Petikhasil.id, SUBANG — Pagi di kawasan tambak pesisir Subang selalu dimulai lebih cepat. Sebelum matahari meninggi, para pembudidaya sudah lebih dulu memeriksa air, menebar pakan, dan memastikan kolam tetap dalam kondisi baik. Di tempat seperti ini, keberlanjutan usaha sering bergantung pada hal sederhana: ketersediaan benih yang sehat dan berkualitas.
PT Agrinas Jaladri Nusantara (Persero) menyalurkan 19.500 benih ikan nila salin kepada dua pembudidaya lokal di Kabupaten Subang, Jawa Barat, Senin (11/5/2026). Perusahaan menyerahkan bantuan itu kepada Ade dan Hj. Warsini, dua pelaku budidaya yang selama ini aktif mengelola usaha perikanan di wilayah pesisir tersebut.
Baca Juga: Indramayu Sumbang 32,9% Produksi Perikanan Jawa Barat pada 2025 | PAD Perikanan Cirebon Diproyeksikan Tembus Rp1,2 Triliun
Bagi pembudidaya, benih bukan sekadar awal produksi. Benih menjadi harapan agar kolam tetap hidup, panen terus berjalan, dan dapur keluarga tetap mengepul.
Program ini menjadi bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan yang berfokus pada penguatan sektor perikanan nasional, khususnya bagi masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup dari budidaya ikan.
Nila Salin Punya Peluang Besar
Agrinas Jaladri memilih komoditas nila salin karena ikan ini memiliki potensi ekonomi yang menjanjikan. Nila salin mampu beradaptasi di lingkungan perairan payau, memiliki permintaan pasar yang terus tumbuh, dan bisa menjadi alternatif usaha produktif bagi pembudidaya tambak.
Di wilayah pesisir seperti Subang, pilihan usaha budidaya yang sesuai dengan kondisi air sangat penting. Nila salin membuka peluang baru, terutama ketika pembudidaya membutuhkan komoditas yang lebih stabil untuk menjaga pendapatan.
Bantuan benih ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas tambak, memperkuat keberlangsungan usaha masyarakat sekitar, serta memberi dampak ekonomi yang lebih luas.
Pendampingan Menentukan Hasil
Agrinas Jaladri menjalankan penyaluran bantuan ini bersama Maritim Muda Nusantara yang mendukung penerapan teknis di lapangan. Tim pendamping memantau perkembangan benih agar proses budidaya berjalan optimal, terukur, dan berkelanjutan.
Pendekatan seperti ini penting karena banyak program bantuan berhenti pada tahap penyaluran. Padahal, bagi pembudidaya, keberhasilan justru ditentukan setelah benih masuk ke kolam—bagaimana mereka merawat ikan, menekan risiko, dan memastikan hasil panen benar-benar memberi keuntungan.
Public Relations & CSR Manager Agrinas Jaladri, Viera, mengatakan dukungan terhadap pembudidaya lokal menjadi bagian penting dalam memperkuat sektor perikanan nasional.
“Dukungan terhadap pembudidaya lokal merupakan bagian penting dari upaya bersama dalam memperkuat sektor perikanan nasional. Kami berharap bantuan benih nila salin ini dapat memberikan manfaat nyata bagi peningkatan produktivitas budidaya, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir secara berkelanjutan,” ujarnya.
Tambak Menjaga Ekonomi Pesisir
Di banyak desa pesisir, tambak bukan hanya tempat budidaya ikan. Tambak menjadi ruang bertahan hidup. Dari sana, keluarga membayar biaya sekolah anak, memenuhi kebutuhan rumah tangga, dan menjaga roda ekonomi desa tetap berputar.
Baca Juga: Indramayu Sumbang 32,9% Produksi Perikanan Jawa Barat pada 2025 | PAD Perikanan Cirebon Diproyeksikan Tembus Rp1,2 Triliun
Karena itu, penguatan sektor perikanan tidak cukup hanya berbicara tentang produksi besar atau target nasional. Upaya ini harus menyentuh para pembudidaya kecil yang setiap hari menjaga tambaknya dengan tangan sendiri.
Bantuan benih mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi mereka yang hidup dari air payau dan hasil panen, langkah kecil seperti ini bisa menjaga usaha tetap tumbuh—dan menjaga harapan agar pesisir tetap hidup. (PtrA)






