Teknologi Irigasi Canggih AA Kadu, Semi Otomatis Jadi Kunci Keberhasilan Durian Premium

Petikhasil.id, KAB TASIKMALAYA – Tak hanya mengandalkan ketekunan petani, kesuksesan kebun AA Kadu di Tasikmalaya juga ditopang oleh penerapan teknologi pertanian modern. Di bawah kepemimpinan Ariyanto, kebun durian premium ini menggunakan sistem fertigasi semi otomatis, metode pengairan dan pemupukan cerdas yang menjadi salah satu kunci utama keberhasilan AA Kadu menghasilkan durian berkualitas tinggi.

Tantangan Awal: Air Jadi Masalah Utama

Ketika pertama kali mendirikan kebun durian pada tahun 2020, Ariyanto menghadapi tantangan besar kekurangan sumber air. Lahan di kawasan Lehong, Tasikmalaya, tergolong kering dan jauh dari sungai. Untuk mengatasinya, ia harus mengebor empat titik sumur sebagai sumber utama pengairan kebun seluas 22 hektare tersebut.

“Waktu awal, air itu jadi musuh utama. Tapi justru dari situ kita belajar pentingnya teknologi dalam pertanian,” kenang Ariyanto.

Dari pengalaman itu, Ariyanto dan tim kemudian menerapkan sistem fertigasi semi otomatis kombinasi antara penyiraman air dan pemupukan melalui pipa saluran yang diatur sesuai kebutuhan tiap pohon. Berbeda dengan sistem sprinkler otomatis yang menyiram secara merata, fertigasi semi otomatis bekerja dengan penyesuaian manual berdasarkan kondisi tiap tanaman.

“Durian itu unik. Ada yang tumbuh di tanah agak padat, ada yang di lahan gembur. Jadi kebutuhan air dan pupuknya gak bisa disamaratakan,” jelasnya.

Metode ini memungkinkan petani menyesuaikan volume air dan nutrisi berdasarkan umur pohon, ukuran batang, dan kondisi daun. Hasilnya, pertumbuhan lebih stabil dan penggunaan air jauh lebih efisien.

Cara Kerja yang Efisien dan Ramah Lingkungan

Sistem fertigasi di AA Kadu diatur melalui jaringan pipa bawah tanah yang terhubung ke tandon air utama. Setiap baris pohon durian memiliki katup kontrol yang bisa diatur secara manual atau semi otomatis, tergantung kebutuhan harian.

Selain efisiensi air, sistem ini juga menghemat pupuk hingga 30 persen dibanding metode konvensional.
Nutrisi cair langsung diserap akar tanpa terbuang sia-sia, sementara kelembapan tanah tetap terjaga meski di musim kemarau panjang.

“Kalau musim kemarau, sistem ini benar-benar penyelamat. Kita gak perlu siram satu-satu pakai ember lagi,” ujar Ariyanto sambil tersenyum.

Menyesuaikan Kebutuhan Setiap Pohon

Menurut Ariyanto, keunggulan sistem ini terletak pada fleksibilitasnya. Petani bisa mengatur intensitas penyiraman berbeda-beda antara pohon muda dan pohon dewasa. Bahkan, ketika satu barisan pohon menunjukkan gejala kekurangan air atau pupuk, perawatan bisa dilakukan secara spesifik tanpa mengganggu barisan lain.

“Kita pantau langsung dari kondisi daun. Kalau daun mulai kaku, itu tanda dia butuh air. Jadi sistem bisa diatur lebih sering nyiram di area itu,” jelasnya.

Pendekatan ini terbukti efektif menjaga kesehatan pohon, terutama di fase berbunga dan berbuah fase paling krusial dalam budidaya durian. Meski sudah menggunakan sistem semi otomatis, Aryanto menegaskan bahwa peran manusia tetap jadi faktor utama.

Baca lainnya: Aryanto Bangun AA Kadu, Pusat Bibit Durian Unggul dari Tasikmalaya untuk Indonesia | Durian Montong: Raja Buah yang Mengguncang Pasar Lokal dan Ekspor

Teknologi hanya alat bantu, sedangkan pemahaman terhadap karakter tanah dan tanaman tetap harus dimiliki petani.

“Fertigasi membantu kita, tapi mata petani itu tetap sensor paling akurat. Mesin gak bisa ngerasain tanah kering atau lembab seperti tangan manusia,” ujarnya.

Karena itu, para pekerja kebun AA Kadu dilatih untuk mengoperasikan sistem fertigasi sekaligus memahami indikator alami di lapangan dari warna daun, tekstur tanah, hingga aroma lembap di sekitar akar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *