Evolusi Pupuk Hayati: Petani Hemat Biaya, Tanaman Makin Tahan Iklim

Petikhasil.id, GARUT – Di tengah naik-turunnya harga pupuk kimia, sejumlah petani mulai melirik alternatif yang lebih ramah kantong dan ramah lingkungan: pupuk hayati. Tak hanya menurunkan biaya produksi, bahan biologis berbasis mikroorganisme ini terbukti membuat tanah lebih subur dan tanaman lebih tahan terhadap perubahan iklim ekstrem.

Salah satu petani di Garut, Iwan, mengaku berhasil menurunkan biaya produksi hingga 40 persen sejak beralih ke biofertilizer. “Dulu biaya pupuk bisa tembus Rp7 juta per hektare, sekarang tinggal Rp4 jutaan. Tanaman malah lebih sehat dan tanahnya tidak cepat keras,” ujarnya.

Menurut riset Balai Penelitian Tanah Kementerian Pertanian (2023), pupuk hayati mampu meningkatkan efisiensi serapan hara hingga 25 persen dan menekan kebutuhan pupuk kimia lebih dari sepertiganya. Mikroba aktif dalam pupuk hayati membantu memecah bahan organik, memperbaiki struktur tanah, dan meningkatkan kemampuan akar menyerap air serta unsur hara.

Dari Tanah Mati Menjadi Lahan Hidup

Tanah yang lama bergantung pada pupuk kimia umumnya menjadi miskin mikroba. Akibatnya, struktur tanah menurun dan daya ikat air berkurang. Penggunaan pupuk hayati secara rutin terbukti mampu mengembalikan kesuburan alami tanah.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Suwandi, dalam Focus Group Discussion tentang regenerasi tanah pertanian (2024), menyebut biofertilizer sebagai “revolusi hijau tahap kedua”. Ia menegaskan, ketahanan pangan masa depan tidak cukup berbasis produksi, tapi juga keberlanjutan tanah.

Berita Lainya: “Padi Gogo: Terobosan IPB University untuk Produktivitas Lahan Kering” | “Kenapa Anak Muda Harus Jadi Petani? Suara dari Ladang Melon Ciwidey”

Kini berbagai produk pupuk hayati lokal mulai bermunculan, seperti Biodex, M-Bio, hingga produk mikroba cair buatan petani sendiri. Beberapa kelompok tani bahkan membuat laboratorium mini untuk memperbanyak mikroba pengurai jerami dan rizobium.

Dengan biaya yang lebih hemat dan dampak jangka panjang yang signifikan, pupuk hayati menjadi simbol peralihan paradigma dari pertanian instan ke pertanian regeneratif.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *