Petikhasil.id, BANDUNG – Ada ingatan yang selalu kembali ketika Erdika, ABA Farm bicara soal domba. Ia menyebut masa ketika uang tujuh ratus rupiah terasa cukup untuk membeli domba besar, lalu beranjak ke masa ketika lima ratus ribu rupiah masih terasa besar di genggaman. Baginya, ukuran nilai bukan cuma angka, tetapi bagaimana pasar ternak bergerak dari tahun ke tahun.
Erdika mengungkapkan kepada Petik Hasil bahwa pada 2018, ketika ia terjun langsung mengurus domba untuk musim kurban, harga domba besar sekitar tiga juta rupiah sudah dianggap mahal. Ia menegaskan bahwa situasinya kini berubah jauh. Menurutnya, harga minimal domba kurban sekarang sudah menyentuh lima juta rupiah, bahkan sebelum masuk kategori yang benar benar terlihat mewah.
Karakteristik Domba Menentukan Harga Pasar
Kenaikan ini tidak ia anggap sekadar tren musiman. Erdika melihatnya sebagai gabungan dari banyak faktor yang saling menekan. Ia mengaitkan perubahan harga dengan biaya pemeliharaan, alur pasar, dan karakter unik domba itu sendiri. Ia bercerita bahwa sebelum fokus ke domba, ia sempat mencoba usaha di peternakan ayam, pernah punya kandang kemitraan, pernah juga merasakan hilirisasi ayam sampai ikut nyemplung ke pasar. Ia juga pernah mencoba di sapi. Dari pengalaman itulah ia menyimpulkan bahwa domba relatif lebih aman dibanding komoditas lain.
Erdika menjelaskan alasan amannya domba tidak selalu soal biaya produksi, tetapi soal perilaku pasar. Ia mengatakan bahwa pada momen Idul Adha, domba belum punya patokan harga jual yang kaku. Yang menjadi patokan ketat biasanya harga daging di pasar harian. Sementara pada kurban, harga bergerak mengikuti penampilan domba, bobot, dan persepsi pembeli.
Baca Lainya: Makan Sate dan Sop di Tengah Kandang Domba Saat Peternakan Menjadi Meja Makan | Rayyan Farm: Strategi Breeding Domba Garut dan Dorper yang Beri Harapan Baru Petani.
Ia memberi contoh yang terasa nyata. Jika ia punya modal domba tiga juta rupiah untuk kurban, ia bisa menawarkan enam juta rupiah, lalu bisa naik lagi jika tampilan domba bagus dan terlihat mewah. Erdika menyebut bahwa ia bahkan bisa menawarkan delapan juta rupiah dan pembeli bisa saja langsung sepakat. Bagi Erdika, ini menunjukkan satu hal. Domba adalah komoditas yang masih memiliki ruang nilai, selama produk dirawat dan dipresentasikan dengan benar.
Namun ruang nilai ini juga punya sisi gelap. Erdika menyebut ia tidak ingin ada pihak besar yang kelak memonopoli harga. Ia merasa saat ini perusahaan besar belum banyak masuk, dan ia ingin situasi itu tidak berubah menjadi struktur yang menekan peternak kecil. Ia menilai peternak rakyat masih punya ruang bernapas karena permainan harga kurban belum sepenuhnya dikunci oleh sistem tunggal.
Kebijakan Impor daging domba membuat harga anjlok
Erdika juga mengingat satu masa ketika harga domba sempat anjlok. Ia mengaitkannya dengan persaingan terhadap daging impor. Menurutnya, ketika daging impor masuk dengan harga lebih murah, pasar daging bergerak mengikuti harga itu karena barang lokal sulit keluar. Ia melihat impor sebagai ancaman yang bisa membahayakan peternak dalam negeri karena membuat pasar menekan harga dari bawah.
Di titik ini, Erdika tidak sedang bicara teori. Ia sedang bicara trauma kolektif peternak kecil. Ketika harga jatuh, kandang tetap makan. Pakan tetap berjalan. Perawatan tetap butuh tenaga. Maka untuk Erdika, strategi bertahan bukan sekadar menunggu pasar membaik, tetapi memilih komoditas yang ia rasa memberi ruang negosiasi nilai.
Erdika menutup dengan satu kesan yang kuat. Ia merasa domba memberi ruang lebih luas bagi peternak yang disiplin merawat kualitas. Pasarnya masih bisa diajak bicara, selama produk yang dibawa memang pantas dijual pada harga itu.






