Potensi Wisata Pertanian di Lembang: Menyimak Peran Nabila Farm sebagai Ruang Belajar dan Hiburan

Petikhasil.id, KAB BANDUNG BARAT – Lembang, Kabupaten Bandung Barat, sudah lama dikenal sebagai destinasi wisata populer di Jawa Barat. Sejuknya udara pegunungan, panorama alam hijau, serta beragam objek wisata kuliner dan hiburan menjadikan kawasan ini magnet bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Namun, belakangan muncul tren baru yang tak kalah menarik: wisata pertanian atau agro wisata.

Bukan hanya sekadar rekreasi, wisata pertanian menghadirkan pengalaman edukatif bagi pengunjung. Mereka bisa melihat langsung bagaimana sayuran, buah, hingga bunga ditanam dan dipanen, bahkan ikut belajar cara bercocok tanam. Salah satu contoh agro wisata yang berkembang pesat di kawasan ini adalah Nabila Farm.

Baca lainnya: Petani Paprika Muda Bandung Barat Buktikan Hemat 50% Ongkos Produksi | Jenis Kutu pada Tanaman: Panduan Lengkap, Ciri, Gejala, dan Cara Mengendalikannya

Nabila Farm: Dari Pertanian ke Edukasi

Didirikan pada tahun 2017 oleh almarhum Wahyu, Nabila Farm awalnya hanya fokus pada pertanian hidroponik dan pengembangan buah, khususnya alpukat. Namun seiring waktu, visi farm ini berkembang menjadi lebih luas: tidak hanya menghasilkan produk pertanian, tetapi juga menjadi ruang edukasi dan wisata bagi masyarakat.

“Dari awal, papa punya kegelisahan tentang regenerasi petani. Beliau ingin ada tempat di mana generasi muda bisa belajar pertanian sejak dini,” ungkap Nabila Putri Wahyu, penerus Nabila Farm.

Kini, Nabila Farm tak hanya memproduksi sayuran hidroponik, buah-buahan, dan bunga, tetapi juga membuka diri sebagai destinasi wisata edukasi.

Belajar Pertanian Sejak Dini

Salah satu program andalan Nabila Farm adalah edukasi pertanian untuk anak-anak sekolah. Mulai dari tingkat TK hingga SMA, rombongan pelajar kerap datang untuk belajar hidroponik, menanam sayur, hingga mengenal ragam buah dan bunga.

Dalam satu kunjungan, peserta tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga praktik langsung di lahan. Mereka bisa menanam, menyiram, bahkan membawa pulang hasil kebun. Menariknya, kegiatan ini dikemas menyenangkan lewat fasilitas outbound seperti jembatan goyang di kolam, area bermain, hingga aktivitas kelompok yang seru.

Dengan kapasitas hingga 300–400 orang per kunjungan, Nabila Farm menjadi pilihan banyak sekolah untuk field trip yang sekaligus edukatif.

Diversifikasi Produk Pertanian

Selain jadi tempat belajar, Nabila Farm memperlihatkan langsung bagaimana pertanian bisa berkembang dengan diversifikasi produk.

  • Sayuran hidroponik: selada, bayam, dan jenis sayuran daun lainnya.
  • Buah-buahan: alpukat, jeruk, lemon, hingga stroberi.
  • Bunga dan tanaman hias: kaktus, sukulen, anggrek, bunga matahari, dan lainnya.

Keberagaman ini bukan hanya menarik dari sisi wisata, tapi juga memberikan edukasi tentang pentingnya diversifikasi usaha di dunia pertanian agar lebih berkelanjutan.

Dampak bagi Wisata dan Ekonomi Lokal

Kehadiran Nabila Farm sebagai agro wisata jelas memberikan dampak positif. Pertama, masyarakat bisa lebih mengenal dunia pertanian dengan cara menyenangkan. Kedua, petani lokal terbantu dengan terbukanya pasar langsung ke konsumen. Ketiga, sektor pariwisata Lembang semakin kaya dengan destinasi yang unik dan bernilai edukatif.

Tak heran jika kini Nabila Farm menjadi salah satu destinasi alternatif bagi keluarga yang ingin liburan berbeda di Lembang. Bukan hanya refreshing, tapi juga mendapatkan ilmu dan pengalaman baru.

Filosofi “Menanam adalah Memberi”

Di balik aktivitas wisata dan pertanian, Nabila Farm tetap menjunjung filosofi yang diwariskan pendirinya: “Kalau kita tidak menanam, maka tidak akan ada yang dituai.”

Filosofi ini bukan hanya berlaku di pertanian, tetapi juga kehidupan. Memberi dan berproses dengan konsisten suatu hari akan mendatangkan hasil yang baik.

Nabila Farm membuktikan bahwa pertanian tidak harus selalu identik dengan kotor atau melelahkan. Dengan pendekatan edukasi dan wisata, pertanian bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan sekaligus bermanfaat.

Bagi pengunjung, pengalaman di Nabila Farm bukan hanya sekadar rekreasi, tapi juga kesempatan untuk lebih menghargai proses di balik makanan yang mereka konsumsi setiap hari. Sementara bagi pertanian Indonesia, model seperti ini bisa menjadi inspirasi bagaimana sektor agro bisa berkembang seiring kebutuhan zaman.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *