Konsistensi Itu Segalanya Rahasia Kandang Kelinci Tetap Produktif

PetikHasil.id, BANDUNG — Bagi Yoga Tri Herlambang, peternak kelinci asal Lembang, memelihara kelinci bukan soal ras impor atau lokal, melainkan soal konsistensi. Jadwal pakan, kebersihan kandang, hingga pemberian vitamin rutin harus dilakukan dengan presisi.

“Tantangannya justru menjaga ritme. Kalau manajemen kandang goyah, hasil ikut goyah,” tutur Yoga saat ditemui Petik Hasil di peternakannya yang berlokasi di dataran tinggi Lembang.

Sejak 2016, Yoga mengelola peternakan skala menengah dengan 70 ekor indukan kelinci berbagai ras: New Zealand White, Rex, dan Lop. Produksinya mencakup kelinci pedaging, kelinci hias, dan pupuk organik dari limbah kotoran yang diolah menjadi kompos.

Bagi Yoga, kunci keberhasilan bukan pada ras, tetapi pada disiplin harian. “Kelinci itu sensitif. Kalau satu hari lupa kasih makan tepat waktu atau kandang kotor, bisa stres dan nggak mau kawin,” ujarnya.

Satu Kunci, Banyak Dampak

Di kandangnya, Yoga menerapkan tiga prinsip utama:

  1. Jam pakan yang disiplin, dua kali sehari dengan kombinasi hijauan segar (daun wortel, sawi, dan rumput gajah mini) serta pellet protein.
  2. Kebersihan kandang harian, mencakup grooming, pemotongan kuku, pembersihan alas kawat, dan pengecekan jamur kulit.
  3. Pencatatan rutin untuk pemberian obat, vitamin, dan vaksinasi.

Praktik sederhana ini terbukti menekan stres, meminimalkan penyakit, dan menjaga performa reproduksi. Menurut Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH, 2023), tingkat mortalitas kelinci akibat stres lingkungan dan infeksi kulit bisa ditekan hingga 40% dengan penerapan biosekuriti dan sanitasi kandang yang baik.

“Saya punya catatan sendiri, setiap kali ada gejala jamur atau luka, langsung isolasi dan catat. Dari situ kita tahu pola penyakitnya,” tambah Yoga.

Tantangan Kesehatan: Dari Scabies hingga RHD

Salah satu penyakit umum yang sering menyerang kelinci di Indonesia adalah scabies atau mange, yang disebabkan tungau Sarcoptes scabiei. Menurut Jurnal Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (2022), infeksi ini mudah menular melalui kontak langsung dan lingkungan kandang lembap.

Pengobatan dengan injeksi ivermectin atau salep topikal terbukti efektif, namun kuncinya ada pada deteksi dini dan sanitasi yang konsisten. Yoga juga waspada terhadap ancaman penyakit baru. Pada 2022, Indonesia mencatat temuan pertama Rabbit Hemorrhagic Disease (RHD) di wilayah Lembang, Jawa Barat.

Temuan ini diumumkan oleh Balai Besar Veteriner (BBVet) Subang dan Direktorat Kesehatan Hewan Kementan setelah mendeteksi sampel positif virus RHDV-2 penyakit mematikan pada kelinci yang sebelumnya hanya ditemukan di Eropa dan Australia.

Data dari BRIN (2023) menunjukkan bahwa tingkat kematian akibat RHD bisa mencapai 70–90%, dengan gejala utama pendarahan di organ dalam dan kematian mendadak tanpa tanda awal. Meski hingga kini kasus masih terbatas, Kementan menekankan pentingnya biosekuriti, desinfeksi rutin, serta pembatasan keluar-masuk hewan di area peternakan.

“RHD itu bukan cuma penyakit, tapi pengingat agar peternak jangan abai sama kebersihan,” ujar Yoga. “Kalau kita jaga lingkungan, kelinci juga tenang.”

Konsistensi yang Berbuah Produktivitas

Yoga mencatat, satu indukan kelinci betina bisa melahirkan 5–8 anak per siklus, dan dalam kondisi ideal bisa beranak hingga enam kali setahun. Dengan perawatan konsisten, tingkat keberhasilan sapih di peternakannya mencapai 85% di atas rata-rata nasional 70% berdasarkan data Ditjen PKH (2024).

