Menjaga Ubi Cilembu dan Harapan Petani Sumedang

Petikhasil.id, SUMEDANG — Bagi banyak orang, ubi Cilembu mungkin berhenti sebagai camilan hangat yang dibelah saat masih mengepul. Manisnya keluar pelan-pelan, kadang sampai meleleh seperti madu. Namun bagi Sobandi, 33 tahun, petani sekaligus pengolah ubi di Sumedang, umbi itu adalah kerja sehari-hari yang jauh lebih panjang. Ada kebun yang harus dijaga, cuaca yang sulit ditebak, penyakit tanaman yang datang diam-diam, dan pasar yang terus bergerak dari lokal sampai luar kota.

Sobandi mulai mengenal usaha ini sejak 2011, meski waktu itu ia belum sepenuhnya fokus. Baru pada November 2013, ia benar-benar serius menekuni ubi Cilembu. Sejak itu, ritme hidupnya ikut mengikuti ritme kebun dan permintaan pasar. “Minat pembeli terhadap ubi Cilembu alhamdulillah semakin meningkat,” katanya kepada Petik Hasil, Minggu (29/3/2026). Ia merasakan permintaan datang bukan hanya dari pelanggan tetap, tetapi juga dari pedagang baru dari berbagai daerah di Indonesia.

Baca Lainya: UMKM Sumedang Dibekali Keterampilan Gunakan AI untuk Tingkatkan Daya Saing | Permintaan Eskpor Tinggi, Ubi Cilembu Khas Sumedang Perlu Sistem Modern

Di lapangan, pertumbuhan minat itu membuat kebutuhan pasokan ikut membesar. Sobandi mengaku ubi yang ia jual kebanyakan berasal dari petani lain, karena hasil dari kebun sendiri belum mencukupi. Dalam satu hektare, menurut pengalamannya, produktivitas ubi Cilembu bisa berkisar 17 hingga 30 ton per hektare. Angka itu terdengar besar, tetapi mutu hasil panen tetap menentukan nasib harga. Hari ini, kata dia, bandar membeli ubi grade AB atau super di kisaran Rp8.000 per kilogram. Grade TO berada di sekitar Rp4.500 per kilogram, grade dongdot Rp3.000, grade arben Rp2.500, dan grade gucrak bisa jatuh sampai Rp200 per kilogram. Semua ukuran tetap laku, bahkan ubi yang rusak akibat hama atau penyakit pun masih ada pasarnya, hanya saja dengan nilai yang jauh lebih rendah.

Rasa khas yang membuat nama Cilembu bertahan

Nama besar ubi Cilembu tidak lahir dalam semalam. Ia tumbuh dari kebun-kebun di Sumedang dan dari reputasi rasa yang terus dijaga lintas musim. Kementerian Pertanian mencatat Ubi Cilembu sebagai produk Indikasi Geografis yang memiliki karakteristik lokasi asal yang khas. Wilayahnya terkait dengan daerah perbukitan di Kecamatan Pamulihan, Rancakalong, Tanjungsari, dan Sukasari, Kabupaten Sumedang. Status ini penting karena menegaskan bahwa nama Cilembu bukan sekadar merek dagang, melainkan identitas yang melekat pada wilayah, kualitas, dan karakter produknya.

Bagi Sobandi, kualitas ubi yang baik bisa dikenali bahkan sebelum dibakar. Secara fisik, katanya, ubi yang bagus terlihat mulus, bersih, dan bebas dari serangan hama atau penyakit. Tetapi ujian sesungguhnya muncul saat dibakar. “Ubi yang bagus ketika dibakar mengeluarkan ‘madu’ dan juga manis,” ujarnya. Di sanalah keunikan ubi Cilembu terus bertahan. Bukan hanya karena namanya sudah dikenal, tetapi karena rasa yang dicari pembeli memang lahir dari kualitas umbi yang dijaga sejak di kebun.

Sumedang sendiri punya jejak panjang sebagai daerah penghasil ubi jalar. Dalam Statistik Daerah Kabupaten Sumedang 2012, BPS mencatat produksi ubi jalar naik dari 18.105 ton pada 2009 menjadi 27.620 ton pada 2011. Pada periode yang sama, luas panennya juga meningkat dari 1.377 hektare menjadi 1.880 hektare. Data ini memang bukan angka terbaru, tetapi cukup memberi gambaran bahwa komoditas ini sudah lama menjadi bagian penting dari pertanian Sumedang. Ubi Cilembu tidak tumbuh dari cerita kosong. Ia berdiri di atas tradisi budidaya yang sudah mengakar.

