Petikhasil.id, SUBANG — Fluktuasi harga adalah “ombak besar” minyak atsiri. Nilam pernah menyentuh Rp3,2 juta/kg, kini di kisaran Rp1,6 jutaan; sereh wangi dari Rp70 ribu/ml menjadi ±Rp200 ribu; jahe juga naik-turun. “Kuncinya sabar dan teliti,” kata Asep. Untuk meredam risiko, mereka menjual ke agregator/pt besar di Bogor–Bekasi–Jawa Tengah/Jatim spesifikasi jelas, pembayaran relatif pasti, meski marjin tidak setinggi ekspor langsung.
Berita Lainya: Minyak Atsiri dan Anak Muda: Dari “Tak Bisa Dimakan” ke Bisnis Bernilai | Minyak Atsiri dan Anak Muda: Dari “Tak Bisa Dimakan” ke Bisnis Bernilai
Limbah Jadi Pupuk: Hemat HPP, Tanah Makin Subur
Setelah penyulingan, ampas sereh wangi dibusukkan, dicampur NPK/urea, dijadikan pupuk cair/padat untuk kebun nilam, sereh, dan jahe. Hasilnya, biaya pupuk turun dan tanah membaik. “Limbah kami kembalikan ke kebun. Produksi jahe bagus, sereh bagus, nilam bagus,” jelas Ruslan kepada Petik Hasil.
Berita Lainya: Bisnis Wangi Bernilai Triliunan: Potensi Atsiri Indonesia di Pasar Dunia | Modal Nol, Alat Suling Rakitan: Inovasi dari Kandang Belakang
Siklus tertutup ini menolong arus kas: saat harga turun, kebun tetap produktif dan biaya tetap terkendali. Sirkular, efisien, dan ramah tanah.






