Petikhasil.id, BANDUNG – Banyak petani kecil kini dihadapkan pada pilihan sulit: pakai benih hibrida yang mahal tapi produktif, atau benih open pollinated (OP) yang murah dan bisa disimpan ulang. Pilihan ini menentukan arah biaya dan kemandirian usaha tani mereka.
Menurut data Kementerian Pertanian (2024), harga benih hibrida untuk cabai, tomat, dan jagung bisa 5–10 kali lipat lebih tinggi dari benih OP. Namun, hibrida menawarkan potensi hasil lebih tinggi dan seragam. Di sisi lain, benih OP bisa ditanam ulang tanpa kehilangan karakter induknya, cocok bagi petani kecil dengan modal terbatas.
Berita Lainya: “Greenhouse Hemat 3 Juta: Rangka Bambu + Plastik UV untuk Sayuran Premium” | “Evolusi Pupuk Hayati: Petani Hemat Biaya, Tanaman Makin Tahan Iklim”
Menimbang Biaya dan Stabilitas Panen
Peneliti Balai Besar Tanaman Pangan Bogor, Dr. Eko Purnomo, menjelaskan bahwa benih hibrida unggul pada produktivitas, tetapi tidak stabil bila ditanam ulang. “Petani kecil sering lebih diuntungkan memakai OP karena biaya rendah dan bisa dikembangkan mandiri,” ujarnya.
Sebaliknya, petani di daerah sentra produksi skala besar memilih hibrida demi seragam panen dan waktu jual yang terprediksi. Dalam konteks ketahanan pangan lokal, banyak LSM pertanian kini mengampanyekan kemandirian benih agar petani tidak bergantung pada perusahaan multinasional.






