Padi Gogo: Terobosan IPB University untuk Produktivitas Lahan Kering

Petikhasil.id, BOGOR – Lahan kering kini bukan lagi alasan untuk tidak menanam padi. Melalui inovasi sistem padi gogo, Fakultas Pertanian IPB University berhasil membuktikan bahwa sawah bukan satu-satunya tempat bagi tanaman padi untuk tumbuh subur.

Dikutip dari laman resmi IPB University, program ini diterapkan di Desa Cibitung Wetan, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, sebagai bagian dari pendampingan Fakultas Pertanian IPB bersama Kelompok Tani Sejahtera dan PT SRI Bogor. Panen perdana yang digelar pada 1 Oktober lalu menghasilkan produktivitas mencapai 3,6 ton gabah kering panen (GKP) per hektare pada lahan seluas satu hektare.

Prof Suryo Wiyono, Dekan Fakultas Pertanian IPB University, menjelaskan bahwa keberhasilan ini ditopang oleh inovasi varietas unggul padi IPB 9G serta penerapan teknologi penyehatan tanah dan tanaman. “Penanaman padi gogo merupakan salah satu program unggulan kami untuk menyebarkan inovasi teknologi pertanian, seperti mikroba tahan hama dan kering, serta metode peramalan cuaca. Kami ingin memastikan teknologi kampus berdampak nyata bagi pertanian dan bangsa,” ungkapnya.

Dari Lahan Tidur Menjadi Sumber Harapan

Sistem padi gogo pada dasarnya dirancang untuk memanfaatkan lahan kering yang tidak memerlukan pengairan intensif seperti sawah. Di Jawa Barat, potensi lahan kering untuk padi gogo diperkirakan mencapai 400.000 hektare. Jika dimanfaatkan secara optimal, teknologi ini bisa menjadi kunci memperluas area tanam padi nasional di tengah keterbatasan lahan irigasi.

Berita Lainya: Harga Beras Premium Naik, Medium Turun Tipis | Indramayu Sumbang 1,39 Juta Ton Padi

Program pendampingan di Cibitung Wetan telah berjalan hampir dua tahun dan terus menunjukkan hasil positif. Budi, Ketua Kelompok Tani Sejahtera, menyebut keberadaan IPB memberi dorongan besar bagi petani lokal. “Dukungan IPB University, khususnya Fakultas Pertanian, masih sangat kami butuhkan untuk menjaga produktivitas dan kualitas hasil panen,” katanya.

Upaya pengembangan padi gogo diharapkan menjadi contoh replikasi bagi wilayah lain di Indonesia yang memiliki kondisi lahan serupa. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS, 2024), sekitar 11 juta hektare lahan kering di Indonesia berpotensi dikembangkan untuk tanaman pangan alternatif—dan padi gogo menjadi salah satu yang paling menjanjikan.

Dengan hasil panen yang stabil dan teknologi ramah lingkungan, padi gogo bukan hanya menjawab tantangan ketahanan pangan, tapi juga membuka jalan bagi petani desa untuk mengubah lahan tidur menjadi sumber harapan baru.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *