Petikhasil.id, KAB BANDUNG — Di balik manisnya buah melon premium yang kini banyak digemari masyarakat, tersimpan kisah penuh perjuangan dari seorang petani muda asal Ciwidey, Kabupaten Bandung. Ia membuktikan bahwa di tangan yang tekun dan sabar, lahan dataran tinggi pun bisa melahirkan melon berkualitas tinggi.
Perjalanannya tidak mudah. Sebelum sukses menghasilkan melon Intanon RZ dengan kadar kemanisan 12–13 brix, ia harus melalui tiga kali kegagalan berturut-turut. Namun dari sanalah lahir prinsip yang kini menjadi pegangan hidupnya: bertani bukan sekadar pekerjaan, tetapi proses belajar dan pembuktian diri.
Dari Jeruk ke Melon: Menantang Dingin di 1.200 Mdpl
Sebelum fokus pada melon, ia lebih dulu menanam jeruk dekopon, alpukat, hingga durian. Semua berjalan biasa saja, hingga muncul keinginan untuk menantang hal baru: menanam melon di dataran tinggi Ciwidey, di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut.
Secara umum, melon lebih cocok tumbuh di dataran rendah. Karena itu, banyak orang meragukan keberhasilan ide tersebut. Namun, justru di sanalah tekadnya tumbuh: membuktikan bahwa petani Ciwidey mampu menghasilkan melon premium dari tanah bersuhu dingin.
Tiga Kegagalan yang Mengubah Cara Pandang
Gagal di percobaan pertama karena salah memilih benih. Media tanam yang digunakan terlalu tinggi kadar PPM-nya, menyebabkan bibit gagal tumbuh sehat. Kegagalan kedua datang dari serangan jamur embun tepung, penyakit yang umum menyerang melon di daerah lembap.
Dari situ ia belajar pentingnya sanitasi greenhouse dan manajemen kelembapan. Kegagalan ketiga terjadi karena kesalahan pemangkasan. Ia membiarkan buah tumbuh di cabang ke-15 ke atas, membuat pertumbuhan melambat dan bentuk buah tidak sempurna.
Tiga kali gagal tentu bukan hal mudah. Namun, bukannya menyerah, ia menjadikan setiap kegagalan sebagai pelajaran berharga. Ia mulai memahami bahwa kualitas hasil panen bergantung pada disiplin, ketelitian, dan kesabaran.
Berita Lainya: Teknologi Smart Farming di Greenhouse Melon Ciwidey | Filosofi Bertani Melon: Seperti Merawat Anak Sendiri | Biaya Tinggi Budidaya Melon Premium: Bibit hingga Greenhouse
Kini, melon Intanon RZ dari Ciwidey dikenal karena netting kulitnya yang tebal, rasa manis stabil, dan tekstur renyah. Meski masa tanam di dataran tinggi sedikit lebih lama, kualitasnya justru lebih baik: daun lebih lebar, kulit lebih kokoh, dan daya simpan lebih lama.
Filosofi Bertani: Antara Seni dan Kesabaran
Baginya, bertani adalah bentuk seni. Setiap tanaman diperlakukan seperti anak sendiri dirawat, diperhatikan, dan dijaga dengan penuh cinta.
“Dari kegagalan itu bisa lahir karya. Bertani itu seni. Harus sabar, konsisten, disiplin, dan penuh ketekunan,” ujarnya dalam wawancara bersama Petik Hasil.
Biaya menanam melon premium memang tidak kecil. Untuk 1.000 benih, petani bisa menghabiskan sekitar Rp22,6 juta, belum termasuk pupuk, pestisida ramah lingkungan, dan sistem greenhouse. Namun, harga jual yang mencapai Rp30.000/kg di tingkat petani, bahkan hingga Rp55.000/kg di pasar seperti Yogyakarta, membuat kerja keras itu terbayar lunas.
Lebih dari sekadar keuntungan, kepuasan sejati datang ketika konsumen menikmati hasil kerja kerasnya. “Kebahagiaan terbesar itu saat orang bilang: ‘Wah, manis sekali!’ Itu rasanya luar biasa,” tuturnya.
Budidaya melon di dataran tinggi Ciwidey kini bukan sekadar eksperimen, melainkan bukti bahwa inovasi dan tekad mampu menembus batas geografis. Dari udara dingin, tumbuhlah buah manis yang menjadi simbol kerja keras petani muda Indonesia.***






