Petikhasil.id, BANDUNG — Dunia jamur konsumsi makin diminati. Dua jenis yang paling populer di kalangan petani pemula adalah jamur tiram (Pleurotus ostreatus) dan jamur kuping (Auricularia polytricha). Keduanya mudah dibudidayakan, tapi punya karakter dan margin usaha berbeda.
Modal Kecil, Panen Cepat
Jamur tiram cocok untuk pemula karena waktu panen cepat: hanya 40–45 hari setelah baglog (media tanam) disusun. Satu baglog seharga Rp2.000–Rp2.500 bisa menghasilkan hingga 1 kg jamur segar. Harga pasar jamur tiram di Bandung berkisar Rp15.000–Rp18.000 per kg.
Sementara jamur kuping butuh waktu lebih lama, sekitar 70–80 hari, tapi lebih tahan lama dan punya pasar ekspor terutama ke Tiongkok. Harga jualnya lebih tinggi, mencapai Rp35.000–Rp40.000 per kg kering.
Berita Lainya: Suung: Jamur Liar Musim Hujan yang Jadi Hiburan Anak Desa, Kini Bernilai Gizi Tinggi | Oncom Bandung: Fermentasi yang Tak Sekadar Sisa
Menurut Dinas Pertanian Jabar (2024), rasio keuntungan budidaya jamur tiram mencapai 35% per siklus, sedangkan jamur kuping bisa mencapai 50% bila dikelola dengan pengeringan optimal.
“Kalau mau cepat balik modal, mulai dari tiram dulu. Tapi kalau mau main ekspor, jamur kuping lebih menjanjikan,” ujar Sinta, pelaku usaha jamur di Cisarua.
Keduanya sama-sama bisa dibudidayakan di rumah dengan sistem rak bambu, media serbuk kayu, dan kelembapan 85–90%. Yang terpenting adalah disiplin sanitasi dan rotasi baglog agar produksi stabil.***






