Petikhasil.id, BANDUNG — Di balik harum parfum dunia, ada jejak panjang aroma dari Nusantara. Indonesia merupakan salah satu penghasil minyak atsiri tertua di dunia. Catatan sejarah menyebut, sejak abad ke-18, rempah dan tanaman aromatik dari Hindia Belanda sudah diekspor ke Eropa untuk bahan parfum, sabun, dan pengobatan.
Menurut data Kementerian Pertanian (2024), Indonesia kini menempati peringkat keenam dunia sebagai produsen minyak atsiri, setelah India, Tiongkok, dan Madagaskar. Dari 160 jenis tanaman penghasil minyak atsiri yang diketahui secara global, sekitar 40 jenis tumbuh subur di tanah Indonesia.
Berita Lainya: Nilam–Sereh Wangi: SOP Rinci dari Bibit hingga Minyak | Bisnis Wangi Bernilai Triliunan: Potensi Atsiri Indonesia di Pasar Dunia
Dari Pala hingga Nilam: Perjalanan Panjang Minyak Wangi Nusantara
Sebelum istilah “essential oil” populer di pasar modern, masyarakat Nusantara sudah mengenal penyulingan sederhana daun dan batang untuk keperluan ritual dan pengobatan. Pada masa kolonial, minyak pala dari Maluku dan minyak cengkeh dari Jawa menjadi komoditas utama VOC. Setelah kemerdekaan, minyak nilam dari Aceh dan Sumatera Barat mengambil alih pangsa ekspor ke Eropa, disusul sereh wangi dari Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Berita Lainya: Minyak Atsiri dan Anak Muda: Dari “Tak Bisa Dimakan” ke Bisnis Bernilai | Dari 5.000 Bibit Menjadi 500: Jatuh Bangun Petani Nilam Subang
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS, 2023), ekspor minyak atsiri Indonesia mencapai Rp6,2 triliun dengan tujuan utama Amerika Serikat, Prancis, India, dan Singapura. Nilam menyumbang sekitar 60% dari total volume ekspor, sedangkan sereh wangi, pala, dan kenanga melengkapi sisa kontribusi.
Kini, tren global yang beralih ke bahan alami membuka peluang baru. Produk turunan seperti aromaterapi, sabun herbal, hingga minyak relaksasi berbasis atsiri menjadi pasar yang terus berkembang di dalam negeri.