Pasar terus bergerak, kebun justru makin diuji

Di tengah kuatnya nama Cilembu, tantangan di tingkat petani justru belum ringan. Sobandi melihat kualitas dan kuantitas panen saat ini sedikit menurun. Penyebab utamanya, kata dia, adalah curah hujan yang tinggi pada waktu-waktu sebelumnya serta serangan penyakit pada ubi. Ia menyebut kendala paling terasa saat ini adalah cuaca, ketersediaan air untuk budidaya, dan serangan hama penyakit. Dari kebun, masalah-masalah itu langsung terasa ke hasil panen, lalu menjalar ke kualitas, grade, dan harga.

Kondisi ini sejalan dengan catatan Pemkab Sumedang dalam pembahasan pengembangan ubi Cilembu pada November 2025. Pemerintah daerah menyebut produksi petani masih berkisar 15 sampai 20 ton per hektare, dan hanya sekitar 25 sampai 30 persen yang masuk grade ekspor. Sisanya dijual dengan harga yang lebih rendah. Dalam catatan yang sama, kualitas benih yang belum ideal, menurunnya kesuburan tanah, dan minimnya inovasi budidaya disebut sebagai faktor utama yang menahan laju peningkatan mutu ubi Cilembu.

Di sinilah kenyataan pertanian bekerja dengan caranya sendiri. Pasar boleh saja terus membesar, tetapi kebun tidak pernah bisa dipaksa mengikuti irama pasar tanpa dukungan yang cukup. Sobandi merasakan pembeli paling banyak datang dari luar kota, bahkan luar Jawa, termasuk pembeli online lewat marketplace. Itu pertanda bahwa minat terhadap ubi Cilembu masih kuat. Namun permintaan yang naik akan sia-sia jika kualitas panen di tingkat petani terus tertekan oleh cuaca, air, penyakit, dan keterbatasan budidaya.

Harapan petani ada pada ilmu, bukan hanya panen

Di tengah tantangan itu, Sobandi tidak memilih berhenti di urusan jual beli. Ia justru membentuk P4S atau Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya sebagai wadah berbagi informasi dan teknologi, baik dengan petani sekitar maupun pihak luar. Baginya, mengenalkan ubi Cilembu lebih luas harus berjalan beriringan dengan upaya menularkan pengetahuan budidaya. Ada harapan yang lebih besar di balik kerja itu, yakni membuat generasi muda melihat pertanian sebagai jalan hidup yang masih layak dipilih.

Langkah seperti itu terasa penting ketika dukungan dari pemerintah juga mulai bergerak dari beberapa sisi. Pemkab Sumedang pada 2023 menjalin kerja sama dengan PT Petrokimia Gresik untuk mendukung ketersediaan pupuk dan keterjangkauan harga bagi petani ubi Cilembu. Pemerintah daerah saat itu juga menekankan pentingnya peningkatan produktivitas lahan, penggunaan pupuk yang tepat, serta pendampingan lapangan agar mutu tanaman tetap terjaga.

Setahun berikutnya, dorongan itu berlanjut ke arah yang lebih jauh. Pemkab Sumedang menjajaki kolaborasi dengan PT Elevarm untuk mendorong pengembangan ubi Cilembu secara modern dan berorientasi ekspor. Fokusnya bukan hanya penjualan, tetapi juga benih unggul bebas virus, pendampingan budidaya, penguatan pascapanen, dan pembangunan industri olahan berstandar ekspor. Bagi petani, arah seperti ini jauh lebih berarti daripada sekadar seremoni pelepasan produk. Ia menyentuh titik yang selama ini paling rapuh, yakni kualitas dari hulu.

Baca Lainya: UMKM Sumedang Dibekali Keterampilan Gunakan AI untuk Tingkatkan Daya Saing | Permintaan Eskpor Tinggi, Ubi Cilembu Khas Sumedang Perlu Sistem Modern

Sobandi sendiri menyimpan harapan yang sederhana, tetapi kuat. Ia ingin usaha ini terus maju dan berkembang, lalu benar-benar meningkatkan kesejahteraan para petani. Harapan itu terasa masuk akal, sebab yang sedang dijaga di Sumedang bukan hanya satu jenis umbi, melainkan satu ekosistem hidup yang menghubungkan tanah, pengetahuan, pasar, dan masa depan desa. Ubi Cilembu mungkin dikenal karena rasa manisnya. Namun di kebun, yang membuatnya bertahan justru kerja orang-orang seperti Sobandi, yang percaya bahwa pertanian bukan sekadar panen, melainkan warisan yang harus terus dirawat agar tetap memberi hidup. (Vry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *