Petikhasil.id, BANDUNG – Gerai kopi dan kedai teh di Bandung belakangan “hijau” oleh minuman matcha. Bukan sekadar tren, bubuk teh hijau asal Jepang ini punya sejarah panjang, proses olah yang unik, dan profil gizi yang membuat banyak orang jatuh hati dari penikmat latte dingin sampai mereka yang mencari fokus tanpa deg-degan.
Dari Chanoyu ke Cangkir Bandung
Matcha awalnya bukan minuman gaya hidup, tapi bagian dari upacara teh Jepang (chanoyu) sejak abad ke-12. Menurut catatan sejarah yang dikutip dari Encyclopedia Britannica, bubuk teh hijau dibawa pertama kali ke Jepang oleh biksu Zen Eisai dari Tiongkok, lalu berkembang jadi tradisi minum teh penuh filosofi oleh Sen no Rikyū di abad ke-16. Di Jepang, matcha bukan hanya minum teh, tetapi simbol ketenangan, estetika, dan penghargaan pada proses.
Prosesnya pun berbeda dengan teh hijau biasa. Seperti dilansir oleh Healthline, daun matcha dipayungi dari sinar matahari beberapa minggu sebelum panen agar kaya L-theanine dan klorofil. Setelah itu dipanen menjadi tencha, dikeringkan tanpa difermentasi, lalu digiling dengan batu granit hingga menjadi bubuk super halus. Bedanya dengan teh hijau biasa, matcha tidak diseduh lalu dibuang ampasnya tetapi diminum utuh, sehingga semua nutrisi masuk ke tubuh.
Kandungan Gizi dan Efek “Fokus Tenang”
Kandungan utama matcha adalah katekin (EGCG), kafein, dan L-theanine. Menurut Journal of Nutritional Neuroscience (2017), kombinasi kafein dan L-theanine terbukti membantu meningkatkan fokus dan ketelitian, namun tanpa efek gelisah berlebih yang biasanya muncul saat minum kopi. Itulah mengapa banyak orang merasa lebih “tenang tapi tetap waspada” setelah minum matcha.
Baca Lainya: Teh vs Kopi: Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan? | Sejarah Teh: Dari China Kuno Hingga Jadi Minuman Populer Dunia | Tradisi Minum Teh di Berbagai Negara: Dari Jepang hingga Indonesia
Sementara itu, penelitian yang dikutip dari Journal of Chromatography A menyebutkan kadar antioksidan matcha bisa mencapai 3 kali lipat lebih tinggi dibanding teh hijau biasa, karena seluruh daunnya dikonsumsi. Antioksidan ini berperan melawan radikal bebas, menjaga kesehatan jantung, hingga mendukung metabolisme.
Kenapa Populer di Indonesia?
Selain faktor kesehatan, Bandung jadi pasar subur bagi minuman ini karena kreativitas barista dan kedai lokal. Menu seperti “Dirty Matcha” (campuran matcha dan espresso), es matcha gula aren, hingga matcha oat latte jadi favorit kalangan muda. Rasa pahit-umami khas matcha yang dibalans susu manis gurih membuatnya lebih ramah di lidah lokal.
Menurut International Tea Committee (2022), konsumsi teh hijau global terus meningkat, dan tren ini juga terasa di Indonesia. Bandung sebagai kota dengan kultur nongkrong dan eksplorasi kuliner ikut mendorong popularitas matcha sebagai “minuman fomo” terbaru.***