Ritme kerja kandang diatur ketat: pakan pagi pukul 07.00, pembersihan pukul 09.00, pemeriksaan kesehatan sore hari, dan lampu malam untuk menjaga suhu tetap 20–25°C. “Kalau kita anggap ternak ini hobi, hasilnya juga hobi. Tapi kalau dianggap pekerjaan serius, hasilnya bisa ngidupin keluarga,” katanya sambil tertawa kecil.

Kotoran kelinci diolah menjadi pupuk organik cair (POC) yang kini diminati komunitas urban farming Bandung. Setiap bulan, ia bisa menjual 50–70 liter pupuk cair dengan harga Rp20.000 per liter. Pendapatan tambahan ini membantu menutupi biaya pakan dan vitamin, sekaligus membuat usahanya lebih berkelanjutan.

Pentingnya Pencatatan dan Edukasi Peternak

Selain beternak, Yoga aktif berbagi pengalaman lewat komunitas Kelinci Lembang Sejahtera yang beranggotakan sekitar 40 peternak. Mereka rutin melakukan pelatihan pencatatan produksi dan manajemen penyakit ternak kecil, bekerja sama dengan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Lembang. Pendampingan semacam ini menjadi kunci regenerasi peternak muda di kawasan Bandung Barat.

Menurut BPS 2023, jumlah peternak kelinci di Jawa Barat meningkat 12% dalam tiga tahun terakhir, seiring tren konsumsi daging rendah lemak dan permintaan kelinci hias. Rata-rata produksi daging kelinci nasional mencapai 4.000 ton per tahun, dengan nilai ekonomi sekitar Rp125 miliar. (Kementan, Statistik Peternakan 2024)

“Kita nggak bisa kerja sendiri,” ujar Yoga. “Kalau peternak lain sehat, pasar juga sehat. Jadi penting berbagi ilmu.”

Stabilitas lebih penting daripada skala

Kisah Yoga Tri Herlambang menggambarkan esensi baru dalam dunia peternakan rakyat stabilitas lebih penting daripada skala. Banyak usaha kecil gagal bukan karena kurang modal, tapi karena tidak disiplin menjalankan rutinitas dasar. Biosekuriti, sanitasi, dan pencatatan menjadi tiga pondasi yang kini juga digaungkan oleh Kementerian Pertanian dalam program Peternakan Sehat 2025.

Baca Lainya: Kisah perjalanan Syaiful dari pegawai swasta hingga sukses membangun Rayyan Farm. | Budidaya Ikan Cupang Bandung: Haffiyan Beta Target Jadi Sentra Breeding Warna Solid

Selain menjaga kesehatan ternak, kebersihan kandang dan manajemen pakan presisi juga berperan dalam mengurangi emisi amonia dan limbah cair yang mencemari lingkungan. Menurut BRIN (2023), penerapan sanitasi kandang tertutup dapat mengurangi kadar amonia hingga 45% dibanding sistem terbuka, sehingga lebih ramah lingkungan dan efisien energi.

Dalam konteks ekonomi desa, kelinci menjadi alternatif usaha yang menarik. Dengan modal awal sekitar Rp10 juta untuk kandang, indukan, dan pakan, peternak bisa mencapai break-even point dalam 8–10 bulan. Jika konsistensi dijaga, keuntungan bersih mencapai 20–30% per siklus produksi, terutama jika limbah diolah menjadi produk turunan seperti pupuk organik.

Di dunia peternakan, hasil besar sering lahir dari hal-hal kecil yang diulang terus-menerus. Bagi Yoga, kesuksesan bukan tentang berapa banyak kelinci di kandang, tapi seberapa konsisten ia merawat setiap ekor dengan penuh tanggung jawab.

Dari rutinitas sederhana, lahir keberlanjutan dan dari tangan yang sabar, muncul bukti bahwa ketekunan adalah bentuk cinta paling nyata terhadap pekerjaan dan alam. (Vry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *