Petani Kakao di Desa Watunggong Kini Lebih Sejahtera

Petikhasil.id, JAKARTA – Kakao dan warga Manggarai Timur punya hubungan yang istimewa. Di banyak desa, kakao ditanam turun-temurun, dari generasi ke generasi.

Namun selama bertahun-tahun, perkebunan kakao dikelola seadanya dan dipanen seperlunya. Alhasil, cuan yang diperoleh dari menjual produk kakao tak pernah sungguh-sungguh menyejahterakan para petani, hanya sekadarnya.

Berita Lainya: Dari Semak ke Pasar, Kisah Ciplukan yang Tak Disangka | Kurma Tumbuh di Tepi Samudra Jawa: Kebun 7 Hektare di Sukabumi Siap Jadi Wisata Edukasi

Melihat potensi besar dari komoditas kakao di Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) memutuskan untuk melakukan pendampingan pada 2023. Misi mereka sederhana, tetapi luhur yaitu membuat para petani kakao lebih sejahtera dari pemberian Tuhan melalui alam.

Banyak petani tidak tahu cara menangani hama buah kakao atau melakukan fermentasi yang meningkatkan nilai jual biji saat dipanen. Sering kali, hasil panen hanya berakhir di tengkulak dengan harga jauh di bawah nilai pasar.

Siang yang cerah menyambut Bisnis bersama tim dari YDBA di Desa Watunggong, tepatnya di kediaman Marsun. Senyum semringah tersungging di wajah para petani kakao yang berkumpul di sana.

Marsun yang merupakan koordinator UMKM Kakao binaan YDBA menyampaikan bahwa saat ini ada 18 UMKM aktif yang dibina Astra dengan luasan lahan mencapai sekitar 17 hektare (ha).

“Dari 2023 sampai 2025 ini, UMKM Kakao telah menerima beberapa pelatihan seperti pembukuan sederhana, budidaya sampai dengan pengendalian hama,” ujarnya di Desa Watunggong, Kecamatan Tanarata, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, Rabu (12/2/2025).

Pendampingan tersebut, sambungnya, sangat dibutuhkan oleh para petani kakao karena saat itu kebun yang ada saat ini dalam kondisi kritis karena sudah melewati usia produktif yakni 25 tahun.

“Jadi umur tanaman ini sudah melewati usia produktif, lebih dari 25 tahun. Sehingga produksinya itu bisa dibilang sudah tidak maksimal, sudah diserang hama penyakit,” katanya.

Penyakit yang kerap melanda perkebunan kakao di NTT di antaranya adalah blackpod atau busuk buah, jamur, hingga terserang hama. Pengelolaan yang tepat dapat meminimalisir risiko tanaman terserang penyakit dan hama tersebut.

Kami Tanam, Nanti Tuhan Tolong

Masyarakat Manggarai Timur percaya bahwa Tuhan memberikan manusia banyak anugerah, termasuk tanaman kakao yang bisa tumbuh dan hidup di bumi NTT.

Selama puluhan tahun, para petani kakao lebih banyak berpasrah pada hasil panen yang tidak menentu. Mereka hanya bergantung pada kondisi alam, minim tangan manusia.

Sebelum mendapatkan pendampingan dari YDBA, tak banyak yang bisa dilakukan para petani kakao untuk membuat tanamannya tumbuh optimal. Bukan tidak mau, tetapi tidak tahu caranya.

“Dulu itu hanya tanam kalau tumbuh ya syukur. Kalau bahasa kami itu NTT, nanti Tuhan tolong,” ujarnya.

Marsun mengatakan bahwa setelah dilakukan pembinaan dan pendampingan dari YDBA, hasil panen kakao bernilai lebih tinggi. Biji kakao, katanya, kini laku dijual hingga Rp170.000 per kilogramnya dari sebelumnya hanya di kisaran Rp100.000 hingga Rp150.000.

Lebih lanjut, Marsun juga berterima kasih kepada YDBA karena pendampingan dan pembinaan yang dilakukan berhasil mengubah mentalitas para petani yang semakin mengarah ke wirausaha, selain peningkatan kualitas produk panenan.

Meskipun demikian, budidaya kakao di Desa Watunggong bukan tanpa tantangan. Peremajaan tanaman hingga Harga jual yang fluktuatif menjadi pekerjaan rumah para petani kakao.

Tak patah arang, konsistensi dalam pengelolaan kebun untuk menghasilkan produk berkualitas terus dilakukan para petani. Perubahan paradigma yang semula pasrah pada keadaan menjadi titik balik penting bagi para petani UMKM kakao di sana.

“Jadi sekarang kami berusaha semaksimal mungkin, tentu Tuhan [tetap] menolong,” kata Marsun.

Adapun, menyitat data Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) per 31 Juli 2025, luas areal Tanaman Menghasilkan (TM) Kakao terus meningkat setiap tahun. Pada 2022, luasan areal TM Kakao mencapai 33.134 ha, berkembang menjadi 33.270 ha pada 2023, dan melesat sampai 34.225 ha pada 2024.

Lebih jauh, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kinerja ekspor kakao Indonesia pada 2024 lebih baik dari tahun sebelumnya, dengan volume mencapai 348,09 ribu ton dan nilai sekitar US$2,65 miliar.

Kakao bukan sekadar tanaman bagi para petani di Desa Watunggong, Manggarai Timur, NTT. Lebih jauh, kakao memberikan harapan besar untuk menaikkan taraf hidup menjadi lebih baik. Bahkan, menjadi warisan berharga bagi generasi selanjutnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *