasil instan dalam pertanian. Semua butuh waktu, ketekunan, dan perhatian setiap hari.
2. Konsistensi membawa hasil.
Rasa manis melon lahir dari kesetiaan terhadap jadwal pemupukan dan pengairan, bukan dari keberuntungan.
3. Disiplin menentukan kualitas.
Jadwal penyiraman, pemangkasan, hingga kebersihan greenhouse harus dijaga seperti jam tangan Swiss.
4. Tidak bisa sendiri.
Bertani, kata Yusef, adalah kerja kolaborasi antara manusia, alam, teknologi, dan komunitas petani.
Melalui filosofi ini, Yusef ingin menunjukkan bahwa menjadi petani bukan profesi kelas dua. Dengan ketulusan, inovasi, dan sentuhan teknologi, bertani bisa menjadi sumber kebanggaan sekaligus karya yang bernilai tinggi.
“Kalau kita rawat dengan hati, hasilnya akan terasa manis. Sama seperti anak, kalau dibesarkan dengan cinta, ia akan tumbuh dengan baik,” tutup Yusef.
Untuk melihat perjalanan lengkap Yusef dan tim Al Mahasil Farm, saksikan video dokumenter Jejak Manis di Ketinggian: Greenhouse Melon Ithanon Ciwidey di kanal YouTube Petik Hasil.***






